AMP: Pendeta Yeremia Dibunuh TNI Erat Terkait Menolak Tambang Emas Wabu

Reza Gunadha, Bagaskara Isdiansyah

Senin, 16 November 2020 | 21:08 WIB
AMP: Pendeta Yeremia Dibunuh TNI Erat Terkait Menolak Tambang Emas Wabu
Pendeta Yeremia Zanambani. (Foto dok. ist)

Suara.com - Wafatnya pendeta Yeremia Zanambani di Intan jaya, Papua, karena ditembak oleh diduga anggota TNI Alpius Hasim Madi, dinilai erat terkait rencana eksplorasi emas baru di Blok Wabu.

Sebabnya, Pendeta Yeremia merupakan tokoh masyarakat yang secara tegas bersama warga menolak Blok Wabu lantaran merusak alam serta merugikan rakyat Papua.

Hal tersebut diutarakan massa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia, yang tergabung dalam aksi Papua Menggugat, Senin (16/11/2020).

Ambrosius Silait, salah satu demonstran, menjelaskan penembakan yang berujung tewasnya pendeta Yeremia akibat aksi operasi aparat di Intan Jaya, diduga tak terlepas dari adanya rencana eksploitasi emas di Blok Wabu.

"Jadi PT Inalum diteruskan ke Antam sehingga kekerasan penembakan terhadap pendeta Yeremia ini tidak terpisah dengan kepentingan yang didorong oleh pemerintah itu sendiri," kata Ambros di area Patung Kuda, Jakarta Pusat.

Untuk itu, Ambros dan mahasiswa Papua menggelar aksi untuk menolak eksploitasi emas di Blok Wabu itu dihentikan. Pasalnya, operasi yang dilakukan aparat di sana saat ini tak terlepas dari hal tersebut.

"Pemerintah juga menggunakan segala cara untuk mengeksploitasi kekayaan alam Papua berupa emas di Blok Wabu (Gunung Wabu) di Intan Jaya, kematian Pendeta Yeremia tak lepas dari operasi militer di Intan Jaya yang tujuan utamanya adalah untuk mengekploitasi alamnya," tuturnya.

"Di mana negara yang dikuasai oleh kaum oligarki dan borjuasi telah mempersiapkan master plan untuk merebut Blok Wabu dari masyarakat Moni yang mendiami wilayah tersebut," sambungnya.

Adapun selain menolak Blok Wabu, massa Papua Menggugat juga menolak Otonomi Khusus di Papua dilanjut.

baca juga

Otsus dinilai telah gagal. Selain itu, pendemo menolak adanya Omnibus Law yang dinilai hanya akan memperpanjang konflik soal lahan.

Hasil TGPF

Sebelumnya, Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan laporan TGPF menunjukkan bahwa ada "dugaan keterlibatan oknum aparat"dalam pembunuhan Pendeta Yeremia Zanambani di Papua, meskipun ada juga kemungkinan dilakukan oleh pihak ketiga.

"Ada dugaan melibatkan aparat dan kemungkinan pihak ketiga. Kemungkinan pihak ketiga itu tidak bisa dihindari karena kan waktu itu dugaan-dugaan yang muncul di luar ada yang menduga aparat, kita selidiki.

"Ada yang menduga pihak ketiga. Kalau pihak ketiga itu kan teori konspirasi saja, KKB yang membunuh lalu nanti dituduhkan ke aparat. Makanya ada saja kemungkinan itu.

"Tapi lihat nanti rangkaian fakta yang dilaporkan dalam buku [laporan TGPF] itu tadi seperti apa. Itu akan mengarahkan ke situ," jelas Mahfud MD pada Rabu, 21 Oktober lalu, kepada para wartawan.

Berdasarkan hasil investigasi itu, Mahfud merekomendasikan penambahan aparat di wilayah Papua untuk menjaga keamanan.

Menanggapi hal ini, Socratez Yoman, selaku Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua, BPP-PGBWP, menolak penambahan pasukan sebab tindakan itu menurutnya justru tidak menciptakan iklim damai.

Sementara, peneliti LIPI dan juga koordinator Jaringan Damai Papua, Adriana Elisabeth, mengatakan peningkatan keamanan di wilayah Papua harus dilaksakan secara hati-hati.

Alasannya, masyarakat Papua memiliki trauma terhadap kehadiran aparat keamanan, terutama TNI, akibat sejarah panjang kekerasan di wilayah tersebut.

Pengurus Gereja yang Ditembak

Menyusul kematian pendeta Yeremia, penembakan pada pengurus gereja di Papua berulang kembali. Rufinus Tigau, seorang pengurus gereja Katolik dalam kontak senjata antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan pada Oktober 26 lalu.

Insiden terkait Rusinus merupakan peristiwa penembakan ketiga yang pada tokoh-tokoh gereja dalam kurun waktu dua bulan terakhir.

Sebelumnya, pada awal Oktober, Agustinus Duwitau, seorang pewarta yang bertugas di gereja Katolik di Emondi, Distrik Sugapa, tertembak di bagian bahu kirinya.

Menurut data Amnesty International Indonesia, sepanjang tahun 2018 hingga 2020, telah terjadi setidaknya 47 kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh otoritas negara yang menewaskan 96 korban jiwa.

Dari jumlah tersebut, hanya empat kasus yang sampai ke pengadilan dengan dua di antaranya adalah pengadilan militer yang tertutup untuk publik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rakyat Papua Desak Penembak Mati Pendeta Yeremia Disidang di Pengadilan HAM

Rakyat Papua Desak Penembak Mati Pendeta Yeremia Disidang di Pengadilan HAM

News | Senin, 16 November 2020 | 17:22 WIB

AMP: Habib Rizieq Pulang dari Arab Boleh, Rakyat Papua Demo Ditutup

AMP: Habib Rizieq Pulang dari Arab Boleh, Rakyat Papua Demo Ditutup

Banten | Senin, 16 November 2020 | 15:29 WIB

Rakyat Papua: Acara Habib Rizieq Dibiarkan, Kegiatan Kami Dilarang, Adil?

Rakyat Papua: Acara Habib Rizieq Dibiarkan, Kegiatan Kami Dilarang, Adil?

News | Senin, 16 November 2020 | 15:12 WIB

Aksi Papua Menggugat: Papua Bukan Merah Putih, Papua Bintang Kejora!

Aksi Papua Menggugat: Papua Bukan Merah Putih, Papua Bintang Kejora!

News | Senin, 16 November 2020 | 14:30 WIB

Mahasiswa AMP Demo Istana Teriak Papua Bukan Merah Putih, Referendum!

Mahasiswa AMP Demo Istana Teriak Papua Bukan Merah Putih, Referendum!

Jakarta | Senin, 16 November 2020 | 14:18 WIB

Dilarang Polisi Dekati Istana, Mahasiswa Papua Kompak Teriak Referendum

Dilarang Polisi Dekati Istana, Mahasiswa Papua Kompak Teriak Referendum

News | Senin, 16 November 2020 | 13:50 WIB

Dicegat Tak Bolah Demo ke Istana, Massa Papua Terlibat Cekcok dengan Polisi

Dicegat Tak Bolah Demo ke Istana, Massa Papua Terlibat Cekcok dengan Polisi

News | Senin, 16 November 2020 | 12:59 WIB

Tolak Otsus hingga Omnibus Law, Mahasiswa Papua Geruduk Istana Siang Ini

Tolak Otsus hingga Omnibus Law, Mahasiswa Papua Geruduk Istana Siang Ini

News | Senin, 16 November 2020 | 11:07 WIB

Terkini

IHSG Terperangkap di Zona Merah, Ditutup ke Level 5.057

IHSG Terperangkap di Zona Merah, Ditutup ke Level 5.057

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian

Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita

Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:50 WIB

4 Rekomendasi HP 4 Jutaan Berlayar AMOLED, Urut dari Chipset Terpelan hingga Terkencang

4 Rekomendasi HP 4 Jutaan Berlayar AMOLED, Urut dari Chipset Terpelan hingga Terkencang

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:48 WIB

Sempat Lumpuh Diterjang Banjir, Jalur PiningLokop Gayo Lues Aceh Akhirnya Bisa Dilalui

Sempat Lumpuh Diterjang Banjir, Jalur PiningLokop Gayo Lues Aceh Akhirnya Bisa Dilalui

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender

Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai, Dedi Congor Dicegah ke Luar Negeri!

Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai, Dedi Congor Dicegah ke Luar Negeri!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:43 WIB

Menteri Wihaji: Mau Memperbaiki Negara? Perbaiki Dulu Keluarganya

Menteri Wihaji: Mau Memperbaiki Negara? Perbaiki Dulu Keluarganya

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:39 WIB

Pemerintah Mau Bangun Kawasan Industri di Pulau Kecil Maluku

Pemerintah Mau Bangun Kawasan Industri di Pulau Kecil Maluku

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:36 WIB

Tambang Emas Nabire: Izin Dicabut, Konsesi Diserahkan ke Antam, Nasib Warga Bagaimana?

Tambang Emas Nabire: Izin Dicabut, Konsesi Diserahkan ke Antam, Nasib Warga Bagaimana?

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:32 WIB

×