Siti Maimunah: Perlawanan Perempuan di Lingkar Tambang Adalah Politik Penyelamatan Ruang Hidup

Erick Tanjung

Jum'at, 13 Maret 2026 | 21:34 WIB
Siti Maimunah: Perlawanan Perempuan di Lingkar Tambang Adalah Politik Penyelamatan Ruang Hidup
Sejumlah warga Srigading dan Tirtohargo, membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas penambangan pasir ilegal di Muara Sungai Opak, Bantul. [Muhammad Ilham Baktora/SuaraJogja.id]
baca 10 detik
  • Siti Maimunah sebut perlawanan perempuan lingkar tambang adalah politik penyelamatan ruang hidup.
  • Mbak May nilai kerusakan alam berdampak langsung pada kesehatan reproduksi tubuh perempuan.
  • Aktivis dorong Politik Sakbendino dan kedaulatan pangan guna melawan industri ekstraktif.

Suara.com - Dalam diskusi daring bertajuk "Perempuan di Lingkar Tambang Terus Mengalami Kekerasan" pada Jumat (13/3/2026), Siti Maimunah atau akrab disapa Mbak May, memberikan penegasan penting terkait gerakan akar rumput. Anggota Badan Pengurus JATAM sekaligus Direktur Mama Aleta Fund (MAF) tersebut menyatakan bahwa perjuangan perempuan melawan industri ekstraktif di berbagai pelosok Indonesia merupakan bentuk politik yang sesungguhnya.

Menurutnya, politik bukan sekadar pesta demokrasi lima tahunan, melainkan upaya harian untuk menyelamatkan ruang hidup. Mbak May menyoroti perizinan pemerintah yang sering kali justru mempermudah perusakan wilayah warga. Ia menilai terdapat jurang pemisah antara janji politik di tingkat pusat maupun daerah dengan realitas penghancuran lingkungan di lapangan.

"Apa yang kita lakukan itu sebenarnya politik sesungguhnya, karena politik itu adalah politik penyelamatan ruang hidup," ujar Siti Maimunah, Jumat (13/3/2026).

Tubuh Perempuan sebagai Sensor Ekologis

Dalam paparannya, Mbak May menjelaskan keterkaitan erat antara kerusakan alam dengan tubuh perempuan. Ia menekankan bahwa industri ekstraktif, seperti tambang nikel di Halmahera atau Morowali, tidak hanya merusak hutan dan air, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan reproduksi serta menambah beban kerja domestik perempuan.

Mengutip filosofi masyarakat Molo, Mbak May mengibaratkan tubuh manusia sebagai cerminan alam; tanah adalah daging, air adalah darah, hutan adalah rambut, dan batu adalah tulang.

"Jika kita menghancurkan alam, sebenarnya kita menghancurkan tubuh kita sendiri. Tubuh perempuan itu seperti sensor ekologis yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kita perlu melawan untuk mencegah tubuh kita jatuh sakit," jelasnya.

Ia juga mengkritik sistem ekonomi saat ini yang cenderung mendisiplinkan perempuan agar tetap berada di ruang domestik. Hal ini dianggap sebagai upaya agar perempuan tidak kritis terhadap perusakan alam yang merampas sumber air dan pangan mereka. Kerja-kerja perempuan dalam merawat keluarga sering kali dianggap tidak bernilai secara ekonomi oleh korporasi maupun negara.

Politik "Sakbendino" dan Koalisi dengan Leluhur

baca juga

Menghadapi masifnya rezim ekstraktif, Mbak May mengajak kaum perempuan untuk menerapkan 'Politik Sakbendino' atau politik sehari-hari. Perlawanan tidak selalu diwujudkan melalui demonstrasi di depan kantor perusahaan, tetapi juga melalui pilihan hidup yang sadar dan mandiri secara ekonomi.

Strategi perlawanan kolektif ini mencakup pilihan untuk tidak mengonsumsi barang secara berlebihan, memilih pangan sehat dari kebun sendiri, hingga menghidupkan kembali ritual adat.

"Perlawanan perempuan mencakup seluruh pendekatan hidupnya, bukan hanya protes terbuka terhadap perusahaan," kata Mbak May.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun kembali hubungan dengan leluhur dan alam semesta sebagai kekuatan spiritual. Dalam perspektif agama, ia mengingatkan bahwa menjaga hubungan dengan alam (hablum minal alam) adalah kewajiban yang setara dengan menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

"Menghidupkan hubungan dengan leluhur adalah bentuk koalisi untuk menyusun kekuatan bersama yang selama ini telah diputus," tambahnya.

Diskusi ini juga menghadirkan perspektif dari para pejuang perempuan di garis depan, seperti Ibu Rosita dari Gede Pangrango, Sulastri Mahmud dari Sagea, dan Ayunia Muis dari Torobolu. Mbak May menutup sesinya dengan seruan solidaritas bagi masyarakat perkotaan untuk turut mendukung perjuangan perempuan di lokasi konflik dengan cara mengubah pola konsumsi yang mendukung keberlanjutan industri ekstraktif.

_____________________________

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jerit Tioman dan Kisah Rifya Melawan Tambang di Dairi hingga Halmahera

Jerit Tioman dan Kisah Rifya Melawan Tambang di Dairi hingga Halmahera

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 18:13 WIB

Citi Indonesia Berikan Kunci Rahasa Wanita yang Sukses Berkarier

Citi Indonesia Berikan Kunci Rahasa Wanita yang Sukses Berkarier

Bisnis | Jum'at, 13 Maret 2026 | 13:17 WIB

Kemenkes Akui Baru 60 Persen Puskesmas Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Kemenkes Akui Baru 60 Persen Puskesmas Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 11:23 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×