Covid-19: Mutasi Ganda Varian Virus Corona Ditemukan di India

Siswanto | BBC | Suara.com

Kamis, 25 Maret 2021 | 11:14 WIB
Covid-19: Mutasi Ganda Varian Virus Corona Ditemukan di India
BBC

Suara.com - Varian baru virus corona dengan "mutasi ganda" ditemukan dari sampel-sampel yang dikumpulkan di India.

Para pejabat memeriksa apakah varian itu - dengan dua mutasi terjadi pada virus yang sama - mungkin lebih menular atau tak begitu mempan dengan vaksin.

Sebanyak 10.787 sampel dari 18 negara bagian India juga menunjukkan 771 varian, 736 dari Inggris, 34 dari Afrika Selatan dan satu dari Brasil.

Para pejabat mengatakan varian-varian itu tidak terkait dengan melonjaknya kasus di India.

India melaporkan 47.262 kasus baru dan 275 kematian pada Rabu (24/03), kenaikan tinggi harian pada tahun ini.

Kelompok SARS-CoV-2 Consortium on Genomics (INSACOG), kelompok 10 laboratorium di bawah kementerian kesehatan India, melakukan sekuens genom atas sampel yang ditemukan.

Sekuens genom ini adalah proses uji coba untuk memetakan kode genetika satu organisme, dan dalam hal ini virus.

Mutasi dalam virus biasa terjadi namun sebagian besar tidak signifikan dan tidak menyebabkan perubahan dalam kemampuan virus dalam menularkan atau menyebabkan infeksi serius. Namun sebagian mutasi, seperti yang terjadi di Inggris atau Afrika Selatan dapat menyebabkan virus lebih menular dan pada sejumlah kasus lebih mematikan.

Pakar virus Shahid Jameel mengatakan "mutasi ganda di protein virus dapat meningkatkan risiko dan menyebabkan virus terlepas dari sistem kekebalan".

Selubung protein pada virus adalah bagian dari virus yang digunakan untuk mempenetrasi sel-sel manusia.

Pemerintah mengatakan analisa sampel yang dikumpulkan dari negara bagian Maharashtra menunjukkan "kenaikan fraksi sampel dengan mutasi E484Q dan L452R"dibandingkan Desember tahun lalu.

"Mutuasi [ganda] menyebabkan kekebalan terlepas dan meningkatkan penularan," kata kementerian kesehatan dalam satu pernyataan.


Apakah mutasi ganda mengkhawatirkan?

Smitha Mundasad, wartawan kesehatan BBC

Mutasi ganda virus adalah kata yang menakutkan. Kata itu berarti ilmuwan India menemukan dua mutasi penting di lokasi berbeda dalam satu varian virus yang sama.

Temuan itu tidak mengejutkan.

Virus selalu bermutasi namun pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apakah mutasi ganda ini mengubah gerakan virus? Apakah varian ini lebih menular sekarang atau akan menyebabkan penyakit ini lebih mematikan? Yang lebih penting lagi adalah apakah vaksin yang ada sekarang bisa efektif?

Para ilmuwan kini sibuk mencari jawabannya. Para pejabat mengatakan karena jumlah tes yang keluar dengan mutasi ganda ini rendah, saat ini masih belum dapat dikatakan bahwa kenaikan terakhir di India akibat mutasi ganda.

Apa yang jelas adalah perlu dilakukan tindakan setelah temuan ini. Meningkatkan tes, pelacakan kontak, melakukan isolasi bila ada kasus serta penggunaan masker dan jaga jarak.

Terkait vaksin, sejauh ini, banyak varian yang dikhawatirkan, sejauh ini terbukti efektif diatasi dengan imunisasi.

Para ilmuwan yakin, bila diperlukan, vaksin-vaksin yang ada dapat dimodifikasi untuk mengatasi mutasi-mutasi baru.


Varian mutasi ganda belum menyebar di masyarakat

Pemerintah India menyanggah kenaikan terkait mutasi.

"Walaupun mutasi ganda ditemukan di India, jumlah yang ditemukan tak cukup untuk mengaitkan langsung dengan kenaikan kasus di sejumlah negara bagian," kata kementerian kesehatan.

Laporan terbaru muncul setelah sejumlah pakar meminta pemerintah untuk meningkatkan upaya sekuens genom.

"Kami perlu secara konstan memonitor dan menjamin bahwa tak ada varian itu yang menyebar di tengah penduduk. Fakta bahwa itu tidak terjadi sekarang bukan berarti dapat terjadi di masa datang. Dan kita harus memastikan bahwa kami mendapatkan bukti cukup di awal," kata Dr Jameel kepada BBC bulan ini.


India merupakan negara kelima di dunia yang melakukan sekuens genome virus corona.

Lebih dari 11,7 juta kasus dengan kematian tercatat 160.000 di India sejauh ini dan upaya untuk mengidentifikasi mutasi terus dilakukan.

India adalah negara ketiga tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Kenaikan terakhir yang dimulai bulan ini terjadi saat apa yang disebut para pakar sebagai fase rentan di India.

Sistem kesehatan di India sudah terganggu akibat upaya melawan virus dalam setahun ini.

Negara-negara bagian telah mulai menerapkan lagi pembatasan termasuk jam malam dan karantina terjadwal.

Dua kota besar, Delhi dan Mumbai, telah melakukan tes cepat di bandara, stasiun kereta dan tempat-tempat ramai seperti pertokoan secara random.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Petaka di Parkiran Pasar: Nabi Tewas Digorok, Pelaku Dihabisi Massa, Polisi Diam

Petaka di Parkiran Pasar: Nabi Tewas Digorok, Pelaku Dihabisi Massa, Polisi Diam

News | Kamis, 09 April 2026 | 22:49 WIB

Lagi, KPK Didesak Segera Selidiki Dugaan Korupsi Impor 105.000 Mobil India

Lagi, KPK Didesak Segera Selidiki Dugaan Korupsi Impor 105.000 Mobil India

News | Senin, 06 April 2026 | 21:58 WIB

Menaker Yassierli Sebut Industri Kreatif Ideal untuk Jadi Laboratorium Magang Nasional

Menaker Yassierli Sebut Industri Kreatif Ideal untuk Jadi Laboratorium Magang Nasional

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:28 WIB

Impor Pikap India Belum Cukup dan Agrinas Impor Lagi dari China untuk Kopdes Merah Putih

Impor Pikap India Belum Cukup dan Agrinas Impor Lagi dari China untuk Kopdes Merah Putih

Otomotif | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:25 WIB

Meski Diprotes, Truk dan Pikap India Disalurkan Bertahap ke Kopdes Merah Putih

Meski Diprotes, Truk dan Pikap India Disalurkan Bertahap ke Kopdes Merah Putih

Otomotif | Senin, 30 Maret 2026 | 16:57 WIB

Pikap India Sudah Terlanjur Diimpor, Tetap Disalurkan ke Kopdes Merah Putih

Pikap India Sudah Terlanjur Diimpor, Tetap Disalurkan ke Kopdes Merah Putih

Otomotif | Senin, 30 Maret 2026 | 15:36 WIB

Jerman 'Impor' Tenaga Kerja India: Solusi di Tengah Tsunami Pensiun

Jerman 'Impor' Tenaga Kerja India: Solusi di Tengah Tsunami Pensiun

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 11:25 WIB

Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat

Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat

Bisnis | Selasa, 24 Maret 2026 | 16:55 WIB

Sinopsis Subedaar, Film India Terbaru Anil Kapoor di Prime Video

Sinopsis Subedaar, Film India Terbaru Anil Kapoor di Prime Video

Your Say | Senin, 23 Maret 2026 | 14:35 WIB

Film India Dhurandhar: The Revenge Cetak Sejarah di Box Office AS, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya

Film India Dhurandhar: The Revenge Cetak Sejarah di Box Office AS, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya

Entertainment | Senin, 23 Maret 2026 | 20:00 WIB

Terkini

Panas! Donald Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Buru Kapal yang Lewati Selat Hormuz

Panas! Donald Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Buru Kapal yang Lewati Selat Hormuz

News | Senin, 13 April 2026 | 08:00 WIB

Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini

Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini

News | Senin, 13 April 2026 | 07:44 WIB

Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!

Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!

News | Senin, 13 April 2026 | 07:32 WIB

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu

News | Senin, 13 April 2026 | 07:26 WIB

Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil

Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil

News | Senin, 13 April 2026 | 06:52 WIB

Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya

Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya

News | Senin, 13 April 2026 | 06:46 WIB

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:15 WIB

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:00 WIB

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

News | Minggu, 12 April 2026 | 21:00 WIB

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:42 WIB