Menguak Misteri Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610

Bangun Santoso

Selasa, 30 Oktober 2018 | 11:12 WIB
Menguak Misteri Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610
Pesawat Lion Air Jatuh di Perairan Tanjung Karawang ( Instagram )

Suara.com - Senin (29/10/2018) Bandara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten tampak cerah. Pagi itu, kesibukan sudah terlihat di landasan pacu bandara tersibuk di Indonesia itu. Maklum, hampir setiap awal pekan banyak penumpang yang ingin bepergian ke berbagai daerah tujuan di Indonesia.

Salah satu dari sekian banyak pesawat di Bandara Soekarno Hatta Senin pagi itu adalah pesawat Lion Air JT 610. Pesawat jenis Boeing 737 yang disebut baru dibeli Lion Air pada Agustus 2018 itu bersiap tinggal landas dengan rute Jakarta - Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Pesawat ini mengangkut 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, 2 bayi, 6 pramugari, 1 pilot dan 1 kopilot.

Setelah mendapat izin terbang pukul 06.20 WIB, pesawat paling pertama tujuan Bandara Depati Amir di Bangka Belitung langsung melesat di atas landasan pacu untuk kemudian menanjak untuk mendapatkan ketinggian ideal (climbing).

Namun setelah 13 menit mengudara, pesawat Lion Air JT 610 itu tiba-tiba hilang kontak. Dan belakangan diketahui jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat dengan titik koordinat S 5'49.052 E 107' 06.628.

Dalam keterangan persnya, Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menyebut, ketinggian pesawat Lion Air saat itu ada di 2.500 kaki. Padahal, untuk ukuran 13 menit setelah tinggal landas harusnya lebih tinggi lagi. Atau seharusnya, pesawat sudah bisa mencapai ketinggian 15 ribu hingga 20 ribu kaki.

"Ya makanya dia (pilot) minta RTB (return to base). Kita tidak tahu apa yang terjadi, namun ketinggiannya seharusnya lebih tinggi lagi," ujar Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohannes Harry Sirait, Senin (29/10/2018).

Diketahui, pilot Lion Air JT 610 sempat meminta kembali ke Bandara Soekarno Hatta sesaat setelah terbang sesaat sebelum hilang kontak.

Kenapa Lion Air 610 Jatuh?

Grafis kronologi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.
Grafis kronologi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Sejumlah warga di pantai Tanjung Pakis, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengaku sempat mendengar suara ledakan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute. Mulanya warga menduga suara ledakan itu adalah geluduk atau petir.

baca juga

"Saya denger suara kaya geluduk sekitar pukul 06.30 WIB. Nggak tahunya saya dapat kabar dari orang-orang dan berita ternyata ada pesawat jatuh," kata Oden saat di temui di pesisir Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

Menurut Oden, perairan laut Tanjung Pakis, Karawang kerap dilintasi pesawat. Setidaknya, dari hitungannya, lebih dari lima pesawat tiap harinya melintas di atas perairan tersebut.

"Suaranya kencang juga sampai ke sini. Kalau pesawat memang sering lewat sini. Kadang-kadang lebih dari lima pesawat lah," kata dia.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie menilai ada yang tidak wajar dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta - Pangkal Pinang di perairan Karawang, Jawa Barat pada Senin pagi (29/10/2018).

Pasalnya, berdasarkan grafik yang ditampilkan dalam situs Flight Radar 24, Lion Air Boeing 737 Max 8 rute penerbangan Lion Air, pesawat sempat menukik ke kiri dan menanjak tajam kemudian kembali turun dengan kecepatan yang belum stabil.

"Memang saya melihat grafik itu, ada menukik ke kiri, lalu kecepatannya juga belum stabil ini memang ada tidak wajar ya. Seharusnya tidak begitu," kata Alvin Lie saat dihubungi Suara.com, Senin (29/10/2018).

Namun, Alvin Lie mengaku tidak ingin berspekulasi lebih jauh terkait hal tersebut. Pasalnya, banyak faktor yang bisa saja terjadi dalam penerbangan.

"Bisa saja itu menghindari sesuatu, bisa saja menghindari kawanan burung. Ini memang kalau melihat grafiknya kecepatan dan penerbangannya ini ada yang tidak wajar, harus ada pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya," ujarnya.

Menurut Alvin Lie, yang bisa dilakukan saat ini adalah melihat buku log (log book) pemeliharaan pesawat.

"Apa pesawatnya sempat mengalami kendala atau seperti apa kan akan kelihatan di sana. Baru kita melihat faktor lain, apa ada masalah cuaca atau seperti apa begitu sampai pesawat ini bisa jatuh dan mengapa pesawat mengalami penurunan kecepatan," ujarnya.

Rekam Jejak Sang Pilot

Bhavye Suneja,Pilot Lion Air asal India yang jatuh di Tanjung Karawang. (Foto: Istimewa/Facebook)
Bhavye Suneja,Pilot Lion Air asal India yang jatuh di Tanjung Karawang. (Foto: Istimewa/Facebook)

A Delhy Boy, Bhavye Suneja adalah kapten maskapai Indonesia, Lion Air Beoing 737 Max yang jatuh ke laut saat mengoperasikan penerbangan domestik dari Jakarta ke Pangkal Pinang pada hari Senin bersama 189 penumpang.

Demikian laman The Time of India mengawali tulisan dalam artikelnya.

Dari penelusuran Times of India, Suneja tercatat sebagai warga Mayur Vihar yang lulus dari Ahlcon Public School di daerah itu pada tahun 2005. Ia kemudian bergabung dengan maskapai Lion Air di Indonesia pada Maret 2011, di mana ia menerbangkan pesawat jenis Boeing 737.

Seorang pejabat senior dari maskapai terkemuka di India yang mengoperasikan Boeing 737 mengatakan, Suneja sedang mempertimbangkan untuk kembali ke India.

"Kami berbicara Juli ini. Dia adalah orang yang terdengar sangat manis. Menjadi pilot yang berpengalaman di Boeing 737 dengan catatan bebas kecelakaan, kami ingin ia bersama kami karena kredensial baiknya. Permintaan satu-satunya adalah dia ingin dekat dengan Delhi," kata pejabat senior tersebut.

"Karena sebagian besar pilot berasal dari India utara, saya mengatakan kepadanya bahwa begitu dia terbang bersama kami selama setahun, kami akan mempertimbangkan keinginannya kembali ke India. Dia menginginkan bantuan kami dalam mendapatkan ATPL India (lisensi). Beberapa pilot lain dari Lion Air juga telah bergabung dengan kami baru-baru ini," sambung pejabat itu.

Merunut profil di akun Linkedin-nya, Suneja mendapatkan lisensi pilot dari sekolah pilot Bel Air International pada 2009. Pada Maret 2011, ia bergabung dengan maskapai penerbangan berbiaya murah, Lion Air yang berbasis di Jakarta.

Lion Air menyebut Bhavye Suneja punya lebih dari 6.000 jam terbang. Pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP yang dikomandoi Bhavye Suneja baru beroperasi sejak 15 Agustus 2018. Sementara sang co-pilot Harvino memiliki lebih dari 5.000 jam terbang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pesan Terakhir Naik Lion Air: Kamu Wonder Womennya Papa....

Pesan Terakhir Naik Lion Air: Kamu Wonder Womennya Papa....

News | Selasa, 30 Oktober 2018 | 11:03 WIB

Lumpur Misterius Halangi Pencarian Korban Lion Air di Dalam Laut

Lumpur Misterius Halangi Pencarian Korban Lion Air di Dalam Laut

News | Selasa, 30 Oktober 2018 | 10:48 WIB

Pakai Perahu Kayu, Nelayan Angkat Potongan Tubuh Korban Lion Air

Pakai Perahu Kayu, Nelayan Angkat Potongan Tubuh Korban Lion Air

News | Selasa, 30 Oktober 2018 | 10:36 WIB

Doa Sri Mulyani untuk Korban Lion Air di Hari Oeang

Doa Sri Mulyani untuk Korban Lion Air di Hari Oeang

Bisnis | Selasa, 30 Oktober 2018 | 10:24 WIB

Relawan Prabowo-Sandi Tak Terima Disebut Sebarkan Hoaks Lion Air

Relawan Prabowo-Sandi Tak Terima Disebut Sebarkan Hoaks Lion Air

News | Selasa, 30 Oktober 2018 | 10:23 WIB

Terkini

Kasus Video JK: Pelapor Ade Armando dan Abu Janda Kecewa Laporannya Dilempar ke Polda Metro

Kasus Video JK: Pelapor Ade Armando dan Abu Janda Kecewa Laporannya Dilempar ke Polda Metro

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:33 WIB

Bukan Menolak Lirboyo, Ini Sebenarnya yang Terjadi Saat Munas di Ploso

Bukan Menolak Lirboyo, Ini Sebenarnya yang Terjadi Saat Munas di Ploso

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:21 WIB

Kasus YTR Tuai Kecaman, Negara Diminta Perkuat Perlindungan Korban Kekerasan Gender

Kasus YTR Tuai Kecaman, Negara Diminta Perkuat Perlindungan Korban Kekerasan Gender

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:08 WIB

Pemkab Bangkalan Borong Jajanan PKL Saat Penyambutan Prabowo, Warga Nikmati Pembagian Gratis

Pemkab Bangkalan Borong Jajanan PKL Saat Penyambutan Prabowo, Warga Nikmati Pembagian Gratis

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:05 WIB

Industri China Lebih Pilih Kasih Beasiswa ke Mahasiswa Vokasi RI daripada Datangkan TKA

Industri China Lebih Pilih Kasih Beasiswa ke Mahasiswa Vokasi RI daripada Datangkan TKA

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:58 WIB

Wacana Gabungkan Pidsus dan Pidum, Burhanuddin Nilai Koordinasi Penanganan Perkara Lebih Efektif

Wacana Gabungkan Pidsus dan Pidum, Burhanuddin Nilai Koordinasi Penanganan Perkara Lebih Efektif

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:57 WIB

Risky Tinggalkan Rutinitas Jual Ikan Keliling, Kini Menata Mimpi di Sekolah Rakyat

Risky Tinggalkan Rutinitas Jual Ikan Keliling, Kini Menata Mimpi di Sekolah Rakyat

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:54 WIB

Hutan Tropis Dianggap Penyerap Karbon Utama, Tapi Penelitian Baru Tunjukkan Hal Berbeda

Hutan Tropis Dianggap Penyerap Karbon Utama, Tapi Penelitian Baru Tunjukkan Hal Berbeda

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:30 WIB

Keterlibatan TNI Urus Pangan Jadi Sorotan, Prabowo Sebut Langkah Strategis bagi Negara

Keterlibatan TNI Urus Pangan Jadi Sorotan, Prabowo Sebut Langkah Strategis bagi Negara

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:26 WIB

Komisi X DPR Dorong Gaji Guru Minimal Rp 5 Juta, Respons Pernyataan Prabowo soal Kebocoran Anggaran

Komisi X DPR Dorong Gaji Guru Minimal Rp 5 Juta, Respons Pernyataan Prabowo soal Kebocoran Anggaran

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:19 WIB