Cerita Bhikkhuni Buddha, Tak Benar Lahir Sebagai Perempuan Karma Buruk

Siswanto, BBC

Rabu, 24 Maret 2021 | 10:08 WIB
Cerita Bhikkhuni Buddha, Tak Benar Lahir Sebagai Perempuan Karma Buruk
BBC

Suara.com - "Jadi, akan sangat keliru jika ada yang mengatakan kelahiran sebagai seorang perempuan itu adalah karma buruk."

Hal itu diucapkan Julia Surya, 35, atau Bhikkhun hitcarn, dalam sebuah webinar bertajuk "Wanita Hebat Zaman Buddha" pada awal Maret lalu.

Ia merujuk pada pemahaman yang masih diyakini sejumlah umat Buddha bahwa perempuan lebih inferior dari laki-laki.

Dengan latar belakang Candi Borobudur di aplikasi Zoom-nya, perempuan berjubah oranye itu menjelaskan tentang sosok Khujjuttar, seorang pengikut Buddha perempuan terpelajar atau yang disebut upsik.

Khujjuttar, adalah satu-satunya siswa perempuan yang karyanya masuk dalam kitab Buddha bagian Khuddaka Nikya.

Kitab yang ditulis Khujjuttara, Itivuttaka, berisi khotbah-khotbah Buddha dalam bentuk prosa.

"Ketika ada upsaka (pengikut Buddha laki-laki) yang pintar, ternyata kita ada upsik yang pintar juga," ujar dosen di STIAB Smaratungga, Boyolali, Jawa Tengah itu.

Julia adalah satu dari belasan perempuan Indonesia yang ditahbiskan menjadi Bhikkhuni Theravda, alirah Buddha terbesar di Indonesia selain Mahyna.

Ia adalah Bhikkhuni Theravda bergelar doktor pertama di Indonesia yang mendalami bidang agama Buddha. Ia juga tengah mengejar gelar master keduanya di bidang Bimbingan dan Konseling di sebuah universitas di Semarang.

baca juga

Pendidikan, baginya, bukanlah suatu hal yang bisa ditawar-tawar, apalagi mengingat masih banyaknya pihak yang mempertanyakan keabsahan bhikkhuni Theravada.

"Misalnya, seperti bhikkhuni, di mana penolakan masih besar di luar sana, jika tidak membekali diri dengan pendidikan, dengan pengetahuan, dengan Dhamma (ajaran Buddha) yang baik, itu akan sangat sulit.

"Tapi ketika kita membekali diri dengan pendidikan, disiplin yang baik, itu akan menjadi satu nilai plus untuk tidak diremehkan," katanya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia.

'Tekad dan nekat beda tipis'

Hari beranjak petang dan Julia siap menjalankan ritual Puja Bhakti di lantai dua Vihara Mahabodhi, Semarang. Tiga hio dinyalakannya. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala lalu ia memukul gong.

Ia pun lanjut duduk bertumpu lutut untuk menjalankan ibadah itu, dengan dua smaer dan (calon Bhikkhun) di sisinya. Selama 45 menit, ia bermeditasi dan membaca Paritta.

Puja Bhakti mesti dilakukannya dua kali sehari, tapi setelah menjalani kehidupan monastik selama 13 tahun, hal itu tak dirasanya berat karena sudah biasa dilakukannya.

Melihat ke belakang, Julia mengatakan tak pernah berambisi menjadi seorang bhikkhuni, meski sudah aktif dalam kegiatan keagamaan Buddha sejak SMP.

Sedari kecil, ia pun selalu tertarik dengan kehidupan monastik, yang disebutnya penuh kesederhanaan.

Perempuan asal Bengkalis, Riau, itu mulanya terbang ke Pulau Jawa dengan tujuan untuk 'berlatih ' atau menjalani kehidupan monastik, meski saat itu ia mengatakan pada orang tuanya akan kuliah.

"Boleh dikatakan antara tekad dan nekat itu beda tipis," ujarnya.

Namun, di Boyolali, Jawa Tengah, hidupnya berubah arah.

Dia bertemu dengan seorang guru, yang mendorongnya untuk belajar agama Buddha secara formal di bangku kuliah.

"Saya awalnya masih tawar menawar. Bhante, saya nggak mau kuliah. Tapi beliau bilang baik-baik, 'kamu harus kuliah'.

"Saya selalu bilang nggak mau, sampai terakhir beliau ngomong, 'kalau nggak mau kuliah jangan jadi murid saya'.

Pada tahun 2007, ia mengikuti nasihat itu dan menjalani pendidikan S1, seraya menjalani kehidupan di biara dengan memakai jubah dan mencukur rambut.

Ia sedikit bingung ketika ditanya bagaimana perasaannya saat rambutnya dicukur habis.

"Kalau dikatakan begitu itu saya malah belum sempat merasa karena dadakan. Jadi tiba-tiba dibilangin nanti cukur.

"Sekarang justru selalu dikatakan...'jadi cantik ya'. Ya boleh dikatakan saya dulu ketika masih berambut malah berbeda dengan saat ini," katanya seraya tersenyum.

Enam bulan kemudian, ia baru memberi tahu kondisinya itu pada orang tuanya.

"Pada saat itu yang paling terpukul adalah papa. Kita nggak tahu ternyata papa itu setiap pagi, subuh itu sudah bangun keluar di ruang nonton TV, ternyata papa nangis sendiri."

"Papa bilang 'ini kita tidur dengan nyenyak, makan enak, anak kita itu gimana kondisinya di sana?'"

Butuh waktu bertahun-tahun hingga keluarganya menerima apa yang menjadi pilihan Julia.

"Setelah empat tahun, ketika saya lulus mereka datang ke wisuda, mereka melihat orang di sekeliling saya baik-baik dan kondisi saya sangat baik-baik. Akhirnya mereka benar-benar lega pada saat itu," ujarnya.

'Bantu perempuan dengan sekolah'

Selesai lulus S1, Julia meneruskan pendidikan S2 ke University of Kelaniya, Sri Lanka. Saat ia mengenyam pendidikan master itu pula, di tahun 2012, ia ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhun.

Julia mengatakan motivasinya adalah untuk melayani umat Buddha, terutama mereka yang perempuan.

"Karena perempuan juga banyak sekali penderitaan yang mereka rasakan. Itu kadang mereka seringkali nggak ada tempat menyampaikan penderitaan yang mereka alami.

"Ketika ada banyak bhikkhuni, semakin banyak wadah untuk menolong mereka yang menderita," ujarnya.

Sejumlah orang menganggap dalam tradisi Theravda, bhikkuni seharusnya sudah tidak ada karena garis penahbisan yang dipercaya telah putus sejak abad ke-11.

Namun, organisasi tempatnya bernaung Sangha Agung Indonesia mengakui penahbisan bhikkuni.

Julia pun mengingat apa yang dikatakan gurunya.

"Beliau hanya menjawab, perempuan dan laki-laki mempunyai potensi yang sama untuk berkembang. Kalau kamu ingin membantu perempuan, lakukan melalui pendidikan."

Menurut Yulianti, peneliti Center for Religion and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hingga tahun 2018, setidaknya hanya ada 13 bhikkhuni Theravada di Indonesia, dan Julia Surya adalah salah satunya.

Yulianti mengatakan di tahun 2000, keberadaan bhikkhuni di Indonesia baru muncul kembali setelah seorang perempuan asal Indonesia, Santini, ditahbiskan sebagai bhikkhuni di Taiwan.

'Bukan karma buruk'

Melalui pendidikan juga, Julia menekankan bahwa perempuan memiliki potensi sama seperti laki-laki, tak seperti anggapan "segelintir" orang yang percaya lahir sebagai perempuan adalah karma buruk.

Pemahaman seperti itu juga tertulis dalam 'Thai Woman in Buddhism' karya Chatsumarn Kabilsingh atau Bhikkhun Dhammananda, yang diterbitkan tahun 1991. Ia mengamati kehidupan perempuan di negara Thailand, tempat aliran Theravda berkembang pesat.

Bhikkhun Dhammananda menulis bahwa perempuan seringkali dipahami sebagai sesuatu yang negatif, hal yang akhirnya merusak citra diri perempuan dan menghalangi perkembangan spiritual dan sosial mereka.

Pemahaman yang samalah yang sering digunakan sejumlah kelompok yang menganggap bhikkhuni seharusnya tak ada.

