Waduh! AS Ancam Bom Oman, Berpotensi Ciptakan Perang Baru

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 28 Mei 2026 | 11:07 WIB
Waduh! AS Ancam Bom Oman, Berpotensi Ciptakan Perang Baru
Donald Trump (IG Donald Trump)
baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam akan meledakkan Oman jika bekerja sama dengan Iran mengontrol Selat Hormuz.

  • Pengamat internasional mengecam keras ancaman militer Trump dan menyamakannya dengan metode bos mafia.

  • AS mewajibkan negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai syarat kesepakatan gencatan senjata.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman militer ekstrem terhadap Oman jika negara itu terbukti membantu Iran. Washington bersikeras menolak segala bentuk kendali bilateral atas Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi global.

Langkah ini menandai pergeseran radikal dalam kebijakan luar negeri AS yang kini dinilai semakin agresif. Hubungan diplomatik bilateral yang telah terjalin selama dua abad kini berada di ambang kehancuran akibat ego geopolitik.

Ancaman ini mencuat dalam rapat kabinet setelah beredarnya laporan mengenai draf nota kesepahaman (MOU) antara Muscat dan Tehran. Kesepakatan tersebut dirumorkan bakal memberi otoritas bersama kepada kedua negara untuk mengelola kawasan perairan strategis itu.

Pelabuhan Salalah Oman (ONA)
Pelabuhan Salalah Oman (ONA)

Seorang jurnalis mempertanyakan sikap Gedung Putih mengenai wacana pengelolaan bersama tersebut dalam pertemuan itu.

Jurnalis bertanya, "Apakah Anda akan menerima kesepakatan jangka pendek yang mengizinkan Iran dan Oman mengendalikan selat tersebut?"

Trump secara spontan memberikan jawaban yang sangat agresif dan mengejutkan publik internasional.

"Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini adalah perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti orang lain, atau kami harus meledakkan mereka."

Pernyataan kontroversial ini langsung memicu kecaman keras dari berbagai pengamat internasional dan aktivis hak asasi manusia. Strategi yang dinilai sebagai diplomasi kapal perang ini dianggap dapat merusak stabilitas keamanan global secara permanen.

Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]
Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]

Direktur Advokasi kelompok hak asasi DAWN, Raed Jarrar, mengkritik keras pernyataan destruktif tersebut. Jarrar menyamakan retorika yang digunakan oleh Presiden Amerika Serikat itu dengan perilaku seorang bos mafia.

baca juga

Menurutnya, tindakan mengancam kedaulatan negara lain secara terbuka melanggar hukum internasional yang berlaku.

"Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara mana pun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat sama seperti mengikat negara lain," ujar Jarrar kepada Al Jazeera.

Jarrar juga menilai tindakan destruktif ini berpotensi merusak masa depan upaya perdamaian di Timur Tengah. Ketidakstabilan emosional pemimpin negara dianggap menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan sebuah perjanjian gencatan senjata.

Jarrar menambahkan, "Mengancam akan 'meledakkan' sebuah negara Arab karena wilayah perairannya kebetulan berada di sepanjang jalur minyak yang ingin dibuka kembali oleh Washington adalah logika tanpa hukum yang sama yang menghasilkan perang ini pada bulan Februari, dan ini adalah sinyal paling jelas bahwa gencatan senjata apa pun yang diperantarai oleh pemerintahan ini hanya akan bertahan sampai presiden kehilangan kesabarannya lagi dalam rapat kabinet."

Di sisi lain, pihak Gedung Putih secara tegas membantah keabsahan dokumen kesepakatan antara Iran dan Oman. Pemerintahan Trump melabeli laporan televisi pemerintah Iran tersebut sebagai sebuah fabrikasi total dan berita bohong.

Selain isu Selat Hormuz, Trump memanfaatkan momentum tersebut untuk menekan blok Arab lainnya. Ia menuntut negara-negara seperti Arab Saudi dan Qatar segera meresmikan hubungan diplomatik formal dengan Israel.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Serang Kota Pelabuhan Bandar Abbas Iran Dekat Selat Hormuz

AS Serang Kota Pelabuhan Bandar Abbas Iran Dekat Selat Hormuz

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 10:38 WIB

Trump Bikin Pasar Bergejolak, Harga Minyak Dunia Langsung Naik Tajam

Trump Bikin Pasar Bergejolak, Harga Minyak Dunia Langsung Naik Tajam

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:42 WIB

Isyana Sarasvati Sampai Melongo, Aksi Oman Drummer Cilik Taklukkan Lagu BURN Viral

Isyana Sarasvati Sampai Melongo, Aksi Oman Drummer Cilik Taklukkan Lagu BURN Viral

Entertainment | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:10 WIB

Terkini

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:50 WIB

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:25 WIB

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:25 WIB

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:23 WIB

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:55 WIB

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:50 WIB

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:39 WIB

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:32 WIB

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:24 WIB

×