Poster Imbauannya Dikritik, Staf Khusus Presiden Beri Klarifikasi

Dany Garjito | Fita Nofiana
Poster Imbauannya Dikritik, Staf Khusus Presiden Beri Klarifikasi
Belva Devara, CEO RuangGuru yang jadi staf khusus Presiden Jokowi. (Dok. Instagram)

"Saya ingin mengklarifikasi bahwa quote yang ditulis dari BNPB tersebut tidak memberikan gambaran yang utuh," tulis Belva di akun Twitternya.

Suara.com - Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara memberi klarifikasi atas kata-katanya dalam poster yang diunggah di BNPB. 

Sebelumnya, kata-kata Belva terkait corona itu menuai banyak kritik dari berbagai pihak. "Ramai soal poster yang dibuat dan dipost BNPB yang memuat saya mengenai peran milenial dalam pencegahan COVID-19," cuitnya di Twitter pada Rabu (25/3/2020).

Ia menambahkan, "saya ingin mengklarifikasi bahwa quote yang ditulis dari BNPB tersebut tidak memberikan gambaran yang utuh."

Belva Devara menyatakan bahwa pada Selasa (24/3/2020), ia diundang BNPB sebagai narasumber pers harian satgas Covid-19 dengan tema "Peran Milenial di Wabah Corona".

Pada poster BNPB, kata-kata Belva Devara yang dimuat adalah:

"Bukan waktunya saling menjatuhkan atau saling membully, ayo bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk negeri. Menyalakan lilin lebih baik daripada menyalahkan kegelapan."

"Setelah acara, saya lihat ada poster yang diupload oleh BNPB, dan menjadi diskusi publik. Itu adalah sepotong saja dari press conference. Tanpa menonton video full, bisa terjadi salah paham dan jadi “out of context” ujar Belva Devara.

Pada utasnya, ia menyatakan bahwa di poster tidak menggambarkan inti pembicaraan yang ia sampaikan sebenarnya. Setidaknya ada empat pesan yang sebenarnya Belva Devara sampaikan pada press conference tersebut.

"Pertama, jangan remehkan, karena generasi milenial bisa jadi penular terbesar dari pengalaman Korsel (30% kasus di grup umur 20-29). Kedua, harus jadi garda terdepan berantas hoax di lingkup pengaruh masing-masing," tulis salah satu founder Ruang Guru tersebut.

"Ketiga, fokus menolong sesama dan apa yang bisa kita perbuat, dan mencontohkan @KawalCOVID19 yang digawangi anak muda, galangan dana, layanan-layanan gratis, bahkan bisa sesimpel memberi tip lebih. Keempat, perhatikan mental health. Tetap sosialisasi dengan teman dari jauh (distant socializing)," tambahnya.

Belva Devara kembali menegaskan, bahwa konferensi pers tersebut tidak membicarakan teknis hanya soal edukasi. 

"Sekalian klarifikasi tentang tugas dan fungsi stafsus Presiden. Untuk diketahui tugas utama saya adalah di gugus inovasi. Ini kalau dalam kasus saya, lebih dekat ke digital," tulisnya lagi.

Sebagi staf khusus, ia menambahkan bahwa keterlibatannya hanya sekadar membantu karena tim inti berasal dari Kementerian Kesehatan dan BNPB. 

"Perlu diketahui, stafsus adalah fungsi penasihat (advisory), bukan eksekusi. Artinya memberikan rekomendasi di belakang layar. Setelah itu, keputusan ada di Presiden/Kementerian," tambahnya.

Ia juga mengaku bahwa selama dilantik, gajinya ia sumbangkan untuk UMKM. 

"Selama ini sejak dilantik, saya menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangan saya melalui program  @ciptanyata untuk UMKM. Sudah berjalan 4 bulan, dengan total nilai hibah Rp 200 juta (gross)," tutupnya.

Belva Devara komentar soal corona (BNPB)
Belva Devara komentar soal corona (BNPB)

Sebelumnya diberitakan, Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara menuai kritikan. Hal itu terkait dengan pernyataanya mengenai wabah corona di Indonesia.

"Bukan waktunya saling menjatuhkan atau saling membully, ayo bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk negeri," kata Belva Devara seperti yang dikutip dari BNPB.

"Menyalakan lilin lebih baik daripada menyalahkan kegelapan," tambahnya.

Ungkapan motivasi yang dinyatakan oleh Belva tersebut mendapat tanggapan dari komika Arie Kriting.

"Halah, sebulan lalu banyak yang ingetin akan bahaya corona ini. Negara ngapain? Becanda dan ngeyel. Sekarang menyuruh kita nanya diri sendiri lagi. Pakai acara menyalakan lilin, mau ngepet boss?" tulis Arie Kriting melalui akun Twitternya pada Selasa (24/3/2020).

Tak hanya Arie Kriting, politisi Partai Golkar Achmad Annama pun melayangkan kritik pada ungkapan salah satu pendiri Ruang Guru tersebut.

"Mohon maaf. Jujur, kalau digaji 50 juta rupiah hanya untuk bicara ini, mubadzir! Rakyat sudah kenyang motivasi dari Tung Desem atau Mario Teguh," cuit Achmad Annama pada Selasa (24/3/3030)

"Tugas kalian bukan cuma pungut pajak tapi timbal balik kasih sayang perhatian ke masyarakat. Sampai sini paham?" tambahnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS