Korban Gempa Lombok Dihantui Penaikkan Harga Bahan Pokok

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 13 September 2018 | 10:40 WIB
Korban Gempa Lombok Dihantui Penaikkan Harga Bahan Pokok
Sejumlah warga beristirahat dekat rumahnya yang roboh pascagempa di Dusun Labuan Pandan, Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin (20/8). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Suara.com - Tragedi gempa Lombok masih membekas di para korban. Tapi korban gempa Lombok kini dihantui penaikkan harga bahan pokok, sandang, maupun papan.

Kepala Badan Pusat Statistik Kota Mataram Isya Anshori mengingatkan pemerintah daerah agar mewaspadai kenaikan harga pascagempa bumi karena daya beli masyarakat kini mulai meningkat.

"Meskipun di bulan Agustus kita mengalami deflasi 0,07, namun pascagempa bumi masyarakat sudah mulai memenuhi kebutuhannya bahkan mulai meningkat, sehingga harga perlu dijaga agar tetap stabil," katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (13/9/2018).

Menurutnya, deflasi sebesar 0,07 tersebut sebagian besar disumbang oleh barang-barang produksi sendiri, seperti bawang merah, bawang putih, cabai, sayur-sayuran, dan daging ayam yang sebelumnya harganya tinggi kini sudah berada pada titik normal.

Begitu juga dengan harga cabai yang sebelumnya mencapai lebih di atas Rp50 ribu per kilogram. Sekarang hanya berkisar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.

"Jenis makanan yang kita produksi sendiri itulah yang membuat harga relatif stabil sehingga terjadi deflasi di bulan Agustus," katanya.

Padahal, sambungnya, deflasi biasanya terjadi ketika daerah mulai panen raya karena stok mulai banyak, tetapi kondisi ini sedikit berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.

"Untuk beras memang ada kenaikan sedikit, dan hal itu perlu terus diwaspadai agar bulan depan tidak menjadi penyumbang inflasi. Karena itulah, kami mengajak pemerintah daerah untuk segera melakukan antisipasi dan normalisasi harga," katanya lagi.

Namun demikian, lanjutnya, walaupun Mataram mengalami deflasi di bulan Agustus tetapi untuk jenis barang yang bukan produksi dalam daerah seperti salah satunya besi baja itu mengalami peningkatan.

baca juga

Hal tersebut dipicu karena permintaan tinggi di samping itu karena faktor harga dolar yang juga mengalami kenaikan sebab harga besi baja menyesuaikan dengan nilai tukar rupiah dengan dolar.

"Andil besi baja dalam hal inflasi mencapai 0,04 poin, padahal biasanya besi ini tidak pernah muncul menjadi andil inflasi," katanya.

Munculnya besi baja sebagai andil penyumbang inflasi diakuinya tidak pernah terjadi, sehingga ketika di bulan Agustus muncul dirinya merasa kaget dan kondisi ini terjadi secara nasional karena mengkuti harga dolar. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

6 Penyakit Ini Mengintai Pengungsi Gempa Lombok

6 Penyakit Ini Mengintai Pengungsi Gempa Lombok

Health | Rabu, 12 September 2018 | 17:15 WIB

Tahun Baru Islam 1440 Hijriah, MUI: Dermawan, Bantu Gempa Lombok

Tahun Baru Islam 1440 Hijriah, MUI: Dermawan, Bantu Gempa Lombok

News | Selasa, 11 September 2018 | 09:14 WIB

Gempa Kembali Guncang Lombok, Skala 5,3 SR

Gempa Kembali Guncang Lombok, Skala 5,3 SR

News | Selasa, 11 September 2018 | 08:09 WIB

Dari Topi hingga Helm, Barang Bekas Sandiaga Laku Rp 250 Juta

Dari Topi hingga Helm, Barang Bekas Sandiaga Laku Rp 250 Juta

News | Selasa, 11 September 2018 | 06:30 WIB

Sandiaga Uno Lelang Helm Proyeknya, Dibeli Dodo Rp 15 Juta

Sandiaga Uno Lelang Helm Proyeknya, Dibeli Dodo Rp 15 Juta

News | Senin, 10 September 2018 | 21:17 WIB

Terkini

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

×