Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan menyiagakan 1400 tenaga kesehatan di ajang Asian Games 2018, yang berlangsung di empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Banten dan Jawa Barat.
Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan, drg. Kartini Rustandi, M.Kes mengatakan 1400 tenaga kesehatan tersebut terdiri dari 407 tujuh dokter, 813 perawat, dan 180 fisioterapis yang akan didistribusikan ke lokasi pertandingan Asian Games 2018.
"Kami melayani bidang gawat darurat bukan hanya untuk atlet tapi tamu VIP. Atlet itu aset bagi negara masing-masing, sehingga kami juga menjaga keamanan pangannya. Ada juga tim kesehatan lingkungan dan surveilance karena atlet negara lain banyak ke negara kita sehingga kesehatan mereka menjadi tanggung jawab kita," ujar Kartini saat Simulasi 'Emergency in Sport Events Asian Games 2018' di Kementerian Kesehatan, Rabu (4/4/2018).
Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan selaku penanggungjawab bidang peIayanan kesehatan sesuai Instruksi Presiden No 2 Tahun 2016 tentang Dukungan Penyelenggaraan Asian Games XVIII Tahun 2018, telah melakukan berbagai kesiapan, yakni pemenuhan tenaga kesehatan untuk ditempatkan di sekitar area pertandingan berupa medical station, medical center maupun di poIiklinik, pemenuhan penyiapan ambulans serta penyiapan RS rujukan.
Untuk RS Rujukan sendiri Kartini mengatakan, ada 16 Rumah Sakit di Jakarta yang akan menjadi rujukan kasus kesehatan yang terjadi saat Asian Games, 4 RS di Palembang, satu RS di Tanggerang, Banten dan satu RS di Jawa Barat.
"Ini masih sementara. Lokasi paling banyak di Jakarta karena pertandingan terbanyak di sini. Cuma kita akan terima masukan dari Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) untuk menambah beberapa RS rujukan lagi," tambah dia.
Hari ini, sambung Kartini, tim tenaga kesehatan yang akan bertugas pada Asian Games 2018 melakukan simulasi gawat darurat yang mungkin terjadi di lapangan Kementerian Kesehatan. Para tenaga kesehatan ini, kata dia, sudah mendapatkan materi yang sesuai modul kegawatdaruratan di ajang kompetisi olahraga Internasional.
"Jadi setelah mereka mendapat modul, hari ini kita simulasikan di lapangan seolah-olah terjadi kasus cedera khusus dan kita lihat kesiapan mereka menanganinya. Atlet adalah aset negara kalau penanganan tidak baik nanti cidera dan tidak bisa jadi atlet lagi," jelasnya.