Pembelaan dari Sisi HAM hingga Wacana Perundang-undangan

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Selasa, 08 Maret 2016 | 17:03 WIB
Pembelaan dari Sisi HAM hingga Wacana Perundang-undangan
Puluhan perwakilan komunitas LGBT saat diterima oleh Komisioner Komnas HAM, Muhammad Nur Khoiron, beberapa waktu lalu. [suara.com/Bowo Raharjo]

Suara.com - Isu terkait keberadaan kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) belakangan ini kembali ramai dibicarakan di Indonesia. Hal itu terutama berkaitan dengan munculnya berbagai kasus, antara lain seperti dugaan tindak pencabulan terhadap anak lelaki di bawah umur oleh pedangdut terkenal.

Kenyataannya, masih ada banyak orang yang menentang keberadaan LGBT di Indonesia. Sementara di sisi lain, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai bahwa LGBT merupakan fakta yang harus diakui keberadaannya. Makanya, Komnas HAM pun sangat menentang serta senantiasa mencegah adanya diskriminasi terhadap kaum LGBT.

"Tugas pihak Komnas HAM adalah memberikan hak bicara bagi semua orang, baik kaum hetero maupun homoseksual. Mereka mempunyai hak bicara dan mengutarakan pikiran mereka, selama belum berubah ke tindakan kekerasan fisik," ungkap Nur Kholis dari Komnas HAM, akhir Februari lalu.

Diakui, pro dan kontra terhadap keberadaan LGBT di tengah masyarakat, maupun di antara kalangan pemerintahan sendiri, masih terus berlangsung bahkan di era yang kian demokratis dan penuh keterbukaan seperti saat ini. Padahal sebenarnya, sebagaimana dituturkan pengamat sosial, Wisnu Adihartono, LGBT sebenarnya bukanlah hal yang baru di Indonesia.

"Perilaku homoseksual di Indonesia tumbuh dari latar belakang budaya dan sejarah yang panjang dan rumit. Keberadaan LGBT telah ditulis dalam sejarah sebagai bagian dari budaya dan tradisi bangsa Indonesia," ungkapnya, melalui wawancara via e-mail, beberapa waktu lalu.

"Kita dapat melihat contoh komunitas Bissu di Sulawesi Selatan yang dianggap sebagai seorang Hermaphrodite (manusia yang mempunyai dua jenis kelamin yang berfungsi). Mereka dianggap sebagai orang suci dengan kekuasaan untuk berdialog dengan dewa-dewa. Contoh lainnya adalah hubungan cinta antara Warok dan Gemblak dalam tarian Reog di Ponogoro, Jawa Timur," sambungnya, sembari menambahkan bahwa kondisi lantas berubah sekitar tahun 1960-an ketika kemudian orang yang tidak memiliki agama pun ditandai sebagai komunis.

Menurut catatan "Laporan Nasional Indonesia: Hidup Sebagai LGBT di Asia" (2014), perubahan dramatis pada sistem politik Indonesia pada Mei 1998, seharusnya juga membuka pintu bagi gerakan LGBT untuk semakin berkembang. Salah satunya adalah lewat pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia pada bulan Desember 1998 yang secara resmi mengikutsertakan perwakilan dari kaum lesbian, wanita biseksual dan pria transgender (LBT). Dalam kongres tersebut, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPI) menegaskan bahwa orang-orang LGBT secara resmi termasuk Sektor XV, serta bahwa orang LBT pun dapat diberdayakan untuk mengorganisir diri.

Disebutkan juga dalam laporan tersebut bahwa pendekatan yang berbasis HAM menjadi semakin nyata dalam karya banyak organisasi LGBT, baik yang sudah lama maupun yang baru muncul. Hal ini membuka peluang kerja sama lebih lanjut dengan organisasi-organisasi HAM arus utama lainnya. Namun kenyataannya tidak semudah itu, karena setelah berjalan sekian lama, LGBT masih saja dikucilkan dan dianggap sebagai perilaku yang menyimpang di Indonesia.

"Kalau dengan situasi perilaku masyarakat pada saat ini, kami masih merasa tidak nyaman. Tindakan kebencian terhadap LGBT masih seringkali muncul, terutama di social media dan juga berita website," ungkap salah seorang aktivis LGBT, Agustine.

"Kita tidak merasa tertekan menjadi LGBT selama kita diterima. Persoalan dimulai ketika kita mendapat perlakuan buruk," tambahnya.

"Sebetulnya kalau di masyarakat, negosiasi ideologi pun sangat penting. Kita hidup sesuai kebiasaan masyarakat. Di kehidupan pribadi, kita tidak pernah mengurusi hubungan pasangan heteroseksual. Tidak mudah bagi LGBT untuk menerima pendapat hetero lainnya yang berpikiran buruk terhadap kami," ujarnya lagi.

Ketika dimintai pendapat mengenai perlindungan pemerintah terhadap kaum LGBT di Indonesia, Agustine secara tegas mengakui belum adanya kebijakan terkait proteksi.

"Kekerasan pertama sering kali dimulai dari rumah. Di beberapa kasus LGBT, pihak LGBT akan melaporkan tindakan kekerasan ke polisi. Tetapi, ketika ketahuan dia adalah LGBT, polisi sering kali berpihak pada keluarga," tuturnya.

Wisnu Adihartono pun membenarkan situasi ini. Dia mengaku sejauh ini tidak melihat dukungan dari pemerintah terhadap komunitas LGBT.

"Apa yang bisa saya katakan adalah, pemerintah Indonesia telah berhasil menjalankan mekanisme representasi sosial dan sistem kepercayaan gender... Jadi, seksualitas yang baik, normal dan alami, idealnya harus heteroseksual. Sementara hubungan seks yang tidak baik, normal dan tidak wajar, akan diberi label non-heteroseksual," ungkapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

LGBT Sudah Lama Ada di Indonesia

LGBT Sudah Lama Ada di Indonesia

News | Selasa, 08 Maret 2016 | 16:56 WIB

Infografis: LGBT dan Pro-Kontra di Indonesia

Infografis: LGBT dan Pro-Kontra di Indonesia

News | Selasa, 08 Maret 2016 | 16:32 WIB

Terkini

Ngeri! Calon Saksi di PN Jakarta Barat Dikejar dan Dianiaya, Videonya Viral di Medsos!

Ngeri! Calon Saksi di PN Jakarta Barat Dikejar dan Dianiaya, Videonya Viral di Medsos!

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 21:35 WIB

Jadi Mobil Prabowo Selama KTT di Filipina, Maung Garuda Ternyata Diterbangkan Pakai Airbus TNI AU

Jadi Mobil Prabowo Selama KTT di Filipina, Maung Garuda Ternyata Diterbangkan Pakai Airbus TNI AU

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 21:00 WIB

Nyempil di Antara 320 WNA, Satu WNI 'Alumni' Kamboja Jadi CS Judi Online Markas Hayam Wuruk!

Nyempil di Antara 320 WNA, Satu WNI 'Alumni' Kamboja Jadi CS Judi Online Markas Hayam Wuruk!

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 20:01 WIB

Hercules Semprot Amien Rais soal Prabowo-Teddy: Jangan Bicara Kayak Preman Pasar!

Hercules Semprot Amien Rais soal Prabowo-Teddy: Jangan Bicara Kayak Preman Pasar!

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:35 WIB

Menaker Dorong Talenta Muda Jadi Inovator melalui Talent & Innovation Hub

Menaker Dorong Talenta Muda Jadi Inovator melalui Talent & Innovation Hub

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:21 WIB

Operasi SAR Dukono Ditutup! 3 Pendaki Termasuk 2 WNA Ditemukan Tewas Tertimbun Pasir Vulkanik

Operasi SAR Dukono Ditutup! 3 Pendaki Termasuk 2 WNA Ditemukan Tewas Tertimbun Pasir Vulkanik

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:15 WIB

Tolak Ratusan Miliar dari Jenderal demi Setia ke Prabowo, Hercules: GRIB Itu Petarung!

Tolak Ratusan Miliar dari Jenderal demi Setia ke Prabowo, Hercules: GRIB Itu Petarung!

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:17 WIB

Hercules Ngaku Ditawari Jenderal Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo di Pilpres 2024

Hercules Ngaku Ditawari Jenderal Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo di Pilpres 2024

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:13 WIB

Nobar Persija vs Persib: 13 Titik di Jakpus Dijaga TNI-Polri

Nobar Persija vs Persib: 13 Titik di Jakpus Dijaga TNI-Polri

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:01 WIB

Terungkap! Ini Alasan Ahmad  Dedi Lari Hindari Wartawan Usai Diperiksa KPK Kasus Korupsi Bea Cukai

Terungkap! Ini Alasan Ahmad Dedi Lari Hindari Wartawan Usai Diperiksa KPK Kasus Korupsi Bea Cukai

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 16:31 WIB