Namun, menurut Julia, hal itu tak tepat.

"Jadi tidak benar jika dikatakan kelahiran sebagai perempuan adalah karma buruk. Itu menjadi sebuah statement karena ada yang menganggap saat ini bhikkhuni sudah tidak ada."

"Untuk bisa menjadi monastik, anggota Sangha, maka [dianggap] harus perbanyak kebajikan agar terlahir menjadi pria dan bisa menjadi Bhikkhu. Itu adalah pendapat segelintir kelompok yang menolak keberadaan bhikkhuni," ujarnya.

Namun, menurutnya, Buddha tak pernah membedakan laki-laki dan perempuan.

"Buddha tidak pernah mendiskreditkan pria dan wanita, justru dimana-mana, Buddha mengatakan yang membedakan seseorang bukan karena kelahirannya tetapi karena perbuatannya," ujarnya.

Ia mengatakan sebagai bhikkhuni, ia juga bisa berkarya dan tak terlalu mempermasalahkan mereka yang mempertanyakan keberadaan bhikkhuni.

"Ketika kita bisa berkarya melakukan sesuatu yang bermanfaat, penerimaan bukan dari yang penolaknya tapi lebih ke umatnya," katanya.

Jalan pendidikan

Menurut Yulianti, peneliti Center for Religion and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, saat ini, ada pula yang menjadi Bhikkuni independen, tanpa bergabung dengan organisasi Buddhis manapun, suatu hal yang disebutnya sebagai kemajuan.

"Kehadiran lembaga bhikkuni independen, ini a sign of progress (tanda kemajuan).

"Ketika perempuan Indonesia mau jadi bhikkuni, tapi ada organisasi yang tidak setuju perspektif pembentukan bhikkuni lagi, mereka menjadi bhikkuni indepeden, tidak mengafiliasi diri dengan lembaga manapun," ujarnya.

Kembali ke Julia, di masa pandemi Covid-19 ini, Julia secara rutin menggelar webinar untuk kampus tempatnya mengajar.

Tema yang diangkat beragam, dari soal pendidikan keagamaan Buddha, kearifan lokal nusantara, hingga kesehatan mental.

Tema perempuan, seperti Woman Supporting Woman, yang menjadi tema bulan Desember tahun lalu, juga kerap diangkatnya.

Julia mengatakan ia yakin perempuan bisa sama unggul dengan laki-laki dan kuncinya adalah pendidikan dan disiplin.

"Saya di sini lebih mendorong ayo perempuan harus memiliki pendidikan yang tinggi, kenapa? Karena perempuan itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik.

"Jadi ketika misalnya di rumah, seorang perempuan bisa memiliki pendidikan yang baik, memiliki wawasan yang baik, dia akan mampu mendidik generasinya dengan baik. Itu yang saya selalu teriakkan. Ayo sekolah, sekolah," pungkasnya.


'Bu, salat dulu...'

Nurcahyowati, rekan pengajar Julia di STIAB Smaratungga, mengatakan di kota Ampel, Boyolali, tempat sekolah itu berdiri, kehidupan umat beragama sangat harmonis.

Keberadaan figur agama, baik bhikku dan bhikkuni, katanya, juga sangat dihormati.

Nur yang beragama Muslim juga menjalin hubungan akrab dengan Julia.

Pengajar mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan itu bercerita saat-saat mereka berdua menjalani pelatihan di Lemhanas, Jakarta, selama dua pekan pada tahun 2019 lalu.

"Saya tahu persis kehidupan sehari-hari beliau. Kadang-kadang saya malu, bangunnya keduluan. Beliau bangun langsung meditasi, baru bangunin saya. Dia bilang 'Bu, bu salat dulu, ini waktunya salat subuh.'

"Saya malu, tapi berterima kasih sekali. Tidak hanya bhikuni ayya Thita [Julia] saja. Bhikkhuni lain yang di Ampel, bagaimana mereka menghargai keyakinan, agama lain, itu luar biasa," katanya.


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wapres Gibran Minta Umat Buddha Terus Jadi Pelopor Perdamaian

Wapres Gibran Minta Umat Buddha Terus Jadi Pelopor Perdamaian

Video | Senin, 01 Juni 2026 | 17:15 WIB

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:34 WIB

Mengenal Fang Sheng, Tradisi Melepas Makhluk Hidup saat Perayaan Waisak

Mengenal Fang Sheng, Tradisi Melepas Makhluk Hidup saat Perayaan Waisak

Video | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:05 WIB

30 Ucapan Hari Waisak 2026 Singkat Penuh Makna, Lengkap Link Twibbon dan Poster Siap Pakai

30 Ucapan Hari Waisak 2026 Singkat Penuh Makna, Lengkap Link Twibbon dan Poster Siap Pakai

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 07:38 WIB

Bundaran HI Bermandikan Cahaya Waisak dalam Illumination of Jakarta

Bundaran HI Bermandikan Cahaya Waisak dalam Illumination of Jakarta

Foto | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:19 WIB

Prosesi Sakral Pengambilan Api Dharma Waisak Digelar di Mrapen

Prosesi Sakral Pengambilan Api Dharma Waisak Digelar di Mrapen

Foto | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:30 WIB

Apa Makna Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha?

Apa Makna Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha?

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:15 WIB

Khusyuknya Prosesi Tiga Langkah Namaskara Sambut Waisak 2570 BE

Khusyuknya Prosesi Tiga Langkah Namaskara Sambut Waisak 2570 BE

Foto | Kamis, 28 Mei 2026 | 18:40 WIB

Apa Saja yang Dilakukan saat Hari Raya Waisak? Mengenal Hari Tri Suci Umat Buddha

Apa Saja yang Dilakukan saat Hari Raya Waisak? Mengenal Hari Tri Suci Umat Buddha

Lifestyle | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:25 WIB

Ribuan Umat Larut dalam Doa Bersama Waisak, Pesan Tekad Awal Menggema

Ribuan Umat Larut dalam Doa Bersama Waisak, Pesan Tekad Awal Menggema

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 05:15 WIB

Terkini

Benarkah Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri? Ini Jawaban Komisi III DPR

Benarkah Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri? Ini Jawaban Komisi III DPR

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:54 WIB

Tak Hanya Saksi, IPW Sebut 2 Brigjen TNI Satroni Polda Metro Hendak Ambil Paksa Barang Bukti

Tak Hanya Saksi, IPW Sebut 2 Brigjen TNI Satroni Polda Metro Hendak Ambil Paksa Barang Bukti

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:43 WIB

Sudah Jadi Tersangka, Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK

Sudah Jadi Tersangka, Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:42 WIB

Gus Lilur Minta Prabowo Segera Rukunkan Polri-Kejaksaan: Jangan Biarkan Beradu

Gus Lilur Minta Prabowo Segera Rukunkan Polri-Kejaksaan: Jangan Biarkan Beradu

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:37 WIB

Geger Isu Teror di Kantor BGN, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

Geger Isu Teror di Kantor BGN, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:29 WIB

Garansi Harga BBM Rakyat Kecil Tak Naik, Prabowo Sentil Pengusaha Pakai Lamborghini

Garansi Harga BBM Rakyat Kecil Tak Naik, Prabowo Sentil Pengusaha Pakai Lamborghini

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:20 WIB

Prabowo Didesak Turun Tangan, Cegah Konflik Polri-Kejaksaan Makin Melebar: TNI Jangan Ikut Campur

Prabowo Didesak Turun Tangan, Cegah Konflik Polri-Kejaksaan Makin Melebar: TNI Jangan Ikut Campur

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:16 WIB

Nama Febrie Terseret Isu Korupsi, Habiburokhman: Jika Bukti Kuat Harus Diproses

Nama Febrie Terseret Isu Korupsi, Habiburokhman: Jika Bukti Kuat Harus Diproses

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:14 WIB

Tragedi di Gorong-gorong Cipayung, 3 Pekerja Proyek Pipa Air Tewas Diduga Keracunan Gas

Tragedi di Gorong-gorong Cipayung, 3 Pekerja Proyek Pipa Air Tewas Diduga Keracunan Gas

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:11 WIB

DPR Dukung Kortas Tipikor Bongkar Skandal Batu Bara: TNI-Polri dan Jaksa Harus Solid!

DPR Dukung Kortas Tipikor Bongkar Skandal Batu Bara: TNI-Polri dan Jaksa Harus Solid!

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:05 WIB

×