Deteksi Penyimpangan Terhadap Anak, KPAI Minta Orang Tua Aktif Komunikasi

Jum'at, 13 Maret 2020 | 21:27 WIB
Deteksi Penyimpangan Terhadap Anak, KPAI Minta Orang Tua Aktif Komunikasi
Ketua KPAI Susanto. (suara.com/Ummi Hadyah Saleh)

Suara.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesua (KPAI) Susanto mengatakan semua anak terlahir menjadi pribadi yang baik. Hanya saja pengaruh proses sosial di lingkungan sekitar, termasuk keluarga dapat menjadikan seorang anak memikiki penyimpangan.

"Saya ingin menegaskan begini setiap anak itu lahir menjadi pribadi yang baik, tidak ada anak yang dilahirkan menjadi anak yang dalam tanda kutip punya potensi melakukan penyimpangan perilaku itu, sebnarnya adalah proses sosialnya karena proses belajar sosialnya karena proses lingkungannya yang kemudian mempengaruhi anak punya kecenderungan tertentu," tutur Susanto di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Junat (13/3/2020).

Untuk itu, kata dia, KPAI melihat ada empat elemen penting yang perlu dibenahu agar tidak sampai mempengaruhi anak melakukan penyimpangan dalam proses sosialnya. Keempat hal tersebut, yakni keluarga, sekolah, masyarakat dan media.

Terpenting ialah keluarga yang menjadi tempat pertama bagi anak dalam proses belajar sosial. Susanto menekankan perlunya komunikasi yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anak. Susanto menyoroti pola komunikasi normatif dan ala kadarnga yang sering dilakukan orang tua kepada anak.

"Keluarga, hasil riset Komisi Perlindungan Anak Indonesia, pola pengasuhan kita itu ternyata masih jauh dari harapan. Ayah, ibu secara umum, survei nasional yang dilakukan KPAI itu kalau ada anak-anak pulang dari sekolah yang ditanya ada dua hal sering kali, nak kamu sudah ngerjain PR atau belum? Yang kedua sudah makan atau belum?" ujar Susanto.

Menurutnya, jarangnya intensitas komunikasi menyebabkan orang tua tidak melakukan deteksi dini ada tidaknya penyimpangan yang dialami anak mereka. Apalagi jika pertanyaan yang dilontarkan hanya seperti yang disebutkan Susanto.

Untuk itu Susanto berharap agar orang tua dapat memberi perhatian lebih kepada anak dengan mengajaknya berbincang dan tidak sekadar menanyakan pekerjaan rumah atau PR.

"Hanya dua (pertanyaan) itu, bagaimana mungkin dia bisa mendeteksi kemungkinan anak menjadi pelaku atau korban kalau secara umum pola-pola pengasuhan kita hanya bertanya dari dua itu. Padahal sebenarnya orang tua seharusnya mendeteksi kemungkinan anak kita menjadi korban dan juga kemungkinan anak-anak kita cenderung misalnya menjadi pelaku. Ini sebenarnya harus menjadi semangat besar kita keluarga di Indonesia," tuturnya.

Baca Juga: WNI Kena Corona, KPAI Minta Dinas Pendidikan Perketat Pengawasan Sekolah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI