Siyono Tewas Usai Dijemput Densus, Fatwa: Penguasa Masih Sembrono

Siswanto, Erick Tanjung

Minggu, 03 April 2016 | 11:37 WIB
Siyono Tewas Usai Dijemput Densus, Fatwa: Penguasa Masih Sembrono
Anggota DPD A. M. Fatwa di acara diskusi tentang Ancaman Terorisme dan Stabilitas Daerah di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (3/4/2016). [suara.com/Erick Tanjung]

Suara.com - Kasus yang dialami Siyono, warga Klaten, Jawa Tengah, menyita perhatian serius banyak kalangan. Siyono meninggal dunia setelah dibawa anggota Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri karena dicurigai terlibat terorisme. Saat ini, keluarganya sedang mencari keadilan.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah A. M. Fatwa menilai cara pemerintah, khususnya Polri, sewenang-wenang dalam menangani masyarakat yang masih berstatus terduga teroris. Tindakan tersebut, menurut Fatwa, justru bakal memicu kelompok teroris bertindak semakin radikal.

"Penguasa sekarang tampaknya secara sembrono menghadapi rakyat. Pemerintah, kepolisian main hantam saja, ini malah menyuburkan kelompok radikal semakin ekstrim," kata Fatwa dalam acara diskusi tentang Ancaman Terorisme dan Stabilitas Daerah di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (3/4/2016).

‎Menurut Fatwa kelompok Islam radikal di Tanah Air tak bisa dihadapi dengan cara-cara kekerasan. Terlepas apakah Siyono benar seperti apa yang dicurigai Densus 88, tindakan represif seperti itu justru akan membuat kelompok radikal semakin kuat.

"Kelompok masyarakat yang berpaham ekstrim itu tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Kalau mereka melanggar hukum memang dibenarkan undang undang ditangkap, tapi banyak yang salah paham, main hantam saja," ujar dia.

Fatwa mengingatkan terorisme bersifat laten karena menjadi isu internasional dan nasional. Masalah ini harus ditangani secara cermat. Isu terorisme, katanya, bisa jadi malah jadi proyek pemilik kekuasaan.

"Terorisme ini jadi isu internasional, nasional ‎yang jadi proyek. Benturan antara globalisme ekstrim, Amerika Serikat dan Israel, yang menimbulkan perlawanan nasionalisme agama sehingga membentuk ektrim," ujar dia.

Fatwa mengutip pernyataan anggota parlemen Malaysia, Wan Azizah Wan Ismail -- tokoh oposisi Anwar Ibrahim -- di forum internasional bahwa aksi kelompok terorisme tidak bisa dihadapi dengan serangan kekerasan. Namun, mereka bisa dihadapi dengan pendekatan diplomasi.

"Tapi negara adidaya (seperti AS) justru membiayai untuk memperkuat (tindakan represif negara terhadap terorisme). Akhirnya terjadi salah paham masyarakat dengan pemerintah. ‎Saya khawatir cara-cara intelijen seperti era Orde Lama dan Orde Baru (represif)," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mabes Polri Tak Persoalkan Keluarga Siyono Tolak Uang Duka

Mabes Polri Tak Persoalkan Keluarga Siyono Tolak Uang Duka

News | Jum'at, 01 April 2016 | 20:16 WIB

Perjuangan Ibu Suratmi Ungkap Kematian Suami Usai Dibawa Densus

Perjuangan Ibu Suratmi Ungkap Kematian Suami Usai Dibawa Densus

News | Jum'at, 01 April 2016 | 15:51 WIB

Terkini

Suket Penyetaraan SMA Gibran Tak Sah, Demokrat Pelajari Serius Pertimbangan Hukum MA

Suket Penyetaraan SMA Gibran Tak Sah, Demokrat Pelajari Serius Pertimbangan Hukum MA

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:55 WIB

Komisaris Krakatau Steel Tiba-tiba Mundur

Komisaris Krakatau Steel Tiba-tiba Mundur

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 15:52 WIB

Atasi Tekstur Kasar: 5 Refining Serum untuk Kulit Wajah Mulus

Atasi Tekstur Kasar: 5 Refining Serum untuk Kulit Wajah Mulus

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 15:50 WIB

Putusan MA Gugurkan Suket Ijazah Gibran, Gerindra Segera Rumuskan Sikap

Putusan MA Gugurkan Suket Ijazah Gibran, Gerindra Segera Rumuskan Sikap

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:49 WIB

Soal Potensi PT Djarum Jadi Tersangka Korporasi Kasus Cukai Rokok, Begini Respons Ketua KPK

Soal Potensi PT Djarum Jadi Tersangka Korporasi Kasus Cukai Rokok, Begini Respons Ketua KPK

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:45 WIB

Atasi Burnout Lewat Buku When Your Life Keeps Moving but Your Energy Stops

Atasi Burnout Lewat Buku When Your Life Keeps Moving but Your Energy Stops

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 15:45 WIB

Belasan Karyawan Pabrik Tas Perempuan di Solo Alami Kesurupan, Teriak-teriak Histeris

Belasan Karyawan Pabrik Tas Perempuan di Solo Alami Kesurupan, Teriak-teriak Histeris

Surakarta | Selasa, 03 November 2026 | 15:43 WIB

Presiden Prabowo Bakal Beri Taklimat 400 Calon Pemimpin Masa Depan di Istana

Presiden Prabowo Bakal Beri Taklimat 400 Calon Pemimpin Masa Depan di Istana

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:42 WIB

DPR Siapkan Jalur Cepat Pembentukan UU, Pembahasan Dibatasi Satu Masa Sidang

DPR Siapkan Jalur Cepat Pembentukan UU, Pembahasan Dibatasi Satu Masa Sidang

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:41 WIB

Apakah Polisi Boleh Menyadap Pejabat? Ini Aturan Hukum yang Berlaku di Indonesia

Apakah Polisi Boleh Menyadap Pejabat? Ini Aturan Hukum yang Berlaku di Indonesia

News | Selasa, 03 November 2026 | 15:35 WIB

×