Kisah Jurnalis Perang di Afghanistan: Tidak ada Berita yang Positif

Pebriansyah Ariefana

Minggu, 17 Mei 2020 | 22:25 WIB
Kisah Jurnalis Perang di Afghanistan: Tidak ada Berita yang Positif
Perang di Afghanistan (BBC)

Suara.com - Menjadi peliput konflik bersenjata di tengah peperangan tidak mudah. Ini yang dirasakan Meena Baktash, editor senior di BBC Afghan Service.

Salah satu cerita tentang serangan bersenjata terhadap rumah bersalin di Kabul pekan ini yang menyebabkan kematian bayi, ibu dan perawat.

"Bagi saya, sebagai orang Afghanistan yang telah meliput perang dan tragedi, kejadian ini mengejutkan," kata Meena Baktash.

"Kita tidak pernah mati rasa."

Meena Baktash telah meliput perang di Afghanistan selama puluhan tahun. Meskipun puluhan ribu orang terbunuh dalam konflik, kejadian pekan ini merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan. Kebanyakan yang terbunuh adalah warga sipil.

Sebanyak 24 orang terbunuh, termasuk bayi-bayi yang baru lahir, para ibu dan juga perawat. Kejadian ini dalam serangan bersenjata di rumah sakit bersalin Dasht-e-Barchi di ibu kota Afghanistan, Kabul.

Meena Baktash dan timnya di BBC baik yang berkantor di London maupun Kabul memusatkan liputan mereka pada serangan itu. Rekaman gambar yang muncul amat menyedihkan.

"Ada foto seorang tentara yang mengingatkan saya pada gambar seorang bocah yang diselamatkan ke darat, seorang pengungsi, [Alan Kurdi]," katanya.

"Rekaman yang saya lihat, seorang tentara membopong bayi dan membawanya ke ambulans...

baca juga

"Tidak mudah untuk membicarakan hal itu."

Serangan di Kabul dilancarkan pada Selasa pagi dan warga setempat mengaku mendengar dua ledakan dan disusul bunyi tembakan.

Seorang dokter yang berhasil melarikan diri selama serangan itu mengatakan kepada BBC bahwa ada sekitar 140 orang yang berada di rumah sakit saat orang-orang bersenjata menyerang.

Pasukan khusus Afghanistan menyelamatkan 100 orang perempuan dan anak-anak, kata para pejabat kepada BBC.

Bertumpahan darah

Tiga orang penyerang, yang dilaporkan mengenakan seragam polisi, semuanya dibunuh oleh petugas keamanan setelah terjadi baku tembak selama berjam-jam.

"Kita tidak tahu apa yang ada di benak orang-orang yang menyerang rumah sakit bersalin dan membunuh sejumlah ibu dan bayi. Saya tidak mengerti," ungkap Baktash.

Tak lama setelah serangan di rumah sakit bersalin di Kabul, muncul berita lain tentang seorang pengebom yang membunuh sedikitnya 32 orang dalam acara pemakaman di kota Nangarhar, di wilayah timur Afghanistan.

Kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS mengatakan berada di balik serangan pemakaman komandan polisi di Nangarhar yang dihadiri oleh ribuan orang tersebut.

"Remaja, pemuda terbunuh di masjid," jelas Baktash.

"Tiba-tiba seluruh negeri bertumpahan darah. Saya tahu ini adalah masa yang sulit bagi semua orang, tetapi Selasa itu adalah hari yang seram."

Awal tahun ini, sebetulnya muncul secercah harapan di Afghanistan, ketika Amerika Serikat dan kelompok militan Taliban meneken perjanjian penarikan pasukan Amerika.

Tetapi perundingan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban gagal karena terganjal dengan pembebasan tahanan, dan kekerasan terus terjadi.

Perdamaian tampak jauh dari harapan, bahkan sebelum serangan pada Selasa itu.

"Kita tidak boleh membiarkan orang lupa," kata Baktash.

"Kita harus menarik perhatian orang terhadap masalah ini."

"Masalah penyerangan terhadap rumah sakit bersalin dan pembunuhan terhadap ibu-ibu dan perawat dan bayi yang baru lahir...itu terlalu menyedihkan.

"Ketika kita berbicara dengan warga di Kabul, mereka berputus asa. Tidak ada akhirnya."

Taliban menyatakan tidak terlibat dalam serangan di rumah sakit Dasht-e-Barchi, tetapi Presiden Ashraf Ghani mengatakan kelompok militan itu mengabaikan seruan agar menghentikan kekerasan dan memerintahkan serangan terhadap mereka.

Pandemi virus corona menambah persoalan dan kekhawatiran yang dialami oleh warga Afghanistan dalam situasi yang sudah sulit.

Bahkan sebelum terjadi pandemi, banyak orang kesulitan mencari pekerjaan.

"Afghanistan adalah salah satu negara yang paling rentan di dunia," jelas Baktash.

"Mengenai kemiskinan... kita tidak punya data statistiknya."

Selain serangan terhadap rumah sakit bersalin dan pemakaman, di hari yang sama juga terjadi serangan udara oleh pasukan Amerika Serikat di Provinsi Balkh, lapor media setempat. Sedikitnya 10 orang terbunuh dan banyak lainnya luka.

"Berita dari media lokal (pada Selasa) bagaikan siksaan. Berita dimulai dari serangan rumah sakit, disusul dengan serangan bunuh diri di wilayah timur," jelas Baktash.

"Lalu muncul berita tentang serangan udara di wilayah utara."

"Ini tidak hanya satu berita. Ketika meliput Afghanistan, tidak ada berita yang positif.

"Kita ingin menutup telinga dan mata dan menjauh dari berita.

"Tetapi wartawan tidak dapat melakukan itu. Kita harus melaporkan apa yang terjadi."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

27 Personel Keamanan Afghanistan Tewas Diserang Kelompok Taliban

27 Personel Keamanan Afghanistan Tewas Diserang Kelompok Taliban

News | Selasa, 31 Maret 2020 | 06:31 WIB

Mengenal Sosok Nakamura, Dokter Jepang yang Tewas Ditembak di Afghanistan

Mengenal Sosok Nakamura, Dokter Jepang yang Tewas Ditembak di Afghanistan

News | Jum'at, 06 Desember 2019 | 07:59 WIB

Belasan Ledakan Bom Guncang Afghanistan, Ratusan Orang Terluka

Belasan Ledakan Bom Guncang Afghanistan, Ratusan Orang Terluka

News | Selasa, 20 Agustus 2019 | 15:32 WIB

Terkini

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

KM Virgo 8 Dikira Tenggelam, Menhub Ungkap Kondisi Terbaru Kapal Ternyata Terbalik

Kalbar | Minggu, 13 September 2026 | 19:46 WIB

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

Isu Pungli Bansos Beras 30 Kg, Bapanas Buka Suara

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

Kosgoro 1957 Tegaskan Siap Perkuat Golkar Menuju Pemilu 2029

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:36 WIB

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

FTL Universe 2026 Resmi Digelar, BRImo Bawa Kejutan Spesial

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 19:32 WIB

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Anak Mulai Pilih-Pilih Makanan? Dokter Ungkap Solusi Penuhi Nutrisi Balita

Health | Minggu, 13 September 2026 | 19:28 WIB

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

CISDI Dorong Harga Minuman Manis Naik Minimal 20 Persen lewat Cukai

News | Minggu, 13 September 2026 | 19:13 WIB

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Tangerang 10K Meriah, Semarang Bersiap Jadi Etape Selanjutnya

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 19:03 WIB

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:55 WIB

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:50 WIB

×