Pasien di India Berjuang Bernapas Usai 36 Hari Pakai Ventilator

BBC

BBC

Jum'at, 05 Juni 2020 | 05:19 WIB
Pasien di India Berjuang Bernapas Usai 36 Hari  Pakai Ventilator
[BBC].

"Dalam beberapa kasus mereka telah menemukan hasil yang mengerikan dengan ventilasi mekanik. Mungkin ada kerusakan paru-paru jika ventilasi tidak optimal - terutama ketika orang berpikir bahwa kegagalan pernapasan selalu dikaitkan dengan ARDS atau sindrom gangguan pernapasan akut," Jean-Louis Vincent, profesor obat perawatan intensif di Rumah Sakit Erasme Univ Belgia, mengatakan kepada BBC.

Selama Mukherjee menggunakan ventilator, ia juga menggunakan pelemas otot - obat yang melumpuhkan otot sehingga pasien tidak mencoba bernapas sendiri.

Pada suatu malam di bulan April, keadaannya semakin memburuk.

Demamnya melonjak, detak jantung menurun, dan tekanan darah turun drastis. Semua ini menunjukkan gejala infeksi baru.

Sambil dikejar waktu, dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, Dr Sinha membacakan instruksi di telepon kepada timnya dalam perawatan kritis.

Ketika dia tiba, pertempuran untuk menyelamatkan Mukherjee sudah berlangsung.

Dr Sinha dan timnya memberikan antibiotik yang ampuh sebagai pilihan akhir untuk membunuh infeksi langsung ke pembuluh darahnya, bersama dengan pelemas otot tambahan dan obat-obatan untuk menstabilkan tekanan darah.

Butuh tiga jam bagi badai untuk berlalu.

"Ini adalah pengalaman yang paling menguras tenaga saya," kata Dr Sinha, yang telah menghabiskan 16 dari 21 tahun sebagai dokter sebagai konsultan perawatan intensif, kepada BBC.

baca juga

"Kami harus bergerak cepat dan mengerjakannya. Itu membutuhkan presisi. Kami berkeringat deras mengenakan alat pelindung kami [gaun ritsleting, sarung tangan ganda, pelindung kaki, kacamata, pelindung wajah] dan penglihatan kami kabur. Kami berempat bekerja tanpa henti selama tiga jam malam itu, "katanya.

"Kami melihat monitor setiap menit dan memeriksa apakah dia mengalami kemajuan. Saya mengatakan pada diri sendiri, kami ingin orang ini bertahan. Dia tidak sakit parah. Dia adalah satu-satunya pasien Covid-19 dalam perawatan intensif saat itu."

Ketika Mukherjee menjadi stabil, saat itu pukul 02:00 waktu setempat. Dr Sinha memeriksa teleponnya.

Ada 15 panggilan tak terjawab dari istri Mukherjee dan saudara iparnya, seorang peneliti penyakit pernapasan yang tinggal di New Jersey.

"Itu adalah malam paling mengerikan dalam hidup saya. Saya pikir saya telah kehilangan suami saya," Aparajita Mukherjee, seorang manajer sumber daya manusia, mengatakan kepada BBC.

Dia saat itu berada di rumah, ditengah lockdown dan dikarantina, bersama dengan ibu mertuanya yang bersusia 80 dan terbaring di tempat tidur, beserta seorang bibi yang difabel, tidak ada yang dinyatakan positif Covid-19.

Potensi terburuk telah dihindari, tetapi kondisi Mukherjee masih tetap serius dan tidak stabil.

Mukherjee adalah seseorang dengan bobot badan yang cukup berat dan pasien yang lebih berat lebih sulit untuk dibalikkan tubuhnya, demi meredakan napas mereka.

Dokter memberinya hydroxychloroquine, obat yang biasanya digunakan untuk mengobati malaria, bersama dengan vitamin, antibiotik dan obat penenang. Demamnya tetap tinggi.

Alarm terus berbunyi di unit perawatan intensif setiap malam di tempat tidur Mukherjee. Terkadang saturasi oksigen akan turun. Sinar-X pada mesin portabel menunjukkan bagian putih di paru-paru tetap ada.

"Ada sedikit kemajuan tetapi itu pun lambat," kata Dr Sinha.

Akhirnya, sebulan setelah dirawat, Mukherjee menunjukkan tanda-tanda mengalahkan infeksi.

Virus corona: Perkembangan dari penyakit pernapasan ke serangan berbagai organ tubuh Enam vaksin virus corona yang sudah diuji coba pada manusia ‘Jari kaki Covid’, salah satu kondisi klinis yang mungkin gejala baru Covid-19?

Dia terbangun dari koma yang diinduksi secara medis. Saat itu Minggu. Ketika istri dan saudara ipar perempuannya melakukan panggilan video kepadanya, dia hanya menatap layar ponsel yang bercahaya.

"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Semuanya tidak jelas. Saya melihat seorang wanita dengan celemek biru berdiri di depan saya, yang kemudian saya ketahui adalah dokter saya," kata Mukherjee kepada BBC.

"Kau tahu, aku tertidur nyenyak selama lebih dari tiga minggu. Aku tidak tahu mengapa aku berbaring di rumah sakit. Itu adalah ingatan yang hilang.

"Tetapi saya ingat sesuatu. Saya pikir saya berhalusinasi ketika saya dalam keadaan koma. Saya dikurung di suatu tempat, diikat tali, dan orang-orang mengatakan kepada saya bahwa saya tidak sehat, dan mereka mengambil uang dari keluarga saya, dan saya tidak dibebaskan. Dan saya mati-matian berusaha menghubungi orang untuk membantu saya. "

Pada akhir April, dokter melepasnya dari ventilator selama setengah jam dan Mukherjee bernapas sendiri untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan. Proses itu tidak mudah. Dokter mengatakan Mukherjee sering mengalami "kepanikan" dan menekan bel darurat di samping tempat tidur karena berpikir dia tidak akan bisa bernapas tanpa mesin itu.

Pada 3 Mei, mereka mematikan ventilator, dan lima hari kemudian, mengirimnya pulang.

"Prosesnya itu panjang sekali. Dia menderita ARDS parah. Dia demam tinggi selama empat minggu. Dia tidak bisa bernapas sendiri. Virus itu menimbulkan malapetaka," kata Dr Sinha.

Sekarang di rumah, Mukherjee memulai kehidupan baru.

Dia mulai berjalan lagi tanpa bantuan. Bahkan beberapa ingatannya kembali.

Dia telah batuk selama beberapa hari sebelum dibawa ke rumah sakit, dan telah mengunjungi dokter yang mendiagnosisnya sebagai infeksi tenggorokan. Waktu itu, dia masih bekerja, mengenakan masker, membantu kaum miskin dan melarat dari jalanan.

Dia telah mengunjungi rumah sakit, kantor polisi dan rumah perlindungan di tempat kerja. Dia beberapa kali tidak minum obat diabetesnya, yang menjelaskan mengapa kadar glukosa darahnya yang tinggi pada saat masuk. Dia minum antibiotik dan menghirup nebuliser, seperti yang dia lakukan ketika dia menderita batuk setiap tahun ketika musim berubah.

"Tapi aku merasakan ada sesuatu yang salah ketika dia mengeluh dehidrasi dan mulai tidur berjam-jam. Dia sangat lelah. Dan kemudian dia mulai mengalami kesulitan bernapas dan kita menempatkannya di kursi roda dan membawanya ke rumah sakit," kata istri Mukherjee.

Pekan lalu, Dr Sinha mengambil cuti sehari setelah 82 hari beraksi di perawatan intensif, yang kini penuh dengan pasien Covid-19.

Lebih dari 100 foto ponsel yang diambil oleh stafnya mengingatkan dia dan timnya tentang perjuangan mereka untuk menyelamatkan Mukherjee.

Ada foto para perawat yang letih saat masih mengenakan alat pelindung di stasiun perawatan; berjaga konstan di dekat tempat tidur Mukherjee; kegembiraan dan kelegaan pada hari ketika pasien, sambil tersenyum lemah, terlepas dari ventilator dan foto dia meninggalkan rumah sakit.

"Kami, sebagai sebuah tim, pada akhirnya semua melakukan pekerjaan kami," katanya.

Mukherjee hanya bersyukur dia bernapas sendiri lagi.

"Aku tahu aku melawan penyakit ini, tetapi para dokter dan perawat yang melawan penyakit menyelamatkan hidupku. Korban perlu menceritakan kisah mereka. Virus yang ganas dapat dikalahkan."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

3.199 Orang Penyintas Virus Corona Sudah Sumbangkan Plasma Darah

3.199 Orang Penyintas Virus Corona Sudah Sumbangkan Plasma Darah

News | Kamis, 04 Juni 2020 | 18:36 WIB

Di Inggris, Ibuprofen Diuji Sebagai Obat Covid-19

Di Inggris, Ibuprofen Diuji Sebagai Obat Covid-19

News | Rabu, 03 Juni 2020 | 15:37 WIB

Tinjau RS Lapangan di Surabaya, Doni Monardo Juga Serahkan 20 Plasma Darah

Tinjau RS Lapangan di Surabaya, Doni Monardo Juga Serahkan 20 Plasma Darah

Jatim | Rabu, 03 Juni 2020 | 02:40 WIB

Terkini

Diabetes Bukan Berarti Pantang Makanan Favorit, Kenali Prinsip 5J untuk Kontrol Gula Darah

Diabetes Bukan Berarti Pantang Makanan Favorit, Kenali Prinsip 5J untuk Kontrol Gula Darah

Health | Kamis, 05 November 2026 | 19:16 WIB

Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending

Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 19:15 WIB

Survei Bilang Anak Muda Muak Politik, Kok Paling Vokal Mengawal Kebijakan?

Survei Bilang Anak Muda Muak Politik, Kok Paling Vokal Mengawal Kebijakan?

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 19:15 WIB

Pendidikkan Coding Wajib di 2027, Potensi Pengembangan AI Indonesia Dilirik Investor Polandia

Pendidikkan Coding Wajib di 2027, Potensi Pengembangan AI Indonesia Dilirik Investor Polandia

Bali | Kamis, 05 November 2026 | 19:14 WIB

Langgar Tatib, Botol Minuman Jokowi Disita Petugas Saat Sidang Roy Suryo

Langgar Tatib, Botol Minuman Jokowi Disita Petugas Saat Sidang Roy Suryo

News | Kamis, 05 November 2026 | 19:12 WIB

DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah Lewat Legislasi dan Pengawasan

DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah Lewat Legislasi dan Pengawasan

News | Kamis, 05 November 2026 | 19:12 WIB

Roy Suryo Tolak Keterangan Jokowi dalam Persidangan Kasus Ijazah Palsu

Roy Suryo Tolak Keterangan Jokowi dalam Persidangan Kasus Ijazah Palsu

News | Kamis, 05 November 2026 | 19:12 WIB

Hari Guru Nasional 2026 Tanggal Berapa? Ini Tema, Logo, dan Panduan Resminya

Hari Guru Nasional 2026 Tanggal Berapa? Ini Tema, Logo, dan Panduan Resminya

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 19:11 WIB

OJK Ungkap Dampak Pengumuman MSCI: IHSG Anjlok 16,6%, Dana Asing Rp16,88 T Kabur

OJK Ungkap Dampak Pengumuman MSCI: IHSG Anjlok 16,6%, Dana Asing Rp16,88 T Kabur

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 19:07 WIB

Ekonomi Sirkular Dimulai dari Rumah, Ubah Sampah Jadi Cuan

Ekonomi Sirkular Dimulai dari Rumah, Ubah Sampah Jadi Cuan

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 19:03 WIB

×