Isu Komunisme Dinilai Hanya Ilusi

Pebriansyah Ariefana | Erick Tanjung | Suara.com

Senin, 16 Mei 2016 | 17:01 WIB
Isu Komunisme Dinilai Hanya Ilusi
Pertemuan Purnawirawan TNI, Ormas Kepemudaan dan Ormas Keagamaan di Jakarta, Jumat (13/6). [suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Tindakan aparat Kepolisian dan TNI yang menangkap warga yang memakai atribut seperti kaos berlambang palu arit dan merazia buku-buku marxisme dinilai terlalu berlebihan. Isu kebangkitan komunisme di tanah air yang dijadikan alasan aparat merupakan seperti khayalan yang jauh dari kenyataan.

Direktur Imparsial, Al Araf menjelaskan komunisme telah runtuh pasca perang dingin antara blok Amerika sebagai negara kapitalis bersama sekutunya melawan Unisoviet (kini Rusia) kelompok komunis. Unisoviet sebagai sentral partai komunis Internasional pun kalah. Negara komunis yang tersisa saat ini hanya segelintir, bahkan Korea Utara dan China juga telah berubah haluan menjadi kapitalis meski partai politiknya komunis.

"Jadi menurut saya komunisme sudah bukan menjadi ancaman yang serius dalam dinamika keamanan di dalam negara. Sehingga jadi berlebihan jika kita masih dalam bayang-bayang komunisme. Pasca Soviet runtuh, komunisme juga sudah runtuh. Jadi bangkitan komunisme adalah sebuah ilusi, masyarakat jangan terjebak dengan ilusi tentang kebangkitan komunisme itu," kata Al Araf di Kantor Staf Presiden, Komplek Istana, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Menurut dia, kasus penangkapan aktivis HAM di Ternate karena mengenakan kaos bertuliskan PKI yang seolah merujuk Partai Komunis Indonesia, padahal tertulis PKI (pecinta kopi Indonesia). Tindakan aparat itu adalah kriminalisasi terhadap warga sipil. Begitu pula dengan pelarangan dan razia buku-buku yang dianggap berbau komunis, hal itu merupakan pengekangan hak warga untuk bebas berekspresi.

"Padahal buku itu menurut konstitusi, masyarakat boleh membaca buku apapun. Ini bagian dari kebebasan berpikir warga negara, tidak boleh dibatasi," ujar dia.

Maka dari itu, lanjut dia, polisi salah kalau memproses secara hukum orang yang membaca buku marxisme atau komunisme. Sebab di kampus orang membaca buku Karl Marx adalah bagian dari akademis, belum tentu orang yang membca buku itu menjadi bagian dari faham komunis. Malah bisa jadi dia mau menkritik ideologi tersebutu, artinya itu bagian dari kebebasan berpikir yang tidak bisa dikriminalisasi.

"Sama dengan kaos, sampai kaos munir yang menolak melawan lupa disita, itu kesalahan," jelas dia.

Isu Komunisme Sebagai Counter Pembongkaran Tragedi 1965

Dia menambahkan, isu komunisme seolah-olah dibangun sebagai bagian dari propaganda menutup mengungkap pelanggaran HAM berat tragedi 1965.

"setiap ada upaya mengungkap kasus kejahatan 1965, selalu ada counter propaganda terkait dengan kebangkitan komunisme. Ini sesuatu yang tidak baik dan tidak sehat. Upaya antisipasi ini dilakukan secara berlebihan dan tidak proporsional, ini terlihat dari keterlibatan tentara di dalamnya," terang dia.

"Seperti beberapa Kodim misalnya ikut serta. Perlu dicatat, tentara setelah reformasi tidak boleh diizinkan melakukan penangkapan karena itu bukan kewenangan dia, apalagi sampai sweeping dan penyitaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Presiden Didesak Tegur Menhan Soal Penyisiran Buku Kiri

Presiden Didesak Tegur Menhan Soal Penyisiran Buku Kiri

News | Minggu, 15 Mei 2016 | 18:04 WIB

Koalisi Sipil: TNI Tak Punya Hak Tangkap Dua Aktivis

Koalisi Sipil: TNI Tak Punya Hak Tangkap Dua Aktivis

News | Sabtu, 14 Mei 2016 | 11:48 WIB

Menhan: Kebebasan Pendapat Tetap Harus Sesuai UU

Menhan: Kebebasan Pendapat Tetap Harus Sesuai UU

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 19:15 WIB

Politisi Nasdem: Penyebaran Ideologi Komunis Perlu Diantisipasi

Politisi Nasdem: Penyebaran Ideologi Komunis Perlu Diantisipasi

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 18:49 WIB

Menkopolhukam dan Menhan Beda Soal Ide Bongkar Kuburan Massal 65

Menkopolhukam dan Menhan Beda Soal Ide Bongkar Kuburan Massal 65

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 18:35 WIB

Goenawan Mohammad: Komunis Internasional Sudah Mati

Goenawan Mohammad: Komunis Internasional Sudah Mati

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 18:07 WIB

Penolakan Razia Buku dengan Alasan Sebar Komunisme Terus Meluas

Penolakan Razia Buku dengan Alasan Sebar Komunisme Terus Meluas

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 17:39 WIB

Yapto Kritik Intelijen: Warning Alert, Tidak Bekerja

Yapto Kritik Intelijen: Warning Alert, Tidak Bekerja

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 17:07 WIB

Apakah PKI Akan Kembali Berdiri? Ini Jawaban Ilham Aidit

Apakah PKI Akan Kembali Berdiri? Ini Jawaban Ilham Aidit

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 16:57 WIB

Menhan: Bongkar Kuburan Korban 1965 Bisa Picu Kemarahan

Menhan: Bongkar Kuburan Korban 1965 Bisa Picu Kemarahan

News | Jum'at, 13 Mei 2016 | 15:58 WIB

Terkini

Xi Jinping Ancam Donald Trump Perang Terbuka Jika AS Terus Ikut Campur Urusan Taiwan.

Xi Jinping Ancam Donald Trump Perang Terbuka Jika AS Terus Ikut Campur Urusan Taiwan.

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:48 WIB

Asep Edi Suheri Naik Pangkat Komjen, Kapolda Metro Jaya Kini Dijabat Jenderal Bintang Tiga!

Asep Edi Suheri Naik Pangkat Komjen, Kapolda Metro Jaya Kini Dijabat Jenderal Bintang Tiga!

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:40 WIB

Warisan Mao Zedong! Fakta Great Hall of the People yang Jadi Lokasi Pertemuan Trump-Xi

Warisan Mao Zedong! Fakta Great Hall of the People yang Jadi Lokasi Pertemuan Trump-Xi

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:33 WIB

Daftar Pengadaan Mewah di Sekolah Rakyat: Sepatu sampai Bingkai Foto Prabowo Bernilai Miliaran

Daftar Pengadaan Mewah di Sekolah Rakyat: Sepatu sampai Bingkai Foto Prabowo Bernilai Miliaran

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:33 WIB

Apa Itu Thucydides Trap? Konsep Geopolitik yang Bikin Trump Terdiam di Depan Xi Jinping

Apa Itu Thucydides Trap? Konsep Geopolitik yang Bikin Trump Terdiam di Depan Xi Jinping

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:26 WIB

Bohong atau Fakta? Klaim Netanyahu Kunjungi UEA Secara Rahasia Picu Kehebohan Ini di Tengah Perang

Bohong atau Fakta? Klaim Netanyahu Kunjungi UEA Secara Rahasia Picu Kehebohan Ini di Tengah Perang

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:24 WIB

Mensos Nonaktifkan 2 Pejabat Terkait Dugaan Maladministrasi Pengadaan Sekolah Rakyat

Mensos Nonaktifkan 2 Pejabat Terkait Dugaan Maladministrasi Pengadaan Sekolah Rakyat

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:24 WIB

Xi Jinping Blak-blakan Soal Ancaman Perang AS-China Trump Diam 1000 Bahasa

Xi Jinping Blak-blakan Soal Ancaman Perang AS-China Trump Diam 1000 Bahasa

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:18 WIB

Amerika Siap-siap Macet Parah di Piala Dunia 2026 karena Ini

Amerika Siap-siap Macet Parah di Piala Dunia 2026 karena Ini

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:10 WIB

Tak Cukup Minta Maaf usai Merokok dan Main Gim saat Rapat, Anggota DPRD Jember Harus Diberi Sanksi

Tak Cukup Minta Maaf usai Merokok dan Main Gim saat Rapat, Anggota DPRD Jember Harus Diberi Sanksi

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:10 WIB