Kisah Keluarga Korban Corona: Saya Kehilangan Ibu pada Hari Ibu

Dany Garjito Suara.Com
Selasa, 14 April 2020 | 17:37 WIB
Kisah Keluarga Korban Corona: Saya Kehilangan Ibu pada Hari Ibu
Ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. (FOTO ANTARA/Dok)

Proses mengeluarkan sang ibu dari rumah sakit untuk penguburan pun membutuhkan waktu yang lama. Akhirnya, mereka baru bisa mengubur ibunya di malam hari, kenangnya.

"Sangat sedikit keluarga yang datang. Kami semua mengenakan topeng dan sarung tangan. Kakak ipar saya memegang tangan dan berbisik ke saya: 'saya ingin memelukmu tapi tidak bisa'. Ibu mertua saudara laki-laki saya hancur. Tapi tidak ada dari kami yang bisa menghibur yang lain."

"Ayah saya tidak bisa mengucapkan selama tinggal kepada ibu. Dia menghadiri pemakaman tetapi dia belum melihatnya selama seminggu".

Setelah kematian ibu, ayah Aya dirawat di rumah sakit karena positif Covid-19.

"Ketika ayah pergi, aku sedih. Aku terus meraung di lantai," katanya.

Ayahnya telah pulih dan kembali ke rumah akhir pekan lalu.

Meskipun Aya dan saudara laki-lakinya tidak positif Covid-19, namun mereka harus tetap menjalani isolasi.

"Sebagai keluarga, kami bahkan tidak bisa dekat dan menguatkan satu sama lain."

Grup WhatsApp dan Facebook dibuat untuk mendoakan korban meninggal

Baca Juga: Kematian Pasien Positif Corona di Jawa Timur Melonjak Jadi 41 Orang

Ilustrasi berdoa, shalat, ibadah. [Shutterstock]
Ilustrasi berdoa, shalat, ibadah. [Shutterstock]

Rama Sameeh (31), seorang insinyur membuat grup WhatsApp untuk menyebarkan nama-nama korban yang meninggal sehingga orang-orang dapat berdoa untuk para korban.

Rama Sameeh mengumpulkan nama-nama para korban dari media sosial. Rana juga mendapatkan nama dari para keluarga korban yang meminta didoakan.

"Masjid ditutup, tapi korban tidak berhenti. Doa pemakaman sangat penting bagi kami," kata Rana.

Ada lebih dari satu Hadis (ucapan Nabi Muhammad) yang mengatakan tentang pentingnya partisipasi banyak orang dalam doa pemakaman.

Grup WhatsApp itu dibuat pada 24 Maret dan dalam beberapa hari anggota grup telah maksimal yaitu 256 orang.

Grup serupa juga dibuat di Facebook.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI