Kisah di Tengah Pandemi: Saya Merasa Bersalah Tidak Bisa Bawa Mamah ke ICU

Siswanto, BBC

Selasa, 02 Februari 2021 | 11:26 WIB
Kisah di Tengah Pandemi: Saya Merasa Bersalah Tidak Bisa Bawa Mamah ke ICU
BBC

Suara.com - Pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda terus membebani fasilitas kesehatan di Indonesia. Seorang warga Bandung menceritakan pengalaman kehilangan orang terkasih karena penyakit non-Covid akibat tidak kebagian tempat tidur di unit perawatan intensif.

Selasa dua pekan lalu, Bobby Muhammad Iqbal meritwit sajak dari penyair Hasan Aspahani berjudul UGD, menceritakan seseorang yang meninggal setelah ditolak oleh rumah sakit yang sudah penuh. Sehari kemudian, hal itu terjadi kepadanya.

Ibunya mengalami pembengkakan jantung, yang membuatnya kesulitan bernapas. Bobby dan ayahnya segera membawa sang ibu - mereka memanggilnya "Mamah" - ke rumah sakit terdekat di kota Bandung, namun rumah sakit tersebut tidak bisa menerima pasien karena sudah penuh.

Mereka kemudian membawa perempuan sepuh itu ke rumah sakit lain, yang masih memiliki tempat tidur kosong di Unit Gawat Darurat (UGD). Pada Kamis siang, kata Bobby, sang ibu masih sadar dan sempat menolak ketika perawat hendak memberikan oksigen karena ia merasa sesak napas.

Sore harinya, dokter jaga memberi tahu Bobby bahwa kondisi ibunya kritis dan perlu dirawat di unit perawatan intensif atau ICU. Namun ICU di rumah sakit tersebut sudah penuh oleh pasien Covid-19; dan kalau pun bisa masuk, ibunya harus menjalani tes seka terlebih dahulu, yang hasilnya baru keluar dua hari kemudian. Bobby takut ibunya tidak terselamatkan.

Sang dokter memberi Bobby dua pilihan - merawat ibunya di kamar rawat biasa atau mencari tempat tidur ICU di rumah sakit lain.

"Gerilya dulu [mencari rumah sakit], cari yang terbaik buat Mamah. Kalau memang enggak dapat, boleh masuk ke ruang rawat tapi harus buat surat perjanjian dulu, kalau ada apa-apa dengan Mamah mungkin rumah sakit tidak bertanggung jawab," kata Bobby menirukan perkataan dokter.

Bobby pun mencari bed ICU yang masih kosong di kota Bandung melalui berbagai cara, termasuk bantuan kakak iparnya yang bekerja di salah satu rumah sakit besar. Nahas, sebelum ia bisa mendapatkannya, sang ibu keburu meninggal dunia.

Diwawancarai BBC News Indonesia sepekan kemudian, Bobby mengatakan ia merasa bersalah karena tidak sempat memberikan ibunya perawatan terbaik.

baca juga

"Maksudnya, dengan harapan kalau Mamah saya bisa masuk ke ICU, itu bisa memperpanjang harapan hidup Mamah saya. Walaupun mungkin pas di ICU tidak tertolong, setidaknya Mamah saya mendapatkan pertolongan terbaik sebelum akhir hayatnya," kata dia.

Bobby membagikan pengalamannya di Twitter, dan twitnya segera mendapat balasan dari banyak warganet yang menceritakan pengalaman serupa.

Di antara mereka ada seorang ayah yang mengharapkan "keajaiban" karena bayi perempuannya terkena bronkopneumonia dan sangat membutuhkan ruangan ICU beserta alat ventilator namun setelah pencarian selama tiga hari belum juga mendapatkannya karena rumah sakit masih penuh.

Bobby sendiri mengatakan bahwa ia "tidak menyalahkan siapapun" dalam twitnya yang menjadi viral. Ia hanya ingin menyampaikan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati.

"Yuk, stop Covid itu jangan di rumah sakit, sudah penuh rumah sakit tuh. Stop Covid itu di sekitar kita -- jangan kebanyakan nongkrong, keluar pakai masker, lebih proper lagi buat menjaga protokol kesehatan," ujarnya.

Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia telah memperingatkan jika angka kasus positif tak kunjung menurun, seluruh rumah sakit di Jawa dan Bali akan kolaps. Itu berarti, pasien yang datang tidak bisa mendapat perawatan.

Di RSUD Tanah Abang, yang terletak di salah satu zona merah di Jakarta, puluhan pasien dapat mengantre untuk satu tempat tidur. Direktur rumah sakit tersebut, Savitri Handayana, berkata kepada BBC News Indonesia: "Hampir dikatakan kita itu tidak ada bed yang kosong setiap harinya."

Memilih pasien untuk masuk ICU

Dokter-dokter di rumah sakit seringkali harus memilih pasien mana yang harus dirawat lebih dulu di ICU karena keterbatasan tempat tidur. Hal itu terjadi pada dr. Amelia Martira, yang bekerja di RSUD Kota Depok, Jawa Barat.

Lewat Twitter, ia menceritakan pengalaman memilih seorang laki-laki berusia 47 tahun, seorang kepala keluarga, untuk masuk ICU lebih dulu dari seorang perempuan berusia 72 tahun.

Kepada BBC News Indonesia, dr. Amelia menjelaskan bahwa ada berbagai faktor yang dipertimbangkan seorang dokter dalam memprioritaskan pasien untuk perawatan dalam situasi ICU penuh. Salah satunya, seberapa cepat pasien tersebut dapat keluar dari ICU supaya tempat tidurnya bisa segera diisi oleh pasien lain yang membutuhkan.

Saya bertanya kepada sang dokter, apakah keharusan untuk membuat keputusan seperti itu berkali-kali membebani jiwanya.

"Iya memang, itu pasti membebani jiwa," jawab dr. Amelia. "Hanya saja untungnya dalam pendidikan kami... Saya sudah jadi dokter anestesi sejak 2004, jadi alhamdulillah saya punya pengalaman banyak dalam bagaimana saya memutuskan ... latihan-latihan inilah yang membuat saya bisa menjaga fisik dan mental."

"Karena pada akhirnya, yang mesti kita camkan sebagai seorang dokter adalah kami tidak bisa memuaskan setiap orang. Tapi yang bisa kami lakukan adalah memberikan usaha terbaik," imbuhnya.

Sang dokter menjelaskan, di RSUD Depok saat ini terdapat enam tempat tidur untuk pasien dalam kondisi kritis yang membutuhkan ventilator dan dua tempat tidur untuk pasien non-ventilator. Total, ada 100 tempat tidur di rumah sakit tersebut.

Sejak akhir Agustus, kata dr. Amelia, pihak rumah sakit terus menambah tempat tidur untuk mengurangi antrean di IGD yang ia sebut "sudah overcrowded". Namun ini pun akan mencapai batasnya jika tidak ada pengurangan di bagian hulu.

Menurut sang dokter, terdapat dua pertanda fasilitas kesehatan mulai kolaps: angka kematian pasien meningkat dan semakin banyak tenaga kesehatan yang mulai terinfeksi.

Menurut data pemerintah, tren angka kematian di Indonesia terus meningkat, mencapai rekor pada Kamis (28/01) lalu .

Sementara IDI melaporkan bahwa 647 tenaga kesehatan - termasuk dokter, perawat, bidan, dan tenaga lab medis - meninggal karena Covid-19 sejak Maret 2020. Angka ini merupakan yang terbesar di Asia, dan terbesar ketiga di dunia.

Bagi dr. Amelia dan para koleganya, Covid-19 terasa seperti keniscayaan. "Kami selalu bilang, semua akan Covid pada waktunya," kata dr. Amelia.

Berharap pada PPKM

Dr. Amelia berharap situasi di Indonesia bisa kembali seperti pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar, April hingga Juni tahun lalu. "Saya ingat bulan Juni kami hanya punya 14 pasien," ujarnya.

Kala itu, ketika pergerakan masyarakat sangat terbatas, jumlah pasien Covid tidak banyak. Dan bahkan jumlah pasien kecelakaan lalu lintas berkurang, sehingga beban tenaga kesehatan jauh lebih ringan, kata dr. Amelia.

Tahun ini pemerintah kembali memberlakukan pembatasan sosial yang disebut PPKM di Jawa dan Bali. Namun, aturan pembatasannya relatif lebih longgar daripada sebelumnya.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito, mengatakan bahwa pelaksanaan PPKM dari 11-25 Januari telah menurunkan angka keterpakaian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate. Namun angka tersebut masih perlu ditekan hingga di bawah 70%.

Bagaimanapun, menurut Prof Wiku, efek signifikan dari pembatasan baru akan kelihatan beberapa minggu lagi.

"Perlu dicatat, bahwa berdasarkan pembelajaran pembatasan wilayah pada tahun lalu, perubahan signifikan baru terlihat tiga sampai empat minggu pelaksanaan pembatasan kegiatan. Maka dari itu, perbaikan ini akan terus kami monitor," ujarnya dalam jumpa pers hari Kamis (28/01).

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas hari Jumat (29/01) mengakui bahwa pembatasan dalam dua minggu terakhir ini tidak efektif.

"Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif," ujarnya dalam video yang diunggah ke akun YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (31/01).

Jokowi menganggap PPKM tidak mampu membatasi mobilitas masyarakat sehingga angka kasus positif terus naik. Menurutnya, implementasi aturan pembatasan di lapangan tidak tegas dan tidak konsisten.

Ia memerintahkan panglima TNI, Kapolri, dan menteri agama supaya turut terlibat dan intens berada di lapangan untuk memberikan contoh kedisiplinan serta sosialisasi protokol kesehatan dengan melibatkan tokoh masyarakat dan agama.

"Yang ingin saya dengar adalah implementasi lapangannya seperti apa. Mungkin nanti Kementerian Agama melibatkan tokoh-tokoh agamanya seperti apa, TNI seperti apa, di Polri seperti apa dan Pak Menko nanti yang mungkin bisa men-drive agar ini betul-betul lapangannya terjadi," kata Presiden.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Akses Layanan Kesehatan Program JKN Berikan Rasa Aman Bagi Emanuel Giai

Akses Layanan Kesehatan Program JKN Berikan Rasa Aman Bagi Emanuel Giai

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:42 WIB

Kopdes Bisa Dibangun Cepat, Mengapa Fasilitas Kesehatan Primer Tidak?

Kopdes Bisa Dibangun Cepat, Mengapa Fasilitas Kesehatan Primer Tidak?

Your Say | Minggu, 12 Juli 2026 | 07:50 WIB

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Otomotif | Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38 WIB

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:23 WIB

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:05 WIB

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:24 WIB

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Entertainment | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:49 WIB

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:07 WIB

Terkini

Ada Ketegangan di Ruang Ganti Timnas Indonesia Jelang Lawan Singapura? Herdman Bilang Begini

Ada Ketegangan di Ruang Ganti Timnas Indonesia Jelang Lawan Singapura? Herdman Bilang Begini

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 07:11 WIB

Skenario Lolos Dramatis Grup A Piala AFF 2026: Timnas Indonesia di Ujung Tanduk?

Skenario Lolos Dramatis Grup A Piala AFF 2026: Timnas Indonesia di Ujung Tanduk?

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 07:04 WIB

Pajak Dibayar, BBM Mahal, Jalan Masih Rusak: Rakyat Wajar Bertanya

Pajak Dibayar, BBM Mahal, Jalan Masih Rusak: Rakyat Wajar Bertanya

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Cara Mengeringkan Wajah Setelah Cuci Muka yang Benar, Jangan Asal Gosok Handuk

Cara Mengeringkan Wajah Setelah Cuci Muka yang Benar, Jangan Asal Gosok Handuk

Lifestyle | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 06:55 WIB

Pilihan Mobil Listrik Mungil di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp 100 Jutaan

Pilihan Mobil Listrik Mungil di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp 100 Jutaan

Otomotif | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 06:52 WIB

5 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 7 Agustus 2026: Sikap Tenang Buka Banyak Peluang

5 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 7 Agustus 2026: Sikap Tenang Buka Banyak Peluang

Lifestyle | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 06:40 WIB

Api Kepung TPA Rasau Jaya, Pemadaman Diperkuat dari Udara

Api Kepung TPA Rasau Jaya, Pemadaman Diperkuat dari Udara

Foto | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas

Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas

Sumsel | Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:47 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel

Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel

Sumsel | Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:39 WIB

El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan

El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:34 WIB

×