Haris Azhar Ungkap Alasan Polisi Kerap Alami Serangan Aksi Teror

Iwan Supriyatna, Ummi Hadyah Saleh

Sabtu, 16 November 2019 | 21:46 WIB
Haris Azhar Ungkap Alasan Polisi Kerap Alami Serangan Aksi Teror
Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar. (Suara.com/Ummi Hadyah Saleh)

Suara.com - Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar menilai serangan aksi teror yang menyasar kepada aparat kepolisian karena ia menduga polisi kerap diskriminatif terhadap teroris saat melakukan penangkapan.

"Polisi memberikan penanganan khusus untuk kasus-kasus teroris, berbeda kalau kasus penipuan, atau kasus yang kaitkan pengusaha, polisi lebih hati-hati. Tapi kalau teroris, maka keras (Penindakannya). Menurut saya. Itu agak wajar, sebab (polisi) diskriminatif dalam penegakan hukum," ujar Haris di Kedai Sirih Merah, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Pernyataan Haris menyusul ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/2019).

Ia pun mencontohkan kasus terduga teroris Siyono yang meninggal pada 2016 lalu.

Haris mengatakan dari laporan masyarakat, Siyono meninggal akibat penganiayaan saat ditangkap aparat.

Namun kata Haris dari hasil temuan autopsi tim dokter Muhammadiyah Siyono meninggal karena ada pendarahan.

"Karena ada laporan dari masyarakat bahwa Siyono dibunuh dalam penganiayaan. Dan ternyata setelah jasad Siyono diautopsi oleh tim dokter Muhamadiyah ada pendarahan di kepala. Lalu kemudian keluarga istri Siyono diberikan uang oleh polisi," kata Haris.

Haris menuturkan seharusnya aparat kepolisian bisa profesional dalam melakukan penegakkan hukum. Karena itu ia menilai aksi teror bom yang menyasar kepada kepolisian lantaran ada semacam dendam kepada kepolisian.

"Profesionalisme dalam penegakan hukum, ini kalau dilakukan sebenarnya akan bisa meminimalisasi capaian itu. Itu yang menurut saya hal kecil tapi sebenarnya serius. Itu masalahnya di situ saja sebenernya," ucap Haris.

baca juga

"Sebab ada semacam kayak permusuhan. Ada perlakuan khusus. Teroris sasar bom ke polisi itu kan sebenarnya tindakan khusus kepada polisi. Publik suka kesal sama polisi. Tapi kita nggak sukanya kondisional. Tapi kita tetap membutuhkan polisi, bukan benci kepada polisi. Ini beda sama dengan terorisme. Ini beda dengan pemahaman orang awam. Teroris benci kepada institusi. Bukan cuma polisi," sambungnya.

Lebih lanjut, Haris menuturkan jika penanganan terhadap terduga teroris dilakukan dengan benar yakni soft approach, bisa menghindari tensi permusuhan.

"Tapi kalau negara mengadili dengan konsep treatment yang benar saya pikir ini nggak jadi seperti ini (menyasar kepolisian). Jadi ada semacam permusuhan di antara mereka," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaum Milenial Rentan Dijadikan Pengantin Bom Bunuh Diri, Ini Kata Kemenpora

Kaum Milenial Rentan Dijadikan Pengantin Bom Bunuh Diri, Ini Kata Kemenpora

News | Sabtu, 16 November 2019 | 19:41 WIB

Soal Kasus Teror Bom di Medan, Maruf Minta RT/RW Ikut Tangkal Radikalisme

Soal Kasus Teror Bom di Medan, Maruf Minta RT/RW Ikut Tangkal Radikalisme

Video | Jum'at, 15 November 2019 | 19:36 WIB

Bom Bunuh Diri di Medan, JK: Orang Bisa Mempelajarinya dari Internet

Bom Bunuh Diri di Medan, JK: Orang Bisa Mempelajarinya dari Internet

Jogja | Jum'at, 15 November 2019 | 18:37 WIB

Terkini

4 Shio yang Mulai Lepas dari Kesepian setelah 19 September 2026, Kembali Temukan Kehangatan

4 Shio yang Mulai Lepas dari Kesepian setelah 19 September 2026, Kembali Temukan Kehangatan

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 11:08 WIB

Prabowo Singgung PAN Bokek di HUT ke-28: Acara Megah, Utang Belum Lunas

Prabowo Singgung PAN Bokek di HUT ke-28: Acara Megah, Utang Belum Lunas

News | Sabtu, 19 September 2026 | 11:00 WIB

Review Film Just Play Dead: Trik Skenario Kematian Palsu yang Penuh Rahasia

Review Film Just Play Dead: Trik Skenario Kematian Palsu yang Penuh Rahasia

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 11:00 WIB

Hanya Berjarak 15 Km dari Rumah, Lansia di Jombang Tewas Jadi Korban Tabrak Lari Truk

Hanya Berjarak 15 Km dari Rumah, Lansia di Jombang Tewas Jadi Korban Tabrak Lari Truk

Jatim | Sabtu, 19 September 2026 | 10:58 WIB

Sedih Hutan Terus Terbakar, Prabowo Kantongi 95 Nama Perusahaan Nakal

Sedih Hutan Terus Terbakar, Prabowo Kantongi 95 Nama Perusahaan Nakal

News | Sabtu, 19 September 2026 | 10:53 WIB

Sembunyi di Bekas Gudang, Pria di Bandar Lampung Ditangkap Usai Cabuli Anak di Bawah Todongan Pisau

Sembunyi di Bekas Gudang, Pria di Bandar Lampung Ditangkap Usai Cabuli Anak di Bawah Todongan Pisau

Lampung | Sabtu, 19 September 2026 | 10:49 WIB

Review Film Taboo: The Silent Day, Malapetaka di Balik Pengabaian Adat Bali

Review Film Taboo: The Silent Day, Malapetaka di Balik Pengabaian Adat Bali

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 10:45 WIB

Bromo Tutup Akibat Karhutla, Kemenpar Klaim Minat Kunjungan Wisatawan Tidak Menurun

Bromo Tutup Akibat Karhutla, Kemenpar Klaim Minat Kunjungan Wisatawan Tidak Menurun

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 10:42 WIB

Harga Emas Antam Naik Lagi, Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Harga Emas Antam Naik Lagi, Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 10:41 WIB

Danny Setiawan Meninggal Dunia, Eks Gubernur Jabar yang Dikenal Dedi Mulyadi sebagai 'Ahli Kebaikan'

Danny Setiawan Meninggal Dunia, Eks Gubernur Jabar yang Dikenal Dedi Mulyadi sebagai 'Ahli Kebaikan'

News | Sabtu, 19 September 2026 | 10:40 WIB

×