Buntut Wabah Virus Corona, Wacana Larangan Makan Anjing Heboh di China

Dany Garjito | Rifan Aditya
Buntut Wabah Virus Corona, Wacana Larangan Makan Anjing Heboh di China
Satu juta warga Australia dan negara lain menandatangani petisi agar pemerintah Indonesia bisa menyetop kebiasaan sejumlah kelompok masyarakat yang memakan daging anjing dan kucing. [Dog-Meet Free Indonesia]

Jika lolos, ini akan menjadi undang-undang pertama di China yang melarang mengonsumsi daging anjing.

Suara.com - Anggota parlemen dari Shenzhen mengusulkan untuk membuat undang-undang larangan makan daging anjing di China. Wacana mencuat setelah virus corona baru (Covid-19) mewabahkan di seluruh dunia.

Larangan ini bertujuan untuk meningkatkan jaminan keamanan makanan.

Dilaporkan Dailymail, (27/2/2020), anggota parlemen dari Shenzhen, sebuah kota berpenduduk sekitar 13 juta orang, mempublikasikan proposal tersebut di situs web pemerintahnya.

Mereka saat ini menunggu umpan balik dari masyarakat sebelum menandatanganinya menjadi undang-undang.

Jika usulan undang-undang dari Shenzhen ini diloloskan, maka akan menjadi undang-undang pertama di China yang melarang mengonsumsi daging anjing.

Para pejabat menggambarkan larangan tersebut sebagai "persyaratan peradaban universal bagi masyarakat modern".

Menurut dokumen itu, hanya ada sembilan jenis ternak yang cocok untuk dimakan orang, yaitu: babi, sapi, domba, keledai, kelinci, ayam, bebek, angsa dan merpati. Daging hewan air yang diizinkan oleh hukum juga boleh dikonsumsi.

Seorang juru bicara mengatakan pemerintah ingin memudahkan masyarakat untuk mengetahui apa yang bisa dimakan.

"Ada begitu banyak spesies hewan di alam. Di negara kita sendiri, ada lebih dari 2.000 jenis spesies hewan liar yang dilindungi," katanya.

"Jika pemerintah setempat ingin membuat daftar hewan liar yang tidak boleh dimakan, itu akan terlalu panjang dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan tepat hewan apa yang bisa dimakan," imbuhnya.

Aktivis mendukung

Kelompok amal Humane Society International mengatakan mereka menyambut baik usulan anggota parlemen Shenzhen untuk melarang konsumsi anjing dan juga daging kucing.

Ilustrasi anjing. (Pixabay/kim_hester)
Ilustrasi anjing. (Pixabay/kim_hester)

Peter Li, Ahli Kebijakan China dari kelompok itu mengatakan kepada MailOnline, "Meskipun perdagangan di Shenzhen cukup kecil dibandingkan dengan provinsi lainnya, Shenzhen masih merupakan kota besar yang lebih besar dari Wuhan sehingga ini akan sangat signifikan dan bahkan dapat memiliki efek domino dengan mengikuti kota-kota lain".

Ia menambahkan, "Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa anjing dan kucing tidak menimbulkan ancaman virus corona, tapi kekinian, tidak mengherankan jika perhatian beralih ke hal ini. Karena selain juga menyebabkan kekejaman yang sangat besar terhadap hewan peliharaan. Perdagangan daging anjing tidak diragukan lagi menimbulkan risiko kesehatan manusia yang sangat besar, seperti penyakit rabies".

Festival Daging Anjing Yulin jadi hambatan

Namun larangan ini akan menemui hambatan. Pasalnya, di China ada Festival Daging Anjing Yulin.

Salah satu festival kuliner tahunan paling kontroversial di Tiongkok.

Festival itu menunjukkan ribuan anjing dibunuh dengan kejam, dikuliti dan dimasak dengan obor.

Lalu anjing-anjing ini dimakan oleh penduduk setempat.

Selain anjing, larangan itu juga rencananya diusulkan untuk daging ular, katak dan kura-kura.

Wacana itu muncul setelah China melarang semua perdagangan dan konsumsi hewan liar, sebuah praktik yang diyakini bertanggung jawab atas epidemi Covid-19 di negara itu.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS