Kelompok-kelompok perlawanan Kurdi itu ialah Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang berhaluan Marxis-Leninis-Maoisme; dan Partai Persatuan Demokratik Kurdi (PYD)--berideologi Sosialisme Demokratik.
Turki juga berkilah, operasi itu untuk membasmi gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di sepanjang daerah perbatasannya. Padahal, PKK dan PYD bahu membahu mengusir ISIS dari daerah tersebut.
Operasi militer itu menargetkan pejuang Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) yang berafiliasi dengan PKK.
Oleh Erdogan, YPG diklaim sebagai kelompok teroris dan didukung oleh Amerika Serikat.
Turki menganggap keputusan orang Kurdi untuk menentukan nasib bangsa sendiri, yakni mendirikan negara merdeka, menjadi ancaman eksistensi negerinya.
Bangsa Kurdi sudah sejak lama mendiami sejumlah wilayah yang terbentang dari Turki, Suriah, Iran, hingga Irak.
Hevi Mustafa, Wakil Presiden Dewan Eksekutif Afrin, memuji tekat milisi YPG, PKK, dan warga sipil Kurdi yang melawan serbuan Turki.
Mustafa menyebut serangan Turki sebagai aksi "barbar" dan berharap, masyarakat internasional akan meminta pertanggungjawaban pemerintah Turki atas kekerasan tersebut.
"Tentara kita berjuang keras, mereka membela diri dari serbuan di Afrin," katanya.
"Kami tahu, serangan Turki terhadap wilayah kami ini karena Kurdi adalah bagian dari proyek demokrasi dan karena kami ingin mengakhiri krisis di Suriah. Tentu saja, rezim Erdogan tak menginginkan krisis di Suriah berakhir," tegasnya.

Turki Dibantu Teroris Al Nusra
Syrian Democratic Forces (Tentara Demokratik Suriah)—salah satu kelompok militer multietnis yang memunyai peran penting menggempur ISIS dan teroris lain di Suriah—turut mengutuk serangan barbar Turki ke Afrin.
Melalui pernyataan resminya, Rabu (31/1), SDF mengungkapkan tentara Turki menyerang Afrin bersama-sama gerombolan teroris Al Nusra—pecahan Al Qaeda yang beroperasi di Suriah.
Serdadu Turki dan teroris Al Nusra memberondong warga Kurdi di wilayah Ashrafia, memakai roket Katyusha.
"Banyak warga sipil, terutama anaka-anak dan kaum perempuan Kurdi yang terluka akibat serangan tersebut. Rumah sakit kami tidak mampu mengatasinya, ruang operasi kami kewalahan, kami melakukan 18 operasi sehari. Kami menggunakan semua persediaan medis kami karena jumlah korban yang sangat banyak akibat serangan udara dan tembakan artileri tanpa pandang bulu."
Turki sendiri, pada hari yang sama, melaporkan banyak korban jiwa dalam operasi Ranting Zaitun. Namun, mereka menyalahkan PKK dan YPG sebagai teroris yang menyebabkan korban.
Turki menganggap YPG adalah sama dengan PKK. Menurut Staf Umum Operasi Ranting Zaitun, operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional. Pihak militer juga mengklaim selalu menghindari korban warga sipil.
"Hanya teroris dan tempat penampungan, barak, senjata, peralatan dan peralatan mereka yang ditargetkan, dan segala macam perhatian dan kepekaan ditunjukkan untuk menghindari kerusakan pada orang-orang sipil/tidak bersalah dan lingkungan," klaim tentara Turki dalam pernyataan resmi.
Namun, warga Kurdi yang bersembunyi di gua-gua memunyai kesaksian berbeda.
Seorang wanita di gua bertanya secara retoris kepada CNN, "Apa yang diinginkan pesawat Turki dari kita? Apa yang mereka bomkan untuk kita? Apa yang mereka inginkan dari kita dan apa yang mereka inginkan dari anak kecil?"
Sementara gadis muda bernama Yasmin yang bersembunyi di gua bersama ibu dan saudara laki-lakinya setelah ayah mereka dibunuh, juga menceritakan hal berbeda dari klaim turki.
”Sungguh benar-benar gelap di dalam gua ini. Kami sangat ketakutan, karena pesawat Turki sangat bising dan menyerang kami. Apa salah kami? Apa salahku dan anak-anak lain?” gugatnya.
Fatima Muhammad, seorang bocah lain yang dibundel dengan sweter merah, rambutnya yang terbungkus syal ungu, ada di antara selusin orang yang bersembunyi di gua yang sama.
"Kami berakhir di jalanan dan di gua-gua ... kita tidak bisa kembali ke rumah kita, semuanya hancur," katanya.
"Negara macam apa yang menyerang warga sipil dengan cara ini?"