Pengamat: Jokowi Bagi-bagi Kursi Kabinet Demi Nasibnya Nanti

Reza Gunadha | Rifan Aditya
Pengamat: Jokowi Bagi-bagi Kursi Kabinet Demi Nasibnya Nanti
Pengamat politik Hendri Satrio di ILC TV One (Youtube Indonesia Lawyers Club)

Hendri Satrio juga menyinggung keikutsertaan Gibran Rakabuming dalam PIlkada Solo.

Suara.com - Pengamat politik Hendri Satrio memberikan pandangannya terkait mengapa Presiden Jokowi harus membagi-bagi kursi kabinet.

Menurut Hendri, Jokowi punya maksud lain selain membahagiakan banyak orang dengan membagi jabatan menteri dan wakil menteri dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 ini.

Hal ini disampaikan Hendri ketika menjadi narasumber Indonesia Lawyers Club (ILC) Tv One bertema #ILCMenangisDanTertawa, yang disiarkan pada Selasa (29/10/2019) malam.

Awalnya pembawa acara Karni Ilyas bertanya kepada Hendri, "Dia (Jokowi) bisa jalan sendiri pilih siapa yang dia suka, kenapa dia harus tetap membagi-bagi semua golongan dan partai itu? Apa hanya untuk menyenangkan atau ada maksud lain?"

Hendri Satrio merasa ada maksud lain Presiden Jokowi akhirnya membagi kabinet untuk banyak golongan dan partai politik. Ada kemungkinan ini adalah persiapan Jokowi setelah tidak lagi menjabat Presiden.

"Presiden pasti melihat presiden-presiden sebelumnya. Bagaimana nasib saya kalau sudah tidak jadi presiden. Kan kalau dia sendirian hari ini menentukan nasibnya sendiri, yang senang itu rakyat. Tapi bagaimana nasib dia nanti setelah tidak jadi presiden lagi," ucap Hendri.

Pengamat politik Hendri Satrio di ILC TV One (Youtube Indonesia Lawyers Club)
Pengamat politik Hendri Satrio di ILC TV One (Youtube Indonesia Lawyers Club)

Ia juga menyinggung keikutsertaan Gibran Rakabuming, anak Jokowi dalam Pilkada Solo sebagai sebuah persiapan bagi Jokowi.

"Ini kan ada tahapan-tahapan yang menurut saya ada kaitannya dengan persiapan Pak Jokowi. Pak Jokowi independen, iya, bebas, iya, tapi dia juga berpikir pragmatis," imbuhnya.

Hendri merasa bakal ada agenda-agenda lain yang muncul di kemudian hari untuk kepentingan masing-masing golongan dan partai. Sehingga tidak heran jika Jokowi mengantisipasi hal itu dengan membagi-bagi kursi kabinet.

"Saya sebenarnya capek mendengar teman-temannya bang Fadli Zon yang berbicara, kenapa Prabowo bergabung dengan Jokowi, selalu jawabannya, 'ada hal yang lebih besar untuk bangsa ini', jadi seperti itu menurut saya sudah lah. Enggak usah masyarakat diselimuti dengan kata-kata mengagungkan kebangsaan dan patriotisme," ungkap Hendri.

"Terbuka aja, anda mau bergabung mau ngapain? Apakah keran bisnisnya dibuka? Apakah ada hal lain lagi?" tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah mengumumkan 38 nama menteri dan pejabat setingkat menteri yang akan membantu pemerintahannya bersama Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin untuk periode 2019-2024.

Anggota Kabinet Indonesia Maju didominasi oleh para profesional sebanyak 22 orang. Sementara dari partai politik hanya 16 orang.

Para menteri yang berlatar belakang politik adalah: 1. Airlangga Hartarto; 2. Prabowo Subianto; 3. Yasonna H. Laoly; 4. Juliari Batubara; 5. Ida Fauziah; 6. Agus Gumiwang Kartasasmita; 7. Agus Suparmanto; 8. Johny G. Plate; 9. Syahrul Yasin Limpo; 10. Siti Nurbaya Bakar; 11. Edhy Prabowo; 12. Abdul Halim Iskandar; 13. Suharso Monoarfa; 14. Tjahjo Kumolo; 15. Zainudin Amali; dan 16. Pramono Anung Wibowo.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS