Papa, Ikhlaslah, Tuntun Saya Baca Dua Kalimat Syahadat....

Reza Gunadha

Minggu, 07 Oktober 2018 | 17:29 WIB
Papa, Ikhlaslah, Tuntun Saya Baca Dua Kalimat Syahadat....
Foto udara rumah-rumah warga yang hancur akibat gempa 7,4 skala Richter di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). [Antara/Hafidz Mubarak]

Penduduk berhamburan setelah bumi terasa berguncang keras, bangunan-bangunan runtuh akibat gempa tersebut.

Gempa berdurasi delapan detik itu seketika mengeluarkan air bercampur lumpur dari perut bumi hingga terjadi gelombang lumpur.

Penduduk limbung, bangunan runtuh, bahkan bergerak dengan sendirinya mengikuti pergerakan tanah bercampur lumpur yang berguncang akibat gempa.

Jalan beraspal patah dan mengerucut, ada pula yang hanyut terseret pergerakan tanah hingga puluhan, bahkan seratusan meter.

Hajali Tenggo (71 tahun), salah satu warga di Petobo Atas yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan, saat itu dia berada dalam kamar tidurnya mempersiapkan diri untuk menunaikan salat Maggrib di masjid, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya.

Hajali yang sudah ditinggal istrinya karena meninggal dunia, memiliki lima orang anak, yakni Fatrini, Ijan, Mubarak, Fadli, dan si bungsu Rika Wahyuni.

Dalam rumahnya, Hajali tinggal bersama Fatrini dan Rika. Pada rumah itu juga tinggal seorang perempuan bernama Mira, yang merupakan teman Patrini.

Fadli tinggal bersama istrinya, Mira Khairunissa, di sebelah rumah Hajali. Fadli dan Khairunissa telah dikarunia dua anak, Bintang dan Yeyen.

Sementara Mubarak dan Ijan tinggal di rumah mereka masing-masing dengan lokasi berjauhan, meskipun masih dalam satu kelurahan.

baca juga

Hajali dan para penghuni di rumahnya sontak ke luar rumah. Karena guncangan keras, Hajali terpental dan terombang-ambing ke kiri dan kanan sambil berusaha menyelamatkan diri.

Ia berhasil keluar melewati pintu belakang dan menyelamatkan diri.

Nahas bagi Rika dan Khairunissa. Mereka tak mampu menyelamatkan diri. Anak kandung dan anak menantu Hajali itu meninggal dunia di tempat setelah terendam air dan lumpur yang bergolak hingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Saat itu kami terpisah, anak dan cucuku sudah di depan jalan sedangkan saya di samping rumah. Anak bungsu dan anak mantu saya berdiri di antara dua rumah yang baru dibangun," katanya Hajali pilu.

Hajali terus berusaha mencari tambatan untuk berpegangan agar dia tidak terpental akibat guncangan. Ia mendekap erat batang pohon belimbing.

Karena merasa tak aman, Hajali berupaya mencari tempat lebih aman namun justru terpental lagi persis di samping dinding rumah tetangganya.

Rumah tetangganya itu bergerak mengikuti pergerakan tanah hingga membuat kaki kirinya terjepit bungunan rumah.

Hajali berusaha sekuat tenaga naik ke atas atap rumah papannya yang sudah roboh, saat itu kondisi rumah berdinding papan tempat tinggalnya sudah roboh.

Hajali menyaksikan anak dan cucunya bertahan tepat di bawah pohon mangga sambil memagang ranting pohon tersebut.

Dia menyaksikan pula Rika dan Khairunissa terjebak di dalam lumpur.

"Papa tolong saya, 'ta jepit' (terjepit) saya," begitu suara Rika meminta bantuan kepada Hajali. Mereka berjarak sekitar enam meter.

Namun Hajali tak kuasa menolong anak bungsu dan anak menantunya itu. Gelombang lumpur datang lagi, Rika tak bergerak karena terjepit dan tertimbun lumpur sedangkan Khairunissa tenggelam.

Hajali berusaha keras menyelamatkan Rika dari timbunan lumpur. Ia menggali lumpur dengan tangannya tetapi tak kuasa.

Saat situasi mulai tenang, dia meminta bantuan ke Fadli. Namun upaya tersebut tak membuahkan hasil.

Air bercampur lumpur semakin tinggi hingga menutup sebagian wajah Rika.

Mereka terus berjuang menguras air menggunakan tangan, Hajali menaruh kayu tepat di bawah dagu Rika agar wajahnya terdongak namun air bercampur lumpur lebih cepat menutupi wajah Rika.

Dengan kesulitan bernafas, Rika sempat meminta Hajali untuk menuntun ucapan dua kalimat syahadat saat merasakan sakaratul maut serta memohon ampunan.

"Rika juga sempat meminta maaf kepada saya dan kakak-kakaknya sebelum ia meninggal dunia," kata Hajali dengan air mata berlinang.

Rika Wahyuni pergi, meninggal dunia, menyusul Mira Khairunissa.

Menusuk tulang

Hajali merasa sangat terpukul atas peristiwa itu, namun dia terus menguatkan hatinya agar bisa bangkit.

Malam semakin mencekam, Hajali bersama anak dan cucunya kembali ke atas-atap rumah mengharap ada pertolongan.

Kejadian bencana itu begitu cepat, gelombang tanah disertai lumpur kurang dari lima menit hingga meluluhlantakkan semua bangunan maupun pepohonan hingga puing-puing rumah mereka hanyut ratusan meter.

Mereka tak lagi berada di posisi awal mereka yang berada di rumah.

Dalam kegelapan, mereka bertahan hanya menggunakan baju di badan, angin bertiup kencang hingga menusuk ke tulang rasa dingin pun semakin memuncak. Belum lagi pakaian di badan semuanya basah kuyup.

Tak berselang lama, ada rumah terbakar yang hanyut tepat di hadapan mereka, menuju arah anaknya Rika yang sudah  meninggal.

Tiba-tiba ember kecil berwarna hitam hanyut tepat disamping mereka. Hajali langsung meraih ember untuk diisi air dan memadamkan api. "Ternyata dalam ember itu ada air bersih," katanya.

Ia tak jadi memadamkan api dengan air itu. Air dalam ember itu dia simpan.

Rumah terbakar yang hanyut itu tak membakar jenazah Rika, melainkan hanya lewat di depannya.

Selama bertahan di atas atap rumah, Hajali bersama anggota keluarganya hanya mengonsumsi air yang didapatinya itu tanpa makanan lainya.

Hingga keesokan harinya, sekitar pukul 05,30 Wita, mereka berusaha keluar dari lokasi tersebut mencari tempat lebih aman.

Mereka melewati kubangan air hampir setinggi dada orang dewasa menuju arah utara, dengan kaki terluka.

Hajali terus berjalan sambil menusuk-nusuk tanah yang landai untuk pijakan kaki.

Untuk mencapai tanah kering yang relatif aman dan hanya kurang lebih berjarak 500 meter, Hajali harus melewati lumpur hingga tiga jam lamanya.

Kondisi lingkungan mereka rusak parah.

"Pokoknya semua hancur berantakan. Tanah terbelah, jalan aspal mengerucut setinggi setengah meter, padahal secara logika jarak 500 meter itu tidak lebih lima menit kita berjalan kaki," ucapnya.

Diperkirakan, ribuan manusia masih terkubur materil lumpur di Petobo. Harta benda pun hilang tak berbekas.

Kampung di kelurahan itu seperti ditelan bumi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Diduga Makan Mayat Korban Gempa Sulteng, Warga Takut Konsumi Ikan

Diduga Makan Mayat Korban Gempa Sulteng, Warga Takut Konsumi Ikan

News | Minggu, 07 Oktober 2018 | 17:12 WIB

Ratusan Korban Gempa dan Tsunami Palu Ditelantarkan Lion Group

Ratusan Korban Gempa dan Tsunami Palu Ditelantarkan Lion Group

Bisnis | Minggu, 07 Oktober 2018 | 15:42 WIB

Cari Korban Gempa Sulteng, TNI Temukan Uang Tunai Rp 1 Miliar

Cari Korban Gempa Sulteng, TNI Temukan Uang Tunai Rp 1 Miliar

News | Minggu, 07 Oktober 2018 | 14:39 WIB

Presiden APC Belasungkawa Korban Gempa dan Tsunami di Palu

Presiden APC Belasungkawa Korban Gempa dan Tsunami di Palu

Sport | Minggu, 07 Oktober 2018 | 13:00 WIB

Terkini

105 Mitra Pengemudi Grab Dapat Kesempatan Umrah

105 Mitra Pengemudi Grab Dapat Kesempatan Umrah

Foto | Minggu, 13 September 2026 | 05:00 WIB

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 01:36 WIB

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Bola | Sabtu, 12 September 2026 | 23:50 WIB

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Sport | Sabtu, 12 September 2026 | 23:24 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

×