Pemburu Tikus: Saya Bekerja Tak Pernah Sebahagia Ini

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 31 Maret 2021 | 11:10 WIB
Pemburu Tikus: Saya Bekerja Tak Pernah Sebahagia Ini
BBC

Suara.com - Tidak banyak orang yang iri dengan pekerjaan James Molluso.

Pria berusia 33 tahun itu telah menghabiskan lebih dari satu dekade membunuh kecoak dan menangkap tikus sebagai pengendali hama di New York.

"Hari-hari biasa saya dimulai dengan masalah tikus sederhana di rumah seseorang atau kutu busuk merayap di seluruh tempat tidur atau tubuh seseorang," katanya.

Meskipun bekerja enam hari seminggu dan ia harus merangkak ke ruang-ruang sempit untuk menghadapi apa yang tidak diketahui, James mengatakan dia mencintai pekerjaannya dan tidak ingin melakukan pekerjaan lainnya.

James termasuk minoritas.

Sebuah jajak pendapat yang mencakup 160 negara menemukan bahwa hanya 15% orang yang merasa terikat dalam pekerjaan.

Covid-19 juga telah memaksa banyak orang untuk menunda impian besar karier mereka.

Dengan rata-rata orang menghabiskan beberapa dekade hidup mereka untuk bekerja, apa kunci bahagia di tempat kerja?

Belajar mencintai pemburuan tikus

James tidak selalu bermimpi menjadi penangkap tikus.

Saat remaja, dia berpikir untuk bergabung dengan kepolisian dan hampir menerima pekerjaan di Departemen Pemadam Kebakaran New York.

"Itu adalah karier yang lebih stabil dalam pikiran saya karena mereka memiliki pensiun dan hidupnya sedikit lebih glamor," katanya.

Tapi ia tertarik menjadi pemberantas hama karena banyak orang yang tak mau dan tak mampu melakukan itu.

Hari ini, James mengatakan bahwa rasa syukur yang dia dapat dari pelanggan adalah apa yang membuatnya bangun dari tempat tidur di pagi hari.

"Ketika tiba-tiba Anda terbaring di tempat tidur dan ada serangga merayap di sekujur tubuh Anda, pembasmi serangga yang biasanya berpapasan dengan Anda di jalan, tiba-tiba menjadi sahabat Anda."

Laurie Santos, profesor psikologi di Universitas Yale, mengatakan ada perbedaan besar antara apa yang menurut masyarakat bernilai dalam karier dan apa yang sebenarnya membuat mereka bahagia.

"Kita pikir ini semua tentang kekayaan, prestise dan gelar-gelar," katanya.

"Tapi yang benar-benar membuat pekerjaan bagus adalah: apakah Anda merasa telah melakukan hal-hal baik di dunia? Apakah Anda merasa maju? Apakah Anda merasa terhubung dengan orang lain?"

Seperti James, mampu membantu orang "pada saat mereka membutuhkan" seringkali lebih penting daripada gaji yang besar, tambahnya.

Memiliki rasa identitas yang jelas dalam peran Anda juga penting untuk kesejahteraan Anda.

Penulis John Bowe, yang berbicara kepada lebih dari 100 pekerja untuk bukunya Gig: Americans Talk About Their Jobs, mengatakan: "Orang yang tampak paling bahagia adalah orang-orang dengan pekerjaan yang memberikan rasa bahwa mereka memiliki tempat dan peran yang kuat dalam komunitas.

"Jadi bisa jadi polisi, bisa juga insinyur kereta api, bisa jadi pilot maskapai penerbangan."

Banyak orang yang tidak bahagia bekerja untuk perusahaan besar, melakukan pekerjaan dengan bayaran tinggi, tetapi seringkali tanpa makna.

Seorang pengacara sekuritas perusahaan yang diangkat dalam buku tersebut menggambarkan pekerjaannya seperti "berurusan dengan iblis" untuk mempertahankan standar hidupnya, dan menambahkan: "Sulit untuk lepas".

John Bowe menambahkan: "Sulit untuk merasa seperti Anda melakukan sesuatu dan memecahkan masalah dunia jika pekerjaan Anda hanya mendorong jargon perusahaan sepanjang hari."

Uang itu penting

Jadi, berapa banyak uang yang Anda butuhkan untuk menjadi bahagia?

Sebuah studi oleh ekonom pemenang Hadiah Nobel Angus Deaton dan Daniel Kahneman menunjukkan bahwa angka ajaib itu bisa jadi $ 75.000 (Rp 1miliar).

Meskipun penghasilan lebih banyak meningkatkan kepuasan hidup karena Anda mampu membeli lebih banyak barang, itu tidak meningkatkan "kesejahteraan emosional".

Prof Laurie Santos dari Universitas Yale mengatakan semakin banyak orang berpenghasilan, semakin banyak yang mereka inginkan.

"Di satu sisi, mendapatkan lebih banyak uang memang membuat kita lebih bahagia, tapi tidak untuk waktu yang lama. Ini resep kesengsaraan karena setiap kali Anda menaiki langkah gaji baru, tujuan gaji Anda semakin menjauh, bukan semakin dekat."

Gerakan kecil, perbedaan besar

Mark Simmonds, 58, dari Buckinghamshire di tenggara Inggris, mengatakan stres dan kecemasan saat memulai bisnis konsultasi 20 tahun lalu memicu gangguan sarafnya.

"Saya tidak siap secara emosional untuk menghadapi perubahan dari bekerja untuk orang lain untuk menjalankan bisnis saya sendiri," katanya.

"Suatu hari, saya sedang melihat komputer saya dan tiba-tiba saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan saya seperti membeku."

Pengalaman itu membuat Mark mengevaluasi kembali kariernya.

Sebagai seorang "introvert alami", dia menemukan cara kerja yang membuatnya merasa lebih nyaman.

Ini membantunya memulai konsultasi pelatihan manajemen baru dengan istrinya Mel.

"Ketika saya masih muda, saya pikir saya terlalu peduli dengan apa yang orang pikirkan," katanya.

"Yang paling penting adalah berada dalam jenis pekerjaan yang tepat di mana karakter Anda sesuai dengan kebutuhan pekerjaan itu sendiri. Jika Anda mendapatkan dua hal itu, maka menurut saya stres secara otomatis berkurang."

Yang lain memperingatkan manajer untuk waspada terhadap kemungkinan staf merasa kelelahan, terutama mereka yang bekerja dari rumah.

Margaret Heffernan, profesor manajemen di University of Bath, berkata: "Kami telah mempelajari produktivitas sejak 1888 dan produktivitas berlangsung sekitar 40 jam seminggu. Setelah itu otak Anda lelah dan mulai membuat kesalahan.

"Anda bisa mempekerjakan orang lebih lama untuk mencapai tenggat waktu, tetapi jika Anda melakukannya dalam jangka panjang, yang Anda temukan adalah orang-orang mulai mengalami depresi, mereka mulai mundur untuk melindungi energi mereka yang tersisa, mereka mulai untuk memisahkan diri dari orang yang mereka cintai, dan mereka mulai merasa sangat terisolasi. "

Rutinitas itu penting, kata Prof Laurie Santos dari Yale, sama seperti mencari waktu di siang hari untuk bertemu dengan rekan kerja.

Rapat virtual sering kali "langsung ke bisnis", menawarkan lebih sedikit kesempatan untuk berbagi gosip kantor, katanya.

"Semua percakapan di kantor tidak terjadi. Setiap percakapan yang tidak terjadi itu terdampak pada kebahagiaan kita. Kita perlu membangunnya kembali."

Dengarkan serangkaian podcast khusus yang berfokus pada kesehatan mental di Business Daily di BBC World Service.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ngeri! Kecoak Hidup Ditemukan di Usus Pria Ini Setelah Makan di Pasar Malam

Ngeri! Kecoak Hidup Ditemukan di Usus Pria Ini Setelah Makan di Pasar Malam

News | Kamis, 17 Oktober 2024 | 11:00 WIB

Terekam CCTV, Aksi Keluarga Taruh Kecoak di Makanan saat Bersantap di Restoran agar Tak Bayar

Terekam CCTV, Aksi Keluarga Taruh Kecoak di Makanan saat Bersantap di Restoran agar Tak Bayar

News | Jum'at, 06 September 2024 | 12:49 WIB

Bau Mulut Mengerikan, Pria Ini Temukan Kecoak Tersangkut di Dalam Lehernya

Bau Mulut Mengerikan, Pria Ini Temukan Kecoak Tersangkut di Dalam Lehernya

News | Jum'at, 06 September 2024 | 11:03 WIB

Benarkah Rumah Banyak Tikus dan Kecoak Bisa Bikin Penghuninya Mudah Kena Santet?

Benarkah Rumah Banyak Tikus dan Kecoak Bisa Bikin Penghuninya Mudah Kena Santet?

Lifestyle | Selasa, 26 Maret 2024 | 13:43 WIB

Agak Lain, Lyodra Suka Kecoak karena Dianggap Lucu dan Seperti Sang Dewi Saat Terbang

Agak Lain, Lyodra Suka Kecoak karena Dianggap Lucu dan Seperti Sang Dewi Saat Terbang

Entertainment | Selasa, 01 Agustus 2023 | 17:35 WIB

RIP, Nasib Kecoak yang Bikin Heboh Met Gala 2023 Berakhir Tragis

RIP, Nasib Kecoak yang Bikin Heboh Met Gala 2023 Berakhir Tragis

Entertainment | Selasa, 02 Mei 2023 | 23:25 WIB

Sering Bikin Parno, Kecoak Ternyata Jadi Simbol Cinta di Kebun Binatang Ini

Sering Bikin Parno, Kecoak Ternyata Jadi Simbol Cinta di Kebun Binatang Ini

Lifestyle | Jum'at, 31 Maret 2023 | 03:25 WIB

Ngeri! Detik-detik Kecoak Keluar dari Telinga: Gimana Ya Cara Bersihkan Telinga yang Benar?

Ngeri! Detik-detik Kecoak Keluar dari Telinga: Gimana Ya Cara Bersihkan Telinga yang Benar?

Lifestyle | Senin, 02 Januari 2023 | 07:25 WIB

Mengapa Kecoak Tidak Boleh Dipukul? Waspada Cacing dari Kecoak yang Bisa Bikin Sakit!

Mengapa Kecoak Tidak Boleh Dipukul? Waspada Cacing dari Kecoak yang Bisa Bikin Sakit!

Lifestyle | Kamis, 03 November 2022 | 12:19 WIB

Duh! Curiga Rasa Air Mineral Berbeda, Cek Dispenser Ternyata Jadi Sarang Kecoak

Duh! Curiga Rasa Air Mineral Berbeda, Cek Dispenser Ternyata Jadi Sarang Kecoak

Tekno | Minggu, 02 Oktober 2022 | 10:10 WIB

Terkini

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:18 WIB

Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun

Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:04 WIB

Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi

Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:00 WIB

Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat

Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:45 WIB

Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon

Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:39 WIB

Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah

Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:37 WIB

Profil Praka Rico Pramudia, Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon

Profil Praka Rico Pramudia, Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:29 WIB

Circle Korupsi Sulit Dibongkar? Eks Penyidik KPK Ungkap Peran Loyalitas dan Skema Berlapis

Circle Korupsi Sulit Dibongkar? Eks Penyidik KPK Ungkap Peran Loyalitas dan Skema Berlapis

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:20 WIB

Daftar 4 TNI Gugur di Lebanon, Terakhir Praka Rico Pramudia

Daftar 4 TNI Gugur di Lebanon, Terakhir Praka Rico Pramudia

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:12 WIB

AS Siapkan Imbalan Rp172 Miliar Buru Hashim Al-Saraji Tokoh KSS Terduga Penyerang Fasilitas Diplomat

AS Siapkan Imbalan Rp172 Miliar Buru Hashim Al-Saraji Tokoh KSS Terduga Penyerang Fasilitas Diplomat

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:01 WIB