Perjalanan Si Pembalut Wanita Begitu sampai di Bantargebang

Siswanto

Minggu, 06 Agustus 2017 | 11:18 WIB
Perjalanan Si Pembalut Wanita Begitu sampai di Bantargebang
TPST Bantargebang [suara.com/Yunita]

Suara.com - Saban hari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, menerima berton-ton sampah dari Jakarta. Jenis sampahnya bermacam-macam, umumnya berasal dari rumah tangga, di antaranya bekas pembalut wanita.

"Sampah dari Jakarta ke TPA Bantargebang sekitar 6.500 sampai 7.000 ton perhari. Kendaraan 1.000 sampai 1.200 truk yang masuk selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu," ujar Kepala Satuan Pelaksana Pengolahan Energi Terbarukan TPST Bantargebang Rizky Febrian kepada Suara.com.

Rizky kemudian menjelaskan proses ketika armada pengangkut sampah sampai di gerbang TPST Bantargebang.

Sebelum memasuki zona pembuangan, truk-truk tersebut melewati mesin timbangan tahap pertama terlebih dahulu untuk mengetahui berat sampah yang dikirim.

"Kemudian truk-truk diarah ke titik buang yang sudah kita ditentukan. Di sini ada tiga titik buang. Nanti mereka jalan ke titik buang, sampai di titik buang," kata dia.

Setelah sampah diturunkan di zona pembuangan, sebelum ke luar dari TPST, truk kembali ditimbang.

"Setelah dumping sampah, mereka jalan ke arah timbangan kedua, sebelum keluar dari TPA Bantargebang ini. timbangan kedua itu diukur hanya berat kosong truk. Jadi nanti setelah timbangan kedua akan kelihatan sebetulnya berat sampahnya itu berapa, karena timbangan kedua ini secara otomatis udah terprogram berat sampah plus berat kendaraan timbangan satu - berat truknya, jadi ketahuan net sampahnya berapa. Setelah ditimbang keluar, nanti dia dapat struk. Baru boleh keluar," ujarnya.

Rizky mengungkapkan pada waktu dikirim ke Bantargebang, semua jenis sampah campur aduk menjadi satu.

"Sampah yang masuk ke sini semua jenis sampah rumah tangga, termasuk pembalut. Kalau pembalut itu dibuang ke tempat sampah rumah tangga itu pasti keangkut, karena semua sampah yang ada di Jakarta semuanya keangkut ke sini. Disini belum ada pemilahan. Langsung ditimbun," ujarnya.

baca juga

Meski tergolong tergolong beresiko tinggi terhadap pencemaran lingkungan karena tidak mudah terurai, seperti bekas pembalut sekali pakai atau popok bayi, tidak ditangani secara khusus. Limbah tersebut tetap disatukan dengan jenis sampah lain pada saat proses penimbunan.

"Sampah-sampah yang berupa pembalut ataupun pampers belum ada pengolahannya di TPST. Sampah tersebut hanya dibiarkan begitu saja dan ditimbun. Belum ada treatment untuk mengolah sampah pembalut atau pampers, kita belum ada teknologi untuk memproses itu," ujarnya.

Rizky menyadari semua jenis sampah bakal menimbulkan potensi bahaya dan penyakit kalau tidak dikelola dengan baik.

"Semua sampah pada prinsipnya kalau tidak dikelola dengan baik menimbulkan potensi bahaya, penyakit udah pasti. Apalagi sampah pembalut ataupun sampah pampers. Penyakitnya minimal gatel-gatel. Kemudian semua sampah kan menimbulkan bau, bau kan artinya bakteri hidup di situ. Kalau kehirup sama kita, penyakit masuk ke dalam tubuh. Apalagi pampers bayi banyak juga orang nggak membuang kotorannya. Ada juga orang yang di flash dulu nanti bawa ke tempat sampah tinggal pampers basahnya aja, ada yang seperti itu. Tapi ada juga yang bulet-bulet langsung dibuang. Kalau seperti itu semua bercampur disini jadinya penyakit. Pastinya gatel-gatel kalau nggak biasa. Perkembangbiakan lalat juga makin banyak," ujarnya.

Menurut Rizky seharusnya penanganan dan pemilahan limbah dilakukan sejak di Jakarta.

"Menurut saya, sebaiknya sampah sudah terpilah dari Jakarta berdasar jenis. Misalkan Pembalut, pembalut semua. Popok semua. Dengan sudah terpilahnya dari Jakarta kita akan tahu akan kita rencanakan penangannya seperti apa, pengolahannya seperti apa dengan sampah-sampah ini. Kalau misalkan pembalut atau pampers nggak bisa diolah atau nggak bisa hancur dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Mungkin nanti kita bisa kasih masukan ke produsen untuk memproduksi dengan bahan yang mudah terurai. Kalau sekarang pampers atau pembalut ada bahan-bahan yang semi plastik yang mungkin agak susah terurai. Kita bisa kasih saran ke produsen dengan produk yang ramah lingkungan atau mudah terurai oleh alam," ujarnya.

Di Bantargebang, kata dia, pemilahan sampah hanya dilakukan oleh para pemulung, itu pun hanya diambil yang berharga.

"Hanya pemulung yang mengambil dan memisahkannya. Awalnya ada pemilahan, tapi nggak dibangun dan dilanjutkan plan tersebut sama pihak swasta. Karena terbatas sama anggaran yang sudah dianggarkan. Jalankan apa adanya dulu seperti sedia kala. Tetapi bertahap kita sudah merencanakan sesuatu ke depan untuk membuat TPST lebih ke bagian pengolahan," ujarnya.

RIzky berharap masyarakat di Jakarta meningkatkan kesadaran untuk meminimalisir pencemaran lingkungan hidup, khususnya kepada pemakai pembalut.

"Saya pernah dengar dari orangtua kita atau orang jaman dulu, ada juga yang sampai sekarang menggunakan pembalut yang bisa dipakai dicuci dipakai dicuci, pampers juga ada seperti itu. Jadi kalau kita punya niat untuk mengurangi sampah, untuk menjalani program 3R. Itu bisa menjadi salah satu alternatif yang digunakan. Jadi jangan memakai sekali pakai dibuang, sekali pakai dibuang. Karena itu akan terus menerus menambah volume sampah kita dari Jakarta yang di bawa ke Bantargebang. Hasilnya kalau nggak mengurangi sumbernya bisa kita lihat sendiri gunungan sampah ini semakin tinggi setiap harinya, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahunnya," ujarnya. [Yunita]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?

Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?

Your Say | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:41 WIB

TPST Bantargebang Tutup 2027, Pemprov DKI Bakal Beri Insentif ke RW yang Lakukan Pemilahan Sampah

TPST Bantargebang Tutup 2027, Pemprov DKI Bakal Beri Insentif ke RW yang Lakukan Pemilahan Sampah

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 13:49 WIB

Mulai Agustus 2026, Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu

Mulai Agustus 2026, Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu

Foto | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:44 WIB

Longsor Jadi Peringatan, DPRD DKI Percepat Pembenahan TPST Bantargebang

Longsor Jadi Peringatan, DPRD DKI Percepat Pembenahan TPST Bantargebang

News | Selasa, 21 April 2026 | 20:51 WIB

DPRD DKI Bentuk Pansus, Target Jakarta Bebas Sampah 2030

DPRD DKI Bentuk Pansus, Target Jakarta Bebas Sampah 2030

News | Sabtu, 11 April 2026 | 12:51 WIB

Jakarta Dikepung Sampah, DLH DKI Jakarta Kebut Pemulihan Fungsi TPST Bantargebang

Jakarta Dikepung Sampah, DLH DKI Jakarta Kebut Pemulihan Fungsi TPST Bantargebang

News | Kamis, 02 April 2026 | 15:59 WIB

'Tamu Bulanan' Bukan Musuh: Saatnya Normalisasi Obrolan Menstruasi

'Tamu Bulanan' Bukan Musuh: Saatnya Normalisasi Obrolan Menstruasi

Your Say | Kamis, 02 April 2026 | 11:43 WIB

Pemprov DKI Targetkan Pemulihan TPST Bantargebang dalam Sepekan

Pemprov DKI Targetkan Pemulihan TPST Bantargebang dalam Sepekan

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 18:06 WIB

Mengurai Benang Kusut Sampah Jakarta di Tengah Duka Bantargebang

Mengurai Benang Kusut Sampah Jakarta di Tengah Duka Bantargebang

News | Senin, 09 Maret 2026 | 19:52 WIB

Evakuasi Korban Longsor Sampah Bantargebang, Lima Tewas Empat Masih Hilang

Evakuasi Korban Longsor Sampah Bantargebang, Lima Tewas Empat Masih Hilang

Foto | Senin, 09 Maret 2026 | 18:54 WIB

Terkini

Kabar Gembira! Pajak Film Nasional di Jakarta Dipangkas 50 Persen

Kabar Gembira! Pajak Film Nasional di Jakarta Dipangkas 50 Persen

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:15 WIB

Gegara Program Prioritas, Kementerian Ramai-ramai 'Mengemis' Anggaran Tambahan?

Gegara Program Prioritas, Kementerian Ramai-ramai 'Mengemis' Anggaran Tambahan?

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:45 WIB

Stop Politisasi MBG! Asosiasi Desak BGN Fokus Benahi Tata Kelola usai Skandal Korupsi

Stop Politisasi MBG! Asosiasi Desak BGN Fokus Benahi Tata Kelola usai Skandal Korupsi

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:34 WIB

Wagub Jabar Buka Danseskoad Cup 2026, Dorong Pembinaan Pesepak Bola Usia Dini

Wagub Jabar Buka Danseskoad Cup 2026, Dorong Pembinaan Pesepak Bola Usia Dini

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24 WIB

Pramono Anung Resmikan Wajah Baru Rasuna Said: Ingin Jadi Ikon Gembok Cinta Ala Paris

Pramono Anung Resmikan Wajah Baru Rasuna Said: Ingin Jadi Ikon Gembok Cinta Ala Paris

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 11:45 WIB

Sudah Keluar Modal Besar, Asosiasi Minta Kepastian dan Mitigasi usai Moratorium Dapur MBG

Sudah Keluar Modal Besar, Asosiasi Minta Kepastian dan Mitigasi usai Moratorium Dapur MBG

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:45 WIB

Cerita di Balik Halte Setiabudi Integritas: Ide Ketua KPK saat Naik Bus dari Ragunan

Cerita di Balik Halte Setiabudi Integritas: Ide Ketua KPK saat Naik Bus dari Ragunan

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:15 WIB

Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?

Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:00 WIB

AI Digadang-gadang Mampu Kurangi Emisi Karbon, Benarkah?

AI Digadang-gadang Mampu Kurangi Emisi Karbon, Benarkah?

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 08:55 WIB

Stop Stigma Anti-Negara! Kritik Bukan Ancaman, Semua Presiden Wajib Tunduk pada Konstitusi!

Stop Stigma Anti-Negara! Kritik Bukan Ancaman, Semua Presiden Wajib Tunduk pada Konstitusi!

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 08:46 WIB