Suara.com - Sebagian pendukung mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menolak berpindah ke lain hati meski pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno akan dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta periode 2017-2022.
Dosen Universitas Indonesia Ade Armando yakin Ahok tidak melakukan penodaan agama meski majelis hakim menjatuhkan hukuman dua tahun penjara.
"Menolak move on dalam arti kita menolak untuk melupakan Ahok. Ahok itu sebenarnya berada di penjara karena dia dizalimi dan dicurangi," ujar Ade di Fitzroy, Jalan Gunawarman 30, Jakarta Selatan, Senin (9/10/2017) malam.
Pertemuan rutin pendukung dan relawan Ahok dilakukan setiap bulan tanggal 9. Mereka menamakan dirinya tim sembilanan karena meneladani kepemimpinan Ahok.
Tanggal 9 Mei 2017 adalah tanggal Ahok dinyatakan bersalah dan divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
"Semangat yang dia tularkan itu akan berada pada diri kita. Dana akan kita lanjutkan perjuangan dia. Salah satunya tentang arti anti korupsi. Kita mendorong transparansi, pluralisme, itu semua akan kita perjuangkan," kata Ade.
Setelah Anies-Sandi resmi menjabat sebagai pemimpin DKI 16 Oktober, Ade berharap roda pemerintahan di Jakarta berjalan dengan baik. Ia bersama masyarakat siap mengawal pemerintahan Anies-Sandy.
"Kita akan mengawasi terus pemerintahan Anies ini. Tidak dalam rangka berharap gagal memimpin Jakarta. Karena kalau gagal pemerintahan di Jakarta akan berdampak pada publik yang luas," kata dia.
Anies-Sandi diminta menjalankan program Ahok-Djarot yang sudah dirasakan positif di masyarakat. Mulai dari transparansi hingga pembangunan ruang publik terpadu ramah anak.
"Kami akan jaga betul supaya mereka (Anies-Sandi) jalankannya sebagi pemimpin yang melanjutkan keberhasilan Ahok selama ini.," kata dia.