Tabloid Indonesia Barokah Disebut Jadi Alat Pengecoh Jelang Pilpres 2019

Bangun Santoso | Chyntia Sami Bhayangkara
Tabloid Indonesia Barokah Disebut Jadi Alat Pengecoh Jelang Pilpres 2019
Ketua Bawaslu Kota Tangerang Agus Muslim menunjukan tabloid Indonesia Barokah yang berhasil diamankan dari sebuah masjid di Kantor Bawaslu Kota Tangerang, Banten, Kamis (24/1/2019). [Antara/Muhammad Iqbal]

Menjadi sangat aneh, di tengah digitalisasi media justru heboh dengan terbitnya media publikasi cetak

Suara.com - Beredarnya Tabloid Indonesia Barokah jelang detik-detik Pilpres 2019 diyakini membawa tujuan politis tertentu. Kemunculan tabloid kontroversial ini dinilai menjadi pengecoh menjelang pemilihan presiden.

Hal itu disampaikan oleh Direktur New Media Watch Agus Sudibyo. Agus mengatakan, beredarnya tabloid Indonesia Barokah jelang Pilpres 2019 sarat makna untuk mengecoh salah satu kubu agar tetap fokus dengan pemilih setia saja dan lupa menjangkau pemilih galau yang belum menentukan sikap politik. Sebab, tabloid ini diedarkan di masjid yang notabene merupakan pemilih setia salah satu pasangan capres - cawapres.

"Saya menduga ini upaya kelompok tertentu agar berusaha pertahankan pemilih loyal (setia) di saat situasi yang mengharuskan untuk merebut pemilih galau," kata Agus dalam diskusi publik 'Tabloid Indonesia Barokah: Karya Jurnalistik atau Kumpulan Opini?' di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019).

Agus melihat ada dua anomali dalam tabloid Indonesia Barokah. Pertama, bentuk publikasi yang kembali cetak di tengah modernisasi yang ada sangat mencurigakan. Padahal seharusnya bentuk publikasi dilakukan secara online yang bisa menjangkau banyak kalangan.

Selain itu, target sasaran peredaran tabloid menyasar masjid. Dari hasil survei, lokasi itu memiliki pemilih setia yang telah memiliki pilihan presiden idaman tersendiri sehingga cukup sulit mengubah suara target.

"Dalam survei justru kelompok religius itu sudah punya pilihan masing-masing yang sulit untuk diubah," imbuh Agus.

Agus pun menduga pengecoh dalam Pilpres hanya menjadi sasaran antara saja. Sasaran utama yang hendak dituju adalah untuk membuat kegaduhan sehingga menggiring kubu tertentu melupakan persoalan politik yang kini terjadi.

"Kita fokus ke tabloid ini dan lupa dengan persoalan politik yang penting, terutama bagaiamana memperebutkan pemilih belum punya pilihan," tandas Agus.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS