Sempat Dirawat Suami di Hotel Jaksel, Pasien PDP Kini Negatif Covid-19

Dwi Bowo Raharjo | Ria Rizki Nirmala Sari
Sempat Dirawat Suami di Hotel Jaksel, Pasien PDP Kini Negatif Covid-19
Ilustrasi virus corona Covid-19. [Shutterstock]

Pasien tersebut tetap diminta untuk melakukan isolasi diri (self-isolated) selama 14 hari sejak hasil tes ke luar.

Suara.com - Seorang wanita berinisial M sudah empat hari tinggal di sebuah kamar hotel di Jakarta Selatan usai ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) virus Corona atau Covid-19. Sempat harap-harap cemas, M bersyukur mendapatkan kabar baik usai menerima hasil tes swab Covid-19.

Suami dari M, Syamsi Hadi mengatakan hasil tes swab disampaikan pada Kamis (19/3/2020). Hasilnya M negatif Covid-19.

"Hasilnya udah keluar Kamis pagi, hasil alhamdulillah negatif," kata Syamsi saat dihubungi Suara.com, Jumat (20/3/2020).

Meski begitu, M tetap diminta untuk melakukan isolasi diri (self-isolated) selama 14 hari sejak hasil tes ke luar. Tidak mungkin Syamsi untuk terus tinggal di hotel.

Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumahnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Syamsi dan M lebih memilih untuk tinggal berdua karena rumah utamanya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dihuni oleh keluarga besar sehingga dikhawatirkan malah membawa virus meskipun sudah dinyatakan negatif.

"Di rumah kami juga tapi di pinggiran daerah Bekasi, tapi cuman berdua. Otomatis saya juga harus dikarantina," pungkasnya.

Sebelumnya, Syamsi mencurahkan rasa kekhawatirannya saat sang istri menunjukkan gejala yang diyakini keduanya sebagai tahap awal virus corona Covid-19.

Karena sejumlah alasan seperti asumsi tetangga dan persoalan rumah sakit, Syamsi akhirnya membawa sang istri untuk dikarantina di sebuah hotel kawasan Jakarta Selatan.

“Awalnya istri saya demam hingga 39 derajat celcius. Dia juga batuk dan flu berat, sesak napas, hingga tensi darahnya naik. Itu terjadi hari Minggu 15 Maret,” kata Syamsi.

Minggu malam, Syamsi membawa sang istri berobat ke salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Setelah diperiksa di IGD, istrinya diisolasi karena terdapat indikasi terpapar virus corona Covid-19.

Apalagi, kata dia, sang istri memunyai riwayat perjalanan luar Jakarta pada tanggal 9 Maret hingga 13 Maret dikarenakan tugas kantor.

"Dokter lantas merujuk istri saya untuk diisolasi di RSPAD Gatot Subroto, RSPI Sulianti Saroso, atau RS Polri Kramatjati. Tapi ruang isolasi di semua RS itu penuh,” kata Syamsi kepada Suara.com, Rabu (18/3/2020).

Keesokan harinya, sang Istri menjalani tes swab Covid-19 dan dikirimkan ke Litbangkes Kemenkes RI. Sembari menunggu hasil tes swab itu, istri Syamsi dikategorikan sebagai orang dalam pengawasan corona.

Selasa, 17 Maret 2020, kondisi sang Istri tidak kunjung membaik. Suhu badan dan tensi darah masih naik turun disertai batuk dan tenggorokan sakit yang tidak juga hilang. Namun, pada hari itu, sang Istri justru diminta pulang beserta tiga pasien lainnya.

Syamsi pun mengutarakan keheranannya. Sebab, saat kondisi Istri belum membaik dan hasil tes belum ke luar, pihak rumah sakit malah meminta pasien untuk pulang.

Akhirnya mereka memutuskan untuk isolasi diri di sebuah kamar hotel kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Syamsi mengaku tidak diberikan edukasi apa pun dari rumah sakit soal mekanisme isolasi diri tersebut.

"Sama sekali tidak, cuma dikasih tulisan, isinya, kalau sebelum ada hasil Litbangkes ada perubahan kondisi, segera istri dibawa ke RSUD rujukan atau hubungi hotline Covid-19," tuturnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS