Cerita Pelaut Bisa Pulang Setelah Empat Tahun Ditelantarkan di Kapal

Siswanto, BBC

Sabtu, 24 April 2021 | 15:45 WIB
Cerita Pelaut Bisa Pulang Setelah Empat Tahun Ditelantarkan di Kapal
BBC

Suara.com - Mohammed Aisha bergabung dengan kapal "terkutuk" MV Aman, pada 5 Mei 2017.

Hari ini, setelah menghabiskan hampir empat tahun di atas kapal dan terdampar di lepas pantai Mesir, dia dibebaskan dan diterbangkan pulang ke Suriah. Jadi bagaimana perasaannya?

Jawabannya, dikirim melalui pesan teks dari pesawat di landasan di bandara Kairo, singkat saja.

"Lega. Sukacita."

Dan tak lama kemudian dia mengirimkan pesan suara.

"Bagaimana perasaan saya? Seperti baru keluar dari penjara. Saya akhirnya akan kembali ke keluarga saya. Saya akan bertemu mereka lagi."

Kalimat tersebut menandai akhir dari cobaan berat yang telah membebani kesehatan fisik dan mental Mohammed. Selama empat tahun, dia harus hidup tanpa listrik, sanitasi, atau kawan.

Cobaan itu dimulai pada Juli 2017, ketika MV Aman ditahan di pelabuhan Adabiya, Mesir. Kapal kargo itu ditahan karena masa berlaku sertifikat klasifikasi dan peralatan keselamatannya sudah habis.

Seharusnya cukup mudah untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi kontraktor kapal di Lebanon tidak membayar untuk bahan bakar dan pemilik MV Aman di Bahrain mengalami masalah keuangan.

baca juga

Dengan sang kapten kapal, warga Mesir, turun ke darat, pengadilan setempat menyatakan