WNI eks Wuhan Pulang dari Karantina Corona di Natuna Naik Pesawat TNI

Pebriansyah Ariefana | Fakhri Fuadi Muflih
WNI eks Wuhan Pulang dari Karantina Corona di Natuna Naik Pesawat TNI
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Hubei, China melakukan senam bersama prajurit TNI pada hari kesembilan di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Senin (10/2). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Namun tidak seperti saat penjemputan, kali ini mereka tak diantar menggunakan maskapai swasta Batik Air.

Suara.com - Sebanyak 238 Warga Negara Indonesia (WNI) dipulangkan dari Natuna, Kepulauan Riau siang ini. Rencananya, masa observasi WNI setelah dijemput dari Wuhan, China akan berakhir hari ini pukul 12.00 WIB.

Setelahnya, mereka akan diantar menuju ke Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Namun tidak seperti saat penjemputan, kali ini mereka tak diantar menggunakan maskapai swasta Batik Air.

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, WNI itu diantar ke Halim menggunakan pesawat dari TNI. Namun ia tidak mengetahui jenis pesawat yang dipakai.

"Ini masih koordinasi juga. Yang jelas menggunakan pesawat dari TNI," ujar Danang saat dihubungi, Sabtu (15/2/2020).

Ia mengaku juga belum mengetahui jadwal para WNI itu tiba di Bandara. Danang mengaku masih berkoordinasi dengan pihak TNI.

"Terkait dengan operasional yang itu saya belum bisa menjelaskan detail, karena saya masih koordinasi," tuturnya.

Alasan Batik Air sebelumnya digunakan sebagai pesawat untuk menjemput karena memiliki kapasitas yang bisa menampung banyak orang. Karena menggunakan pesawat TNI yang berkapasitas lebih sedikit, ia memperkirakan akan ada lebih dari satu pesawat yang digunakan.

"Iya, pasti (lebih dari satu)," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto meminta dinas kesehatan tetap memantau warga negara Indonesia (WNI) yang pulang dari observasi di Natuna meski menekankan bahwa mereka semua dalam keadaan sehat.

"Setelah pulang kita minta dinas kesehatan memantau, namanya surveillance tracking. Itu terus dikerjakan. Itu otomatis. Tapi tidak kayak intelijen terus diperiksa, itu adalah sebuah pengamatan yang sifatnya nyaman dan kekeluargaan sehingga semuanya tidak ada hal yang membuat resah atau apalah," kata Menkes Terawan ketika ditemui di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu pagi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS