Warga Jorong Polong Dua Sumbar: Kami Tinggal Menunggu Ditimbun Longsor

Rima Sekarani Imamun Nissa
Warga Jorong Polong Dua Sumbar: Kami Tinggal Menunggu Ditimbun Longsor
Warga membawa sepeda yang masih bisa diselamatkan di rumahnya yang tertimbun material tanah longsor di Desa Bojongsari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (8/11). [ANTARA FOTO/Adeng Bustomi]

Bencana longsor mengancam ratusan warga Jorong Polong Dua, Sumatera Barat.

Suara.com - Dampak aktivitas tambang yang diperparah tingginya intensitas hujan menyebabkan tanah di Jorong Batu Hampa dan Jorong Simpang Tiga, Kenagarian Koto Alam, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mengalami keretakan parah hingga selebar satu meter.

Seorang warga Jorong Polong Dua, Ilham Uwo mengatakan, retakan tanah tersebut kurang lebih sepanjang 300 meter.

"Selain aktivitas pertambangan yang menggunakan bahan peledak, juga diperparah intensitas hujan yang tinggi," kata Ilham, Kamis (12/12/2019) melansir Antara.

Ilham menuturkan, meski retakan berada di Jorong Batu Hampa, hal itu juga mengancam Jorong Polong Dua. Saat ini, lebih dari 300 jiwa di jorong Polong Dua dihantui tanah longsor dari Jorong Batu Hampa.

"Sekarang di Polong Dua tinggal menunggu tanah yang roboh saja dari Jorong Batu Hampa. Retakannya sudah selebar satu meter. Kami yang di Jorong Polong Dua, tinggal menunggu ditimbun oleh longsoran dari atas," ungkapnya.Ia lalu memamaparkan, tiga tahun lalu retakan tanah di atas desanya ini belum ada. Retakan tersebut baru terlihat dalam dua tahun terakhir yang juga bertepatan dengan aktivitas tambang.

"Orang yang menambang itu pakai dinamit. Tidak jauh dari sini, hanya berkisar satu kilometer," kata dia.

Sedangkan di Jorong Simpang Tiga, retakan tanah dilaporkan telah merusak enam unit rumah. Para korban pun memilih mengungsi ke rumah keluarganya.

Menurut salah seorang pemilih rumah bernama Uwan, sejak curah hujan tinggi beberapa hari terakhir, terjadi gerakan tanah yang membuat dinding dan pondasi rumah menjadi retak.

"Rumah saya tidak jauh dari lokasi longsor pada Selasa (10/12/2019). Ada gerakan tanah dan rumah saya sudah rusak," ujarnya.

Sementara itu, Wali Nagari Koto Alam Abdul Malik mengatakan adanya pergerakan tanah di Koto Alam akibat curah hujan tinggi beberapa hari terakhir. Dia juga membenarkan adanya enam unit rumah yang rusak.

"Memang ada enam unit rumah rusak. Itu akibat curah hujan yang tinggi di Koto Alam dan membuat tanah bergerak," kata Abdul Malik.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS