Menko Polhukam: Ancaman terhadap Negara Semakin Beragam

Arsito Hidayatullah

Kamis, 23 Februari 2017 | 07:07 WIB
Menko Polhukam: Ancaman terhadap Negara Semakin Beragam
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto saat menghadiri rapat Dewan Pertimbangan MUI di Jakarta, Rabu (18/1/2017). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Wiranto mengatakan, Indonesia harus memperkuat pertahanan keamanannya, karena ancaman terhadap negara saat ini sudah berubah dan beragam.

"Di era globalisasi saat ini, ancaman terhadap negara sudah semakin beragam, pertahanan semesta menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan keamanan nasional," kata Wiranto dalam kuliah umumnya di Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Wiranto memberikan kuliah umum dihadapan ratusan mahasiswa dan dosen Unhan dengan tema "Bela Negara dan Keamanan Nasional Untuk Keselamatan Bangsa".

Menurut Politisi Partai Hanura ini, perkembangan teknologi saat ini membuat masyarakat semakin kritis, melalui penggunaan internet. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, karena pola ancaman juga ikut berubah seiring perubahan zaman.

Ia mengatakan pada saat menjabat sebagai Menkopolkam di era Presiden Soeharto, situasi keamanan di negara berbeda dengan era sekarang saat dirinya menjabat sebagai Makopolhukam.

"Ada perbedaan indikator, contohnya pengguna handphone di Indonesia dulu hanya 23 juta, tapi sekarang ada 340 juta. Padahal jumlah penduduk hanya 230 juta jiwa," katanya.

Menurut dia, perkembangan teknologi di masyarakat membuat tugas Menkopolhukam menjadi lenih banyak, karena urusan politik, hukum dan keamanan berhubungan langsung dengan individu manusia.

Fenomena saat ini, lanjutnya, media sosial yang bebas digunakan membuatnya sulit dilacak.

Wiranto menyebutkan, dalam konstelasi global, setiap negara melakukan kerja sama dengan negara lain, baik secara bilateral, multilateral dan konteks lainnya.

"Secara formal setiap negara melakukan kerja sama, tapi apakah kerja sama itu tulus dan total," katanya.

Presiden Joko Widodo, lanjutnya, dalam pertemuan tingkat ASEAN menyampaikan walau secara formal mereka menjalin kerja sama, tetapi setiap negara saling bersaing untuk mengamankan dan melindungi warga negaranya.

"Hubungan antar negara esensinya adalah persaingan. Negara harus melihat ancaman itu ada, tidak ada yang tidak ancaman. Ancaman terhadap negara ditentukan banyak faktor, banyak jurusan yang mengancam keselamatan negara," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, hakekat ketika ancaman datang, negara sudah bertindak melakukan operasi intelijen, lalu mengantisipasi dengan operasi Yuda.

Dikatakannya, sistem pertahanan Indonesia harus berubah semakin kuat. Belajar dari pengalaman perang melawan penjajahan, saat awal terbentuknya TNI, banyak warga yang ikut berperang tetapi tidak dapat tertampung sebagai tentara nasional karena terbatasnya sarana prasarana.

Solusi yang dilakukan, lanjutnya, dengan memanfaatkan peninggalan Belanda. Dan hingga kini banyak di antara markas TNI menempati bangunan peninggalan VOC.

Namun, lanjutnya, strategi VOC membangun benteng-benteng bukan untuk pertahanan, tetapi untuk urusan dagang. Benteng dan gedung pertahanan dibangun di lokasi perkebunan dan pabrik.

Menurut Wiranto, memperkuat pertahanan harus dilakukan dari dalam dan juga ke luar. Karena ancaman sudah berubah dinamis, invasi tidak lagi dari satu negara ke negara lain.

Invasi itu tidak mahal tapi mempertahankan kependudukan atas satu wilayah itu yang mahal. Jadi tidak efisien lagi, maka bentuk perang secara sudah berbeda. Ada 'proxy war', dari ancaman tradisional menjadi perang konservatif dan non konservatif.

"Ancaman sudah bergama, kapitalisme, terorisme, ilegal loging, narkoba, ini ancaman baru yang cakupannya luas dan langsung menyerang penduduk kita. Belum lagi hoax," katanya.

Wiranto mengingatkan, perlu dibuat pertahanan yang statis. Konsep pertahanan harus berubah dari sekarang. Perubahan jangan dijadikan tabu atau sesuatu yang haram untuk dilakukan.

"Perubahan itu perlu, untuk mengubah konsep pertahanan yang tertinggal menjadi yang baru," katanya.

Ia menyampaikan, ketika Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan dari pinggiran, menunjukkan pemerintah telah menyadari ancaman yang sudah berubah, maka sistem pertahanan juga perlu diperkuat keluar.

"Seharusnya Indonesia dengan batas wilayah terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, harus lebih kuat menjaga pertahanan wilayah perbatasan. Jangan seperti saat ini wilayah perbatasan kita telanjang," katanya.

Wiranto menambahkan, sistem pertahanan wilayah perbatasan jangan hanya kuat di dalam tetapi perlu diperkuat hingga bagian terluar. Seperti Allah menciptakan segala sesuatu memiliki perlindungan, sepertu telur, durian dan manggis.

"Begitupun Indonesia harus kuat di dalam dan luar. Ada konsep baru pertahanan dengan penataan kembali gelar pasukan digabungkan dengan pembangunan nasional. Karena ada perubahan ancaman yang multi nasional. Maka pertahanan yang sudah digagas, adalah pertahanan semesta," katanya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Menkopolhukam Bentuk Satgas Melawan Propaganda

Menkopolhukam Bentuk Satgas Melawan Propaganda

News | Kamis, 16 Februari 2017 | 13:06 WIB

Wiranto Ungkap Kenangan Berjuang Bersama Rizieq

Wiranto Ungkap Kenangan Berjuang Bersama Rizieq

News | Kamis, 09 Februari 2017 | 18:30 WIB

Tanggapan Menkopolhukam soal Luhut Bertemu Ma'ruf Amin

Tanggapan Menkopolhukam soal Luhut Bertemu Ma'ruf Amin

News | Kamis, 02 Februari 2017 | 16:27 WIB

Wiranto Sebut Pilkada yang Baik Hasilkan Pemimpin Baik

Wiranto Sebut Pilkada yang Baik Hasilkan Pemimpin Baik

News | Selasa, 31 Januari 2017 | 11:43 WIB

Terkini

Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP

Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:54 WIB

Langit Tangerang Semarak, Puluhan Layang-layang Hiasi Akhir Pekan Keluarga

Langit Tangerang Semarak, Puluhan Layang-layang Hiasi Akhir Pekan Keluarga

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Madura United Curi Tiga Poin di Parepare, Penalti PSM Makassar Digagalkan Angga Saputro

Madura United Curi Tiga Poin di Parepare, Penalti PSM Makassar Digagalkan Angga Saputro

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:48 WIB

Bali United Bungkam Arema FC 3-1 di Kanjuruhan, Singo Edan Akhiri Laga dengan 9 Pemain

Bali United Bungkam Arema FC 3-1 di Kanjuruhan, Singo Edan Akhiri Laga dengan 9 Pemain

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:45 WIB

Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik

Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:40 WIB

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Catat Tanggalnya! Ini Hari Paling Beruntung Tiap Zodiak di Bulan November

Catat Tanggalnya! Ini Hari Paling Beruntung Tiap Zodiak di Bulan November

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

4 Minyak Perontok Bulu Ketiak, Aman untuk Kulit Sensitif dan Bebas Iritasi

4 Minyak Perontok Bulu Ketiak, Aman untuk Kulit Sensitif dan Bebas Iritasi

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

MA Putuskan Suket Ijazah Gibran Tak Sah, PKB Sebut Jadi Rujukan Utama Sikap Politik DPR

MA Putuskan Suket Ijazah Gibran Tak Sah, PKB Sebut Jadi Rujukan Utama Sikap Politik DPR

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:15 WIB

Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min

Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:10 WIB

×