Gubuk PAUD SAAJA, Potret Pendidikan Belum Merata di Jakarta

Pebriansyah Ariefana | Muhammad Yasir | Suara.com

Jum'at, 08 Februari 2019 | 12:18 WIB
Gubuk PAUD SAAJA, Potret Pendidikan Belum Merata di Jakarta
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Suara.com - Sebuah bangunan gubuk beratapkan rumbia berdiri tegak di tengah-tengah rimba beton di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Di sana ada Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA).

Seperti namanya, SAAJA menjadi alternatif ruang bermain dan belajar bagi anak-anak dari keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

Suara.com datang ke SAAJA, Kamis (7/2/2019) pagi. Sekilas dari luar bangunan ini memang tidak tampak seperti ruang untuk belajar. Bangunan semipermanen dengan luas 9x12 meter hanya beratapkan rumbia, dan di dalamnya hanya tersedia satu buah papan tulis dengan lantai beralaskan karpet. Selain itu, SAAJA juga dilengkapi dengan taman bermain berukuran 4x12 meter yang dilengkapi dengan wahana permaianan seperti ayunan dan perosotan.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Agus Supriyanto (49) bercerita SAAJA sudah berdiri sejak tahun 2001 di atas lahan milik Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) DKI Jakarta. Agus adalah Pembina SAAJA. Lokasi tersebut awalnya menjadi posko banjir ketika banjir musiman yang terjadi di tahun 2001.

Ayah, panggilan akrab Agus di SAAJA. Agus menceritakan SAAJA didirikan oleh almarhum Ahmad Farid Faqih. Ahmad Farid Faqih tidak lain ialah sahabat sekaligus teman diskusi dan berdebat Agus yang menaruh perhatian besar terhadap anak-anak jalanan.

Suatu ketika, Agus bercerita pada tahun 1999 almarhum Ahmad Farid Faqih mengajak dirinya dan rekannya berjalan ke sejumlah lokasi di Jakarta. Ketika itu, mereka manyaksikan sendiri bagaiamna banyak anak-anak yang menghabisakan waktunya di jalanan dengan mengamen, mengimis atau menjadi joki 3 in 1.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Pembina Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA), Agus. (Suara.com/Yasir)

“Saya ingat betul itu, almarhum Ahmad Farid Faqih bilang ke saya, ‘apa lu tega lihat adik-adik kita kaya begitu?’” tuturnya.

Agus yang terus kepikiran atas perkataan Ahmad Farid Faqih, akhirnya tergerak untuk memikirkan bagaimana caranya untuk menyediakan ruang agar anak-anak tidak lantas turun ke jalanan. Sampai pada akhirnya, berdirilah SAAJA pada tahun 2001 yang ketika itu berada di bawah binaan almarhum Ahmad Farid Faqih.

Laki-laki kelahiran Seragen, 4 Agustus 1969 itu mengungkapkan lokasi beridirnya SAAJA di tengah-tengah bangunan megah pusat perkantoran dan bisnis bukan tanpa alasan. Selain dulunya Jalan RH Rasuna Said menjadi titik kumpul anak jalanan, menurutnya hal itu secara tidak langsung sebagai kritik terhadap pemerintah bahwasannya di tengah-tengah pusat perkotaan ini masih ada ketimpangan terkait pemerataan pendidikan.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

“Gubuk - gubuk ini juga sebagai simbol bahwa masih ada di kota metropolitan itu akses pemerataan pendidikan belum menyeluruh, itu filosofi awalnya. Artinya, ada suasana kontras yang memang pemerintah seharusnya melihat itu,” ungkapnya.

Anak-anak berbaris

Agus mengajak Suara.com menemui langsung anak-anak di kelas pendidikan anak usia dini (PAUD) SAAJA. Kami disambut meriah para siswa yang rata-rata berusia 4-6 tahun.

“Ayo baris dan salim sama kakak,” ucap Agus.

Agus menyebutkan setidaknya ada sekitar 83 siswa PAUD SAAJA. Mereka terbagi kedalam tiga kelas, yakni kelas pagi, siang dan sore.

Laki-laki lulusan Akademi Sekretari Manajeman Indonesia (ASMI) itu menjelaskan, anak-anak di kelas PAUD mengikuti waktu pembelajaran selama 2 jam. Mereka mendapatkan pendampingan bagaimana mengekspresikan diri, mengenal lingkungan hingga belajar baca, tulis, dan hitung (calistung).

“Kita lebih membangun karakter mereka untuk berani tampil dalam mengekspresikan diri. Tidak lebih dari dua jam, mereka bermain sambil belajar. Karena bermainnya anak itu juga bagian dari belajar,” imbuhnya.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Berkenaan dengan itu, Agus mengatakan bagi anak-anak yang telah lulus dari PAUD SAAJA nantinya akan diberikan sertifikat. Awalnya, Agus mengatakan banyak sekolah-sekolah tingkat sekolah dasar (SD) yang meragukan bahkan menolak anak-anak lulusan dari PAUD SAAJA. Namun, kekinian justru sekolah-sekolah tersebut mengakui kalau anak PAUD lulusan SAAJA justru dinilai cenderung lebih siap secara mental dan akademis daripada PAUD lainnya.

“Awalnya banyak yang menolak dan ragu. Tapi sekarang mereka malah mengakui kalau anak-anak dari SAAJA justru dinilai lebih berprestasi. Itu yang menurut saya jadi kebahagiaan yang tak ternilai harganya,” ucap Agus.

Cerita Cindy

Sementara itu, Agus mengatakan untuk tenaga pengajar sendiri, PAUD SAAJA memilik empat tenaga pengajar tetap. Di samping itu, juga ada tenaga pengajar dari relawan-relawan, salah satunya Cindy (21).

Cindy mengaku sudah satu tahun belakangan ini menjadi relawan pengajar di PAUD SAAJA. Awalnya, mahasiswi Psikologi Atma Jaya itu menuturkan hendak melakukan tugas kuliahnya untuk mengobservasi PAUD SAAJA. Namun setelah terjun langusung dan menyaksikan bagaimana kondisi di PAUD SAAJA dirinya tertarik untuk menjadi relawan tenaga pengajar.

Warga Grogol, Jakarta Barat itu mengatakan sempat terkejut tatkala kali pertama mengetahui adanya PAUD SAAJA dengan bangunan gubuk di tengah-tengah pusat kota. Pasalnya, sejauh ini dirinya mengenal kota Jakarta Selatan identik dengan pusat perkantoran, bisnis dan wilayah yang dihunin oleh kalangan menengah ke atas.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Cindy mengatakan menjadi pengajar di PAUD tidak lah mudah. Banyak tantangan yang dihadapinya untuk bisa lebih memahmai karakter anak-anak tersebut. Terlebih, Cindy mengatakan hal itu menjadi pengalaman pertamanya mengajar anak di usia 4-6 tahun.

Kecintaan Cindy pada anak-anak menjadi alasannya dirinya selama setahun ini menjadi relawan tenaga pengajar di PAUD SAAJA. Selain itu, melihat semangat dan antusiame para siswa PAUD SAAJA turut menjadi bekal bagi dirinya untuk terus membantu sebagai tenaga pengajar. Cindy menilai semua anak-anak berhak mendapatkan pendidikan dengan latar belakang ekonomi apapun.

“Mereka memang harus mendapatkan pendidikan usia dini, mau latar belakang keluarga atau ekonomi apapun, mereka harus dapat pendidikan,” tutur Cindy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Esa Unggul Gandeng Universitas di China

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Esa Unggul Gandeng Universitas di China

Press Release | Rabu, 06 Februari 2019 | 11:30 WIB

Anies Berikan Angpao dan Lepas Burung Pipit di Vihara Dharma Bhakti

Anies Berikan Angpao dan Lepas Burung Pipit di Vihara Dharma Bhakti

News | Selasa, 05 Februari 2019 | 13:58 WIB

Dukung Pengembangan Pendidikan, Indosat Ooredoo Donasikan Komputer

Dukung Pengembangan Pendidikan, Indosat Ooredoo Donasikan Komputer

Tekno | Rabu, 30 Januari 2019 | 12:03 WIB

Cari 100 Ribu Pegawai, Pemerintah Buka Lowongan CPNS  Juni 2019

Cari 100 Ribu Pegawai, Pemerintah Buka Lowongan CPNS Juni 2019

News | Kamis, 24 Januari 2019 | 13:05 WIB

JK Sebut Angka Kasus Kelaparan Menurun dan Tingkat Pendidikan Membaik

JK Sebut Angka Kasus Kelaparan Menurun dan Tingkat Pendidikan Membaik

Bisnis | Senin, 17 Desember 2018 | 14:01 WIB

Terkini

KPK Sebut Bos Maktour dan Eks Dirjen Haji Berpotensi Jadi Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji

KPK Sebut Bos Maktour dan Eks Dirjen Haji Berpotensi Jadi Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji

News | Rabu, 01 April 2026 | 12:06 WIB

Populasi Dunia Tembus 8,2 Miliar, Studi Sebut Bumi Sudah Kelebihan Beban

Populasi Dunia Tembus 8,2 Miliar, Studi Sebut Bumi Sudah Kelebihan Beban

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:55 WIB

Panas! Iran Tolak Gencatan Senjata Perang

Panas! Iran Tolak Gencatan Senjata Perang

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:53 WIB

BBM Batal Naik per 1 April 2026, Antrean SPBU Kembali Normal

BBM Batal Naik per 1 April 2026, Antrean SPBU Kembali Normal

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:49 WIB

China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran

China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:45 WIB

Skandal Cukai Rokok, KPK Periksa Pengusaha Liem Eng Hwie Terkait Dugaan Suap di Bea Cukai

Skandal Cukai Rokok, KPK Periksa Pengusaha Liem Eng Hwie Terkait Dugaan Suap di Bea Cukai

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:31 WIB

Baru Mendarat, Pasukan Elit Amerika untuk Serang Iran Mau Ditarik Lagi

Baru Mendarat, Pasukan Elit Amerika untuk Serang Iran Mau Ditarik Lagi

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:27 WIB

Jurus Pramono Cegah ASN Jakarta 'Keluyuran' Saat WFH Jumat, Ini yang Bakal Dilakukan

Jurus Pramono Cegah ASN Jakarta 'Keluyuran' Saat WFH Jumat, Ini yang Bakal Dilakukan

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:22 WIB

Serbuan Perantau Pasca Lebaran: Jakarta Masih Jadi Ladang Emas atau Jebakan Kemiskinan?

Serbuan Perantau Pasca Lebaran: Jakarta Masih Jadi Ladang Emas atau Jebakan Kemiskinan?

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:17 WIB

Terkuak, Pelaku Mutilasi Bekasi Jual Motor Vario dan Beat Milik Korban Lewat Facebook

Terkuak, Pelaku Mutilasi Bekasi Jual Motor Vario dan Beat Milik Korban Lewat Facebook

News | Rabu, 01 April 2026 | 11:16 WIB