Pembelaan dari Sisi HAM hingga Wacana Perundang-undangan

Selasa, 08 Maret 2016 | 17:03 WIB
Pembelaan dari Sisi HAM hingga Wacana Perundang-undangan
Puluhan perwakilan komunitas LGBT saat diterima oleh Komisioner Komnas HAM, Muhammad Nur Khoiron, beberapa waktu lalu. [suara.com/Bowo Raharjo]

Saat ditanyakan mengenai hal itu kepada wakil rakyat dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD), jawaban yang diberikan mengindikasikan kenyataan masih sulitnya posisi LGBT. Anggota DPD dari daerah pemilihan Jawa Timur, Emilia Contessa misalnya, mengaku bahwa mereka (DPD) mendukung namun sekaligus juga anti-LGBT. Dia sendiri mengaku merupakan salah satu yang menentang perkawinan atau hubungan sesama jenis.

"Jelas saya menentang. Saya sependapat pada mayoritas. Saya sangat setuju (menentang LGBT). Walaupun di sisi lain, setiap manusia mempunyai hak. Yang saya takutkan, seperti saya seorang ibu, tentu saya sangat khawatir anak saya tidak bias terjaga. Itu yang saya khawatirkan. Terus kemudian bahwa LGBT itu mengkampanyekan diri mereka," tuturnya.

Emilia juga mengatakan bahwa LGBT jelas menyimpang. Tepatnya dia berpendapat, bahwa walaupun tidak membahayakan, namun LGBT jelas menyimpang. Menariknya, hal itu diungkapkannya sembari mengakui bahwa salah satu keponakan laki-laki sepupunya menikah dengan laki-laki di Amerika.

"Saya mau jujur. Salah satu keponakan (lelaki) sepupu saya, dia menikah dengan laki-laki. Tapi dia tinggal di Amerika. Tapi dia sungkan banget ketemu saya. Semua keluarga menemui saya, yang dari Amerika, tapi dia tidak datang. Tapi dia bilang sudah menikah dengan laki-laki. Mereka di Amerika memang dilegalkan," ujarnya.

Pertanyaan yang kemudian juga berkembang adalah apakah kaum LGBT perlu dibuatkan kolom khusus di KTP, sehingga memudahkan untuk memantaunya. Lebih jauh, ada juga wacana dibuatnya undang-undang khusus terkait keberadaan LGBT. Namun terhadap hal ini, Emilia secara tegas menolaknya.

"Nggak usahlah. Itu membuat mereka menjadi semakin diistimewakan,"tukasnya.

Pro-kontra Masyarakat dan Kondisi di Negara Tetangga

Septi Rizky Amelia (23) yang bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan di daerah Senayan City, termasuk salah satu anggota masyarakat yang tegas menyatakan kontra dengan keberadaan dan aktivitas LGBT.

"Saya sih tidak setuju, karena sudah melanggar asusila juga sih jatuhnya. Karena kan emang juga nggak manusiawi juga LGBT. Kan kita udah dikodratin sepasang, dan nggak mungkin kita sejenis," ujarnya, saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

"Menurut saya itu udah penyimpangan (dari) kodratnya manusia. Karena kan manusia itu harusnya berpasang-pasangan. Antara laki-laki dengan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan," ungkap Reza Septian (27), seorang karyawan swasta di Jakarta.

Namun di sisi lain, ada juga warga yang tak mempermasalahkannya, bahkan cenderung memberikan dukungan, terutama dengan pertimbangan hak asasi. Salah satunya adalah Adji Febrizky Tiara, seorang pelajar SMA di Jakarta.

"Jika suka sama suka, ya udah, emang kenapa? Menurut saya, orang-orang yang melarang LGBT karena menurut mereka salah itu aneh. Oke, mereka (boleh) percaya kalau LGBT itu salah. Tapi nggak berarti orang-orang nggak boleh (jadi) LGBT juga," tuturnya.

Salah satu pandangan yang berkembang di masyarakat, terutama untuk yang kontra dengan keberadaan dan aktivitas LGBT adalah pemahaman bahwa LGBT itu menular. Menanggapi hal ini, aktivis LGBT, Agustine, tegas membantah pemahaman yang dinilai keliru tersebut.

"Orientasi seksual itu seluruhnya potensi, datangnya dari hati dan perasaan. Saya tidak percaya orientasi seksual itu menular. Kalau dia seorang hetero dan punya teman gay, ia tidak akan menjurus seperti temannya kan. Jika ia memutuskan untuk mencoba berhubungan sesama jenis karena penasaran, biasanya ia pun akhirnya akan kembali berhubungan dengan lawan jenis," ujarnya.

"Sama juga dengan gay yang dipaksa berkeluarga oleh tekanan keluarga mereka. Setelah mereka menikah dan mempunyai anak, mereka biasanya akhirnya kembali lagi menjadi homoseksual," tambah Agustine.

"Sebuah lembaga survei di Australia mengeluarkan hasil surveinya. Dari 168 pria hetero di Australia, (sebanyak) 148 mengaku pernah punya pengalaman berhubungan sesama jenis hanya karena penasaran dan ingin mencoba. Nah, itu kok bisa tetap jadi hetero? Ketika ditanya mengapa mereka kembali, mereka mengatakan bahwa mereka hanya mencoba dan ternyata tidak cocok dan bukan gay," tuturnya lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI