Suara.com - Pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab siap mendatangi Polda Metro Jaya, Sabtu (12/12/2020) hari ini. Hal tersebut merujuk pada kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes).
Pengacara Rizieq, Sugito Atmo Pawiro mengatakan, dalam kasus ini tersangka yang hadir hanya Rizieq seorang. Sedangkan, lima tersangka lainnya tidak datang.
"Jadi begini untuk sementara beliau dulu karena polda kan lebih mengutamakan beliau. Nanti setelah itu baru lima tersangka," kata Sugito di Mapolda Metro Jaya.
Terkini, Rizieq dikabarkan tengah dalam perjalanan menuju Mapolda Metro Jaya. Hanya saja, Sugito tidak merinci lokasi keberangkatan Rizieq.
Dia hanya menyebutkan, setelah tiba di Tanah Air dari Arab Saudi, Rizieq hanya berdiam di tiga tempat, yakni Petamburan, Megamendung, dan Sentul.
"Beliau itu dari pulang Saudi kan kalau tidak ke Megamendung ke Petamburan atau ke Sentul. Jadi tidak kemana-mana, beliau itu hanya di 3 tempat itu. Hanya keluar sebentar dan safari dakwah," jelasnya.
Sugito menambahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan penyidik Polda Metro Jaya. Kata dia, hari ini Rizieq direncanakan akan diperiksa tersait kasus tersebut.
"Nanti akan kami koordinasi dengan penyidik karena penyidik hari ini full untuk pemeriksaan Habib Rizieq," beber Sugito.
Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya telah menetapkan Habib Rizieq tersangka dugaan pelanggaran protokol kesehatan.
Selain itu, ada lima orang lainnya yang juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran protokol di hajatan Habib Rizieq.
Lima tersangka lainnya adalah Ketua Panitia Akad Nikah, HU; Sekretaris Panitia Akad Nikah, A; Penanggungjawab bidang Keamanan, MS; Penanggung Jawab Acara Akad Nikah SL; dan Kepala Seksi Acara Akad Nikah, HI.
Yusri menjelaskan Rizieq dijerat Pasal 160 dan 216 KUHP. Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan untuk Melakukan Kekerasan dan Tidak Menuruti Ketentuang Undang-undang, dengan ancaman enam tahun penjara atau denda Rp 4.500.
Sedangkan, Pasal 216 ayat 1 KUHP tentang Menghalang-halangi Ketentuan Undang-undang. Ancamannya, pidana penjara empat bulan dua minggu atau denda Rp 9.000.
Sementara lima tersangka lainnya dikenakan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Ancamannya, kurungan satu tahun atau denda Rp 100 juta.