Ini Isi Pidato Kontemplasi Lengkap SBY di Cikeas

Dwi Bowo Raharjo | Stephanus Aranditio | Suara.com

Senin, 09 September 2019 | 21:50 WIB
Ini Isi Pidato Kontemplasi Lengkap SBY di Cikeas
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampaikan pidato kontemplasi. (Suara.com.Tio)

Suara.com - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato kontemplasi dalam memperingati tiga momen; ulang tahun ke-70 SBY, HUT ke-18 Partai Demokrat, dan 100 hari wafatnya Ani Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (9/9/2019) malam.

Dalam pidatonya, SBY menyampaikan tiga hal penting yang menjadi pokok pikirannya bagi bangsa Indonesia saat ini.

Ketiga poin ini diharapkan SBY bisa menjadi salah satu acuan bagi presiden terpilih Joko Widodo dalam memimpin bangsa Indonesia periode 2019-2024.

Berikut isi pidato kontemplasi full SBY:

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menyampaikan pidato politik tepat di hari kelahirannya sekaligus bertepatan dengan 100 hari wafat sang istri, Ani Yudhoyono. (Suara.com/Tyo)
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menyampaikan pidato politik tepat di hari kelahirannya sekaligus bertepatan dengan 100 hari wafat sang istri, Ani Yudhoyono. (Suara.com/Tyo)

Pidato Kontemplasi
Prof DR H. Susilo Bambang Yudhoyono
Ketua Umum Partai Demokrat
Pada Acara
100 Hari Wafatnya Ani Yudhoyono
HUT 18 tahun Partai Demokrat
70 tahun SBY
Jakarta, 9 September 2019

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Orang bijak berkata, “Setiap hari berbeda, setiap hari punya makna” Juga, “Setiap hari ibadah, setiap hari kita mencari berkah” Demikian pula hari ini 9 September 2019
Selain itu, saya yakin kita semua, yang hadir di tempat ini, saat ini, tentulah ingin agar .“Hari ini lebih baik dari hari kemarin”, dan “Hari esok lebih baik dari hari ini”

Karenanya, jika hari ini saya menyampaikan “Pidato Kontemplasi”, saya sungguh berniat dan memohon kepada Tuhan, Allah SWT, agar hari esok dan kedepannya lagi, kita bisa melakukan sesuatu yang bermakna dan bisa berbuat yang lebih baik. Baik sebagai umat hamba Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, maupun sebagai warga bangsa Indonesia tercinta, bahkan warga dunia yang mendambakan dunianya makin baik di masa depan

Para Sahabat,
Lewat tengah malam, memasuki hari baru 9 September 2019 ini, saya terbangun dari tidur.

Saya yakin, hal itu bukan hanya kebetulan. Tetapi, Sang Pencipta mengingatkan saya bahwa usia saya genap 70 tahun. Karenanya, saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, atas segala karunia yang diberikan kepada saya.

Betapa Maha Pengasih dan Maha PemurahNya Tuhan Sang Pencipta. Namun, segera saya sadari, rasa syukur dan bahagia tersebut berbarengan pula dengan rasa haru dan duka.

Sepuluh hari yang lalu, sepuluh hari menjelang hari kelahiran saya ini, Ibunda tercinta, yang melahirkan saya 70 tahun yang lalu, tepat tanggal 9 September 1949,
telah dipanggil oleh Allah SWT.

Rasa duka yang lain adalah ini adalah hari ulang tahun yang pertama, yang di tengah malam yang hening, tak ada lagi yang memeluk saya, seraya membisikkan kata-kata yang indah “Selamat Ulang Tahun, Pepo. Happy Birthday. Panjang usia, bahagia dan sukses selalu”

Karena, karena orang yang setiap tahun melakukan itu, isteri tercinta, 100 hari yang lalu juga telah berpulang ke Rahmatullah. Meskipun, isteri tercinta Ani Yudhoyono, akan selalu berada dihati saya. Menyatu dengan memori indah, yang kami bangun selama 43 tahun bersamanya.
Inilah kehidupan.

Penuh paradox. Satu titik, dua sisi. Dua sisi dari satu mata uang logam. Kodrat keseimbangan dalam domain kekuasaan Tuhan. Semua hukum kehidupan ini, hadir dan kita rasakan hari ini. Paling tidak untuk diri saya secara pribadi.

Disatu sisi saya bersyukur, bahagia dan bergembira, karena hari ini usia saya genap 70 tahun.Juga gembira, karena di antara yang hadir juga ada teman-teman seperjuangan dari Partai Demokrat, yang hari ini memperingati hari jadi Partai yang ke 18 tahun.

Namun, disisi lain, saya bersedih, Bersedih, karena, kedua orang yang amat saya sayangi, tidak bisa lagi ikut bersyukur dan berbahagia di hari yang istimewa ini, 9
September 2019.

Para sahabat, dengan mukadimah seperti itu, Ijinkan saya untuk menyampaikan Pidato Kontemplasi saya. Semoga hadirin sekalian berkenan mendengarkannya.

Kontemplasi yang hendak saya sampaikan ini berangkat dari apa yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya selama ini. Dalam bentangan waktu 70 tahun usia saya, saya hidup dalam 3 penggal sejarah yang berbeda Era Presiden Soekarno, Era Presiden Soeharto, dan Era
Reformasi.

Kita tahu, masing-masing era memiliki semangat zaman, kehidupan, dan corak sejarah yang berbeda-beda.

Dari sisi profesi dan pengabdian, 20 tahun saya menjadi warga sipil dan seorang pemuda yang menempuh pendidikan awal, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, 15 tahun mengabdi di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden, dan kemudian, 5 tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat sipil.

Dalam kurun waktu yang panjang inilah, saya mengarungi berbagai ragam kehidupan yang dinamis, sarat dengan pasang dan surut, suka dan duka, serta sukses dan gagal

Namun, saya bersyukur karena dapat memetik berbagai hikmah dan pelajaran, dan menjadikan perjalanan hidup saya sebagai universitas yang abadi

Mungkin para sahabat akan bertanya, lantas apa hikmah dan pelajaran yang saya petik?

Jawaban saya, tentu banyak. Banyak sekali. Karena banyak, dalam kontemplasi ini saya ingin memilih beberapa.

Dan, pilihan saya adalah hikmah dan pelajaran apa yang saya dapatkan dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini, baik dalam kapasitas saya sebagai rakyat, maupun sebagai pemimpin.

Pemimpin dalam berbagai tingkatan, Mulai dari tingkat bawah hingga puncak. Juga pemimpin dalam berbagai cabang kehidupan, militer, politik dan pemerintahan.

Berbicara tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, cakupannya bisa sangat luas, elemennya juga banyak.

Karenanya, saya ingin mendekatinya dengan pikiran dan pertanyaan yang sederhana Mari kita renungkan bersama, dan apa jawaban kita terhadap pertanyaan seperti ini "Ingin menjadi manusia seperti apa diri kita?”

Hampir pasti setiap orang punya jawabannya sendiri-sendiri. Yang jelas, apapun narasinya, setiap orang pasti ingin menjadi manusia yang baik, hidupnya baik, dan membawa pula kebaikan bagi yang lain.Kalau kita lebarkan dan tingkatkan cakupannya, misalnya “Lantas masyarakat seperti apa yang kita inginkan?”

Jawabannya, pastilah kita ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, "A Good Society” Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa “A Good Nation, A Good Country”.

Kalau kita membaca literatur dan mempelajarai definisi dan kriteria apa itu masyarakat yang baik (good society) dan negara yang baik (good country), akan kita dapati bahwa rumusannya ada yang sifatnya universal, namun ada juga yang khas negara tertentu

Tentu, kontemplasi saya ini tidak hendak menguraikan apa rumusan yang sering dirujuk oleh banyak negara itu bukan.

Justru di sinilah, saya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dan dapatkan sendiri, dari berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan dan pengabdian di negeri ini.

Untuk mempersingkat uraian saya, saya ingin langsung memberi judul dan rumusan seperti ini: “Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti apa yang sepatutnya kita anut dan jalankan, agar masyarakat kita menjadi “the good society”, dan agar pada gilirannya, Indonesia menjadi “the good country”.

Yang ingin saya kedepankan ini adalah pandangan dan pendapat saya, berangkat dari pengamatan dan pengalaman yang panjang. Tentulah, hadirin bisa
bersetuju atau tidak.

Saya akan mulai dari yang pertama, yaitu tentang bagaimana masyarakat yang baik dapat kita hadirkan. Kita tahu, masyarakat dan bangsa Indonesia amat majemuk.

Majemuk dari segi identitas, misalnya berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga mejemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi, serta dari segi strata sosial-ekonomi.

Sejarah menunjukkan, bahwa kemajemukan ini di satu sisi adalah anugerah kekayaan dan kekuatan.

Namun, di sisi lain adalah kerawanan, sumber konflik dan juga kelemahan.

Karenanya, tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan, kecuali secara sadar kita memperkuat 2 nilai fundamental dan kemudian menjalankannya
dengan sungguh-sungguh, Apa itu?

Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred),

Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia,dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) diantara
masyarakat yang berbeda identitas.

Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan diantara komponen bangsa yang berbeda identias menguat Ini lampu kuning. Ini sebuah fenomena dan arus buruk yang membahayakan
masyarakat dan bangsa kita.

Kita semua, harus mengambil tanggung jawab untuk menghentikan dan membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, Untuk selanjutnya kembali ke arah
yang benar.

Ini yang pertama, yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita. Berikut ini adalah yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi. Para pendiri republik, para “founding fathers”, menggariskan sebuah cita-cita besar untuk membangun masyarakat dan bangsa yang adil dan makmur.

Nilai dan perilaku kehidupan penting yang mesti kita anut adalah marilah kita berihtiar seraya bergandengan tangan, agar bisa makmur bersama-sama.

Kalau semua makmur, semua sejahtera, rasa keadilan akan datang dan bersemi di negeri ini. Realistiknya adalah yang miskin makin berkurang, dan ketimpangan sosial
ekonomi tidak semakin menganga.

Yang kaya mesti ingat yang miskin, yang kuat mesti ingat yang lemah

Sementara itu, di arena kehidupan politik, ada pula yang harus kita jaga secara bersama.

Esensinya, Ke depan, politik kita harus makin menjadi politik yang baik Bagi bangsa yang majemuk, Yang juga menganut sistem demokrasi multi partai, politik kita harus makin guyub, makin inklusif, dan makin teduh.

Demokrasi tak harus selalu diwarnai dan diselesaikan dengan “one person one vote”, tapi juga ada semangat yang lain.

Kompromi dan konsensus yang adil dan membangun bukanlah jalan dan cara yang buruk.

Prinsip “the winner take all” yang ekstrim, seringkali tidak cocok dengan semangat kekeluargaan dan keterwakilan bagi masyarakat dan bangsa yang majemuk.

Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti itulah, yang menurut pandangan dan pendapat saya mesti dibangun dan dimekarkan di negeri ini.

Jika sungguh kita lakukan, insya Allah, kita akan benar-benar bisa menghadirkan “Masyarakat yang baik”, “Ekonomi yang baik” dan “Politik yang baik”.

Terakhir, ini adalah forum dan kesempatan yang baik bagi saya untuk menyampaikan satu hal yang harus menjadi pemahaman Bersama Membangun bangsa dan negara bukanlah pekerjaan sekali jadi, apalagi instan.

Diperlukan waktu yang panjang, serta ihtiar dan kerja besar yang mesti dilakukan secara terus menerus.

Tak ada perjalanan dan pembangunan bangsa yang bebas dari rintangan, termasuk dinamika dan pasang surutnya. Karenanya, kita harus bersabar, tak putus asa dan lekas menyerah.

Namun, kita harus sungguh gigih, dan bekerja sekuat tenaga, agar Indonesia semakin maju dan berjaya di masa depan.

Pemilihan Umum baru selesai kita lakukan. Rakyat telah memberikan mandatnya kepada kepemimpinan yang baru.

Dalam kapasitas saya selaku pribadi dan pemimpin Partai Demokrat, saya mengajak saudara-saudara kami rakyat Indonesia, untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada pemimpin dan pemerintahan yang baru, agar sukses dalam mengemban amanah rakyat.

Melalui mimbar kecil di Cikeas ini, saya menitipkan harapan kepada Bapak Presiden Jokowi beserta jajaran
pemerintahan yang beliau pimpin, agar kiranya materi kontemplasi yang saya sampaikan malam ini, dapat melengkapi agenda, kebijakan dan langkah tindakan yang diambil oleh negara dan pemerintahan mendatang.

Saya tahu, membangun nilai dan perilaku menuju terciptanya masyarakat yang baik, bangsa yang baik, dan negara yang baik, adalah merupakan agenda berkesinambungan, dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya, dan dari satu generasi ke generasi yang lain,
namun, semuanya harus dimulai dari sekarang.

Demikian pidato kontemplasi saya, atas kesabaran dan perhatian hadirin saya ucapkan terima kasih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

SBY Sedih Tak Ada Lagi Pelukan dan Ucapan Selamat Ulang Tahun Pepo

SBY Sedih Tak Ada Lagi Pelukan dan Ucapan Selamat Ulang Tahun Pepo

News | Senin, 09 September 2019 | 21:21 WIB

Pidato Kontemplasi, SBY: Pertama Kasih Sayang, Bukan Kebencian

Pidato Kontemplasi, SBY: Pertama Kasih Sayang, Bukan Kebencian

News | Senin, 09 September 2019 | 20:59 WIB

SBY Minta Jokowi Dengarkan Pidato Kontemplasinya

SBY Minta Jokowi Dengarkan Pidato Kontemplasinya

News | Senin, 09 September 2019 | 20:47 WIB

SBY Akan Pidato Kontemplasi Pada Tiga Peristiwa Sekaligus di Cikeas

SBY Akan Pidato Kontemplasi Pada Tiga Peristiwa Sekaligus di Cikeas

News | Senin, 09 September 2019 | 18:55 WIB

Terkini

Kapolri Bakal Lakukan Revisi Perkap Hingga Perpol Usai Terbitnya Rekomendasi KPRP

Kapolri Bakal Lakukan Revisi Perkap Hingga Perpol Usai Terbitnya Rekomendasi KPRP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:05 WIB

Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas

Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:45 WIB

3 Bos KoinWorks Dijebloskan ke Bui, Skandal Korupsi Kredit Rp 600 Miliar

3 Bos KoinWorks Dijebloskan ke Bui, Skandal Korupsi Kredit Rp 600 Miliar

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:45 WIB

Soal Ketimpangan Personel Polri, Kapolri: Ada yang Harus Dirampingkan dan Diperkuat

Soal Ketimpangan Personel Polri, Kapolri: Ada yang Harus Dirampingkan dan Diperkuat

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:40 WIB

Jangan Cuma Salahkan Sopir! DPR Soroti Kondisi Jalan Nasional di Balik Kecelakaan Maut Bus ALS

Jangan Cuma Salahkan Sopir! DPR Soroti Kondisi Jalan Nasional di Balik Kecelakaan Maut Bus ALS

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:38 WIB

Resmi! Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Siap Pilih Ketum PBNU dan Rais Aam

Resmi! Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Siap Pilih Ketum PBNU dan Rais Aam

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:36 WIB

Listyo Sigit Buka Suara soal Rekomendasi Calon Kapolri Harus Punya Sisa Masa Dinas 2-3 Tahun

Listyo Sigit Buka Suara soal Rekomendasi Calon Kapolri Harus Punya Sisa Masa Dinas 2-3 Tahun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:36 WIB

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama Muncul di Dakwaan Korupsi, Menkeu: Tak Dinonaktifkan

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama Muncul di Dakwaan Korupsi, Menkeu: Tak Dinonaktifkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Gus Ipul Bantah Tahan SK Jelang Muktamar PBNU: Itu Kabar Menyesatkan

Gus Ipul Bantah Tahan SK Jelang Muktamar PBNU: Itu Kabar Menyesatkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:16 WIB

Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam

Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12 WIB