Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:41 WIB
Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa
Polda Kalbar melakukan olah TKP di lokasi siswa lempar bom molotov ke sekolah SMPN 3 Sungai Raya, Kubu Raya. (Ist)
baca 10 detik
  • Sosiolog UGM menilai kasus kekerasan siswa di Kalbar dan Jakarta adalah gejala kegagalan sistem pendidikan otoriter negara.
  • Aksi ekstrem siswa adalah "pedagogi putus asa" muncul karena minimnya ruang dialog keluarga, sekolah, dan negara.
  • Paparan kekerasan melalui media sosial memperparah kondisi, diperburuk lemahnya pengawasan pemerintah terhadap akses digital anak.

Suara.com - Keterkaitan antara kasus pelemparan bom molotov oleh siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya di Kalimantan Barat (Kalbar) ke sekolahnya dengan pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta memicu kritik keras terhadap wajah pendidikan dan kenegaraan Indonesia.

Sosiolog UGM, AB. Widyanta, menilai rentetan aksi nekat ini membuktikan bahwa anak-anak hanyalah korban dari sistem yang sakit. Menurutnya monster sesungguhnya adalah kultur kekerasan yang dipraktikkan oleh negara dan orang dewasa.

"Jadi ini, yang monster itu bukan anak SMP ini. Monster-monsternya itu adalah pejabat publik negeri ini, yang juga dengan telanjang mempraktikkan praktik kekerasan struktural dengan korupsi, kolusi, nepotisme, itu adalah bagian dari itu," tegas Widyanta saat dihubungi Suara.com, Kamis (5/2/2026).

Dalam analisisnya, Widyanta menarik garis merah yang tegas antara kasus di Kalbar dan SMAN 72 Jakarta.

Ia melihat kesamaan pola di mana sekolah gagal menjadi ruang dialog dan justru mereproduksi watak otoriter negara.

Kondisi itu memicu perlawanan dalam bentuk kekerasan ekstrem. Widyanta, bilang dua kasus kekerasan di dua lokasi oleh siswa itu tidak bisa dilepaskan pula dengan fenomena bunuh diri siswa siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai memiliki akar persoalan yang sama.

Ia memperingatkan bahwa fenomena ini tidak boleh dilihat sebagai kejadian kriminal yang terpisah. Melainkan gejala dari kegagalan sistemik yang ia sebut sebagai "pedagogi putus asa".

"Jadi ini nyambung ya. Fenomena ini jangan dibaca sebagai hal yang terpisah. Bunuh diri ataupun molotov adalah bahasa terakhir di mana ruang tidak diberikan oleh keluarga, tidak diberikan oleh sekolah, tidak diberikan oleh negara," ujarnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu menjelaskan bahwa tekanan emosional yang dialami anak-anak akibat kekerasan struktural dan kultural di lingkungan mereka akan berujung pada fatalisme.

baca juga

Ketika sekolah dan keluarga gagal menyediakan ruang dialog, anak dihadapkan pada dua pilihan agresi ekstrem.

Pertama menyerang ke dalam yang membahayakan diri sendiri atau kedua menyerang keluar yang membahayakan orang lain.

"Peristiwa ini tidak jauh berbeda. Kalau mau peristiwa ekstrem yang membahayakan dirinya sendiri, itu dengan fenomena anak SD yang kemarin di NTT bunuh diri itu," tuturnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa perbedaan antara kasus bunuh diri dan pelemparan molotov atau ledakan di Jakarta itu hanyalah pada arah pelampiasan agresinya.

Berbagai tindakan dari siswa tersebut lahir dari represi yang sama, terutama ketika anak merasa terhimpit oleh aturan yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa kanal untuk menyuarakan perasaan atau penderitaan mereka.

"Kalau yang tidak membahayakan orang lain tapi membahayakan dirinya sendiri, itu yang bunuh diri itu. Tapi kalau kemudian dia masih menyalurkan agresi emosionalnya itu keluar, maka yang terjadi adalah bahasa destruktif seperti itu," paparnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lempar Bom ke Sekolah, Siswa SMP di Kubu Raya Ternyata Terpapar TCC dan Jadi Korban Perundungan

Lempar Bom ke Sekolah, Siswa SMP di Kubu Raya Ternyata Terpapar TCC dan Jadi Korban Perundungan

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 16:02 WIB

Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX

Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 14:56 WIB

Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi

Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 14:47 WIB

Geger! Bom Molotov Dilempar ke Sekolah di Kubu Raya

Geger! Bom Molotov Dilempar ke Sekolah di Kubu Raya

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 14:15 WIB

Terkini

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

News | Rabu, 04 November 2026 | 23:56 WIB

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Entertainment | Rabu, 04 November 2026 | 23:23 WIB

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Jabar | Rabu, 04 November 2026 | 22:37 WIB

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 22:16 WIB

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:15 WIB

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Health | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:32 WIB

×