Sputnik V Buatan Rusia Sempat Diragukan, Namun Kini Disetujui di 15 Negara

Siswanto, BBC

Kamis, 11 Februari 2021 | 15:13 WIB
Sputnik V Buatan Rusia Sempat Diragukan, Namun Kini Disetujui di 15 Negara
BBC

Suara.com - Rusia merupakan negara pertama yang mengumumkan pendaftaran vaksin Covid-19 buatannya untuk digunakan secara luas. Vaksinnya disebut "Sputnik", mengikuti nama satelit antariksa yang pertama kali diluncurkan Rusia pada 1957.

Namun, kurangnya transparansi dan uji klinis atas Sputnik V menimbulkan keragu-raguan, baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam waktu sekitar enam bulan, bisa saja kondisi itu berubah, saat banyak warga Rusia, termasuk jurnalis BBC Oleg Boldyrev, mulai divaksinasi dan Sputnik V kini menjadi andalan baru Rusia di tingkat global.

Menang perlombaan bikin vaksin, tapi masyarakat meragukan

Pada Agustus 2020, Rusia mengumumkan pengembangan vaksin Covid. Stasiun televisi pemerintah State TV menyajikan laporan optimistis bahwa proyek itu jadi pertanda dunia sains Rusia berada di posisi terdepan dalam pengembangan vaksin covid, seperti halnya saat Sputnik menjadi satelit buatan manusia pertama yang berhasil meluncur ke antariksa lebih dari 60 tahun lalu.

Namun, saat vaksinasi massal dimulai Desember tahun lalu, banyak warga Rusia yang merasa tidak perlu buru-buru divaksin.

Bukan karena masyarakat tidak percaya vaksin - walau ada juga kaum anti-vaksin di negara itu.

Alasan utama masih banyak warga yang ragu-ragu adalah terkait begitu cepatnya pembuatan vaksin Sputnik V. Ini terbukti dari sedikitnya mereka yang mendaftar pada tahap awal vaksinasi,

Banyak orang Rusia saat itu memilih menunda untuk divaksin di tengah proses pendaftaran yang belum jelas dan antusiasme berlebihan dari kalangan pejabat pemerintah.

baca juga

Presiden Vladimir Putin, yang membanggakan hadirnya Sputnik V kepada dunia, masih belum juga divaksin. Situasi itulah yang tidak bisa langsung mendongkrak kepercayaan masyarakat akan vaksin tersebut.

Apakah keragu-raguan akan Sputnik V akan memudar?

Belum sekarang, tapi mungkin sebentar lagi. Data terkini dari jajak pendapat independen di Rusia menunjukkan bahwa 58% responden yang ditanya mengaku masih menolak divaksin Sputnik V, baru 38% yang mendukung.

Dari para responden yang mengaku sangat khawatir tertular virus corona, hanya setengah dari mereka yang siap menerima vaksin buatan Rusia itu.

Sepertiga dari responden yang tidak percaya Sputnik V masih ingin melihat bukti bahwa vaksin itu efektif.

Namun kalangan yang skeptis mungkin bisa diyakinkan oleh berita dari jurnal medis Inggris, The Lancet, yang menggolongkan Sputnik V sebagai vaksin Covid yang memiliki tingkat kemanjuran yang sama dengan vaksin-vaksin buatan Barat - yaitu sekitar 92%.

Kalangan kritikus menilai para ilmuwan tidak seluruhnya transparan. Namun, publikasi dari jurnal The Lancet itu telah menjadi dukungan besar bagi Sputnik V, baik di dalam negeri dan secara global.

Pengalaman mendapatkan vaksin Sputnik V

Saya tinggal di Moskow dan sudah langsung divaksin.

Awalnya, saya mendaftar pertengahan Desember tahun lalu, tak lama setelah dimulainya kampanye vaksinasi massal. Saat itu banyak orang tampaknya masih enggan untuk mau divaksin. Itu sebabnya, saat mendaftar di klinik setempat, saya sudah langsung dapat jadwal vaksinasi.

Di Rusia, vaksinasi pada awalnya dibatasi hanya untuk beberapa kalangan, yaitu tenaga medis, guru, polisi, dan petugas penting lainnya yang rutin langsung berhadapan dengan warga.

Faktanya, permintaan vaksin dari kalangan-kalangan tersebut masih begitu rendah, sehingga memungkinkan siapapun bisa langsung mendaftar untuk divaksin, apapun profesi mereka.

Seorang teman saya, yang bukan warga Rusia pun, langsung bisa divaksin di sebuah klinik di Moskow tanpa hambatan.

Bahkan muncul laporan ada dosis-dosis vaksin yang terbuang percuma karena tidak dipakai.

Saat itu saya ingin langsung divaksin, tetapi memilih untuk menunggu selama tiga pekan mengantisipasi muncul kabar soal adanya efek negatif. Saya rasa kabar seperti itu akan sulit untuk ditutup-tutupi walau sistem kesehatannya dikendalikan negara.

Namun, tidak muncul kabar-kabar seperti itu.

Saat saya kembali ke layanan pemesanan vaksinasi daring (online), jadwal yang paling cepat tersedia adalah dua pekan lagi. Tampaknya warga Moskow mulai percaya dengan Sputnik V.

Saat diperiksa, dokter memastikan saya tidak pernah kontak dengan pasien Covid ataupun menderita alergi atau flu yang berpotensi bisa diperparah oleh Sputnik V, yang berbasis adenovirus manusia.

Saat dokter mengukur tekanan darah, saya bertanya kapan orang-orang mulai banyak mendaftar? Setelah vaksin itu bisa digunakan bagi yang berusia 65 tahun ke atas, jawabnya.

Suntikan yang berpotensi menyelamatkan nyawa itu ternyata masih dianggap tidak terlalu penting.

Setelah disuntik, saya lalu keluar ruangan dan disuruh menunggu untuk dilihat apakah tubuh saya akan muncul reaksi yang butuh perawatan mendesak, seperti syok anafilaktik.

Sambil menunggu di koridor bercat warna krem, saya berbincang dengan Ekaterina, seorang dokter berusia 40 tahun yang juga datang untuk divaksin.

Ia mengaku tidak begitu yakin Sputnik V akan efektif, tapi seorang temannya sudah sebulan dirawat di rumah sakit karena menderita komplikasi dari Covid-19.

Alasannya mirip dengan saya, yaitu setelah menunggu sebulan sejak vaksinnya tersedia secara luas dan tidak ada kabar adanya efek samping yang negatif, tidak ada salahnya divaksin.

Di luar Kota Moskow, situasinya agak berbeda. Dosis vaksin tidak tersedia dengan mudah dan harus diambil keputusan siapa yang lebih dahulu ditawari suntikan.

Memprioritaskan Moskow tampaknya hal yang logis - lagipula, hampir 10% dari populasi seluruh Rusia berada di ibu kota tersebut.

Mendistribusikan dan menyimpan vaksin di penjuru Rusia yang luas merupakan tugas maha berat. Memastikannya disimpan dengan aman di rumah sakit dan klinik di daerah-daerah yang banyak tidak memiliki alat pendingin (freezer) juga sangat sulit.

Bahkan walaupun sudah melonggarkan aturan suhu penyimpanan minimum Sputnik dari -18 derajat ke 8 derajat celcius di alat pendingin praktis, mendistribusikan vaksin untuk rata-rata puluhan ribu suntikan per hari saja pun bukanlah tugas yang mudah.

Berapa banyak yang sudah divaksin di Rusia?

Memeriksa data statistik resmi apapun terkait Covid bisa hal yang sulit.

Saat menteri kesehatan Rusia melaporkan 800.000 vaksinasi di awal tahun ini, angka itu tidak sesuai dengan gabungan laporan pemerintah daerah. Data dari daerah-daerah, yang dikumpulkan para analis independen, menunjukkan tidak sampai seperempat dari angka yang diumumkan Menkes - yaitu di bawah 200.000.

Kini pemerintah mengatakan hampir tiga juta dosis "tersedia bagi tenaga medis Rusia." Tidak jelas apakah angka ini merujuk pada dosis tunggal atau paket dosis ganda.

Seorang analis independen menunjukkan kurang dari 1,5 juta warga Rusia (hanya lebih dari 1% dari total populasi) yang sudah divaksin tahap pertama. Sedangkan mereka yang sudah tuntas dua kali disuntik, menurut perkiraan yang sama, baru sebanyak 120.000 jiwa.

Pada tingkatan tersebut, perlu waktu tidak sampai tiga tahun untuk memvaksin setengah dari total rakyat Rusia dengan dua dosis Sputnik V yang dibutuhkan.

Namun Kepala Badan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), Kirill Dmitriyev, yang menjadi salah satu juru bicara Sputnik V, pekan lalu mengatakan laju kampanye vaksinasi telah meningkat dan semua warga Rusia yang ingin disuntik bisa menjalaninya sampai Juni mendatang.

Hingga kini Rusia masih tertinggal dari sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, maupun Spanyol, apalagi Israel, yang telah memvaksin 60 persen dari seluruh rakyatnya.

Diplomasi vaksin

Rusia tampak lebih maju dalam diplomasi vaksin. Pemerintah melaporkan bahwa lebih dari delapan juta dosis yang telah dibuat akan dikirim ke negara-negara yang sudah memesan vaksin Rusia itu beberapa bulan lalu.

Sputnik V kini telah disetujui di 15 negara dan setidaknya sudah lima negara lagi yang mulai mempertimbangkan.

Di antara yang sudah setuju adalah beberapa negara eks blok komunis hingga Argentina, India, Iran, Tunisia, dan Pakistan. Beberapa negara lainnya, seperti China dan Korea Selatan, sudah menyatakan minat.

Badan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yaitu lembaga yang terafiliasi dengan negara, yang membantu pembiayaan Sputnik V, mengungkapkan bahwa lebih dari dua juta orang telah divaksin di penjuru dunia.

Bulan lalu, RDIF mengajukan pendaftaran Sputnik V di Uni Eropa. Jerman sudah menunjukkan minat, begitu vaksin tersebut sudah mendapat persetujuan UE.

Jurnal The Lancet yang memastikan tingkat kemanjuran Sputnik V turut mendongkrak posisi Rusia di dunia yang kini sangat berharap vaksin Covid tersedia secara luas.

Apakah masih ada lagi vaksin buatan Rusia yang disiapkan?

Sputnik V bukanlah satu-satunya. Masih ada dua lagi vaksin yang disiapkan tim ilmuwan Rusia.

Sekali lagi, muncul pertanyaan mengenai kebenaran data ilmiah yang menyertai pengumuman itu.

Dan - seperti hanya setiap kemunculan vaksin Covid di mana pun - ada pembahasan soal berapa lama perlindungan vaksin itu akan berlangsung dan apakah mampu menghadapi munculnya varian baru Covid-19 yang lebih menular.

Bagaimana cara kerja Sputnik V?

Cara kerja vaksin Sputnik mirip dengan suntikan Oxford/AstraZeneca yang dibuat di Inggris dan vaksin Janssen buatan Belgia.

Sputnik menggunakan virus tipe dingin, yang direkayasa agar tidak berbahaya, sebagai kurir membawa sebagian kecil virus corona ke tubuh.

Memaparkan tubuh dengan aman ke bagian kode genetik virus akan membuatnya mengenali ancaman dan mempelajari cara memerangi virus tersebut tanpa berisiko menjadi sakit.

Setelah divaksin, tubuh mulai memproduksi antibodi yang dirancang khusus untuk virus corona. Ini berarti sistem kekebalannya siap memerangi virus corona ketika benar-benar sudah bertemu.

Soal saya dan dosis pertama Sputnik V yang sudah disuntikkan, sudah sepekan berlalu tanpa ada efek samping yang besar, kecuali beberapa nyeri otot dan kelelahan dalam 24 jam pertama.

Penyuntikan dosis kedua yang akan segera berlangsung - bagi beberapa orang yang sudah menjalaninya - katanya akan menimbulkan efek yang sedikit tidak menyenangkan.

Bahkan bila sudah terima dosis kedua, saya tidak akan langsung jadi kebal Covid-19, seperti yang diperingatkan dalam selebaran biru muda yang dibagikan kepada setiap orang yang sudah divaksin.

Di bulan Maret nanti, apakah saya bisa hidup seperti saat sebelum pandemi Covid muncul? Bersosialisasi, pergi ke galeri, makan di restoran yang ramai?

Tampaknya saya harus menunggu lebih lama lagi sebelum kegiatan-kegiatan tersebut bisa kembali terwujud.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahlil Beberkan Tahap Kedua Impor Minyak Rusia Berjalan, RI Siapkan Kontrak Jangka Panjang

Bahlil Beberkan Tahap Kedua Impor Minyak Rusia Berjalan, RI Siapkan Kontrak Jangka Panjang

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa

Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Rusia - Ukraina Saling Tembak Drone dan Rudal, 14 Orang Tewas

Rusia - Ukraina Saling Tembak Drone dan Rudal, 14 Orang Tewas

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 10:09 WIB

Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia

Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:10 WIB

Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?

Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 07:34 WIB

Intelijen Rusia Disinyalir Bantu Iran Hancurkan Pangkalan Militer AS Tanpa Menyentuh

Intelijen Rusia Disinyalir Bantu Iran Hancurkan Pangkalan Militer AS Tanpa Menyentuh

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 11:16 WIB

Paradoks Ekspor Bioenergi Indonesia ke Rusia di Tengah Transisi Energi

Paradoks Ekspor Bioenergi Indonesia ke Rusia di Tengah Transisi Energi

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 13:45 WIB

Perang Iran Belum Selesai, Trump Kini Tantang Rusia dan China hingga Ancam Putin

Perang Iran Belum Selesai, Trump Kini Tantang Rusia dan China hingga Ancam Putin

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 09:30 WIB

Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah

Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 11:06 WIB

Minyak Mentah Rusia Tiba di Indonesia, Bahlil: Jangan Tanya Harganya

Minyak Mentah Rusia Tiba di Indonesia, Bahlil: Jangan Tanya Harganya

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 15:11 WIB

Terkini

Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya

Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:19 WIB

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:15 WIB

Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik

Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:13 WIB

PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur

PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:09 WIB

Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai

Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:08 WIB

Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda

Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:00 WIB

Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:45 WIB

6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang

6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:38 WIB

Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?

Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:32 WIB

Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret

Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:30 WIB

×