Suara.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara vaksin jadi dan bahan baku vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech yang diimpor pemerintah dari China.
Siti menjelaskan bahan baku vaksin yang didatangkan juga harus melalui serangkaian proses uji klinis oleh Bio Farma dan disertifikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM sebelum disuntikkan.
"Tidak ada perbedaan kualitas untuk vaksin jadi maupun vaksin bahan baku, karena nanti kalau kita lihat terkait efikasinya ini BPOM yang akan melakukan penilaian untuk EUA-nya. Bio Farma sendiri sudah menerima sertifikat cara pembuatan obat yang baik (CPOB), ini tentunya sudah menjamin kualitas vaksin yang dihasilkan itu sama antara vaksin jadi dan bahan baku vaksin," kata Siti Nadia dalam jumpa pers virtual KPCPEN, Selasa (2/2/2021).
Siti menambahkan, pemerintah telah menyuntikkan vaksin Covid-19 ke 500 ribu tenaga kesehatan telah disuntik vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech, China tahap pertama dalam kurun waktu dua pekan sejak penyuntikan perdana pada 13 Januari 2021.
Sebelumnya, Indonesia kembali mendapatkan kiriman 11 juta dosis bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac, China pada Selasa siang.
Dari 11 juta dosis tersebut, 10 juta dosis merupakan bahan baku dan 1 juta sisanya adalah dosis vaksin overfill atau volume tambahan.
Bio Farma menyebut pengiriman bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac ditargetkan sebanyak 140 juta dosis. Pengiriman pertama telah dilakukan pada 12 Januari 2021 dengan 15 juta dosis bahan baku dengan tambahan 1,5 juta vaksin overfill.
Untuk mempercepat vaksinasi bagi tenaga kesehatan, Kementerian Kesehatan sudah menggelar vaksinasi massal di sejumlah kota, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, Semarang, Denpasar, dan Manado.
Vaksinasi massal terus akan dilakukan di Makassar dan Semarang (2 Februari), Bandung (3 Februari), Denpasar (4 Februari), dan Manado (5 Februari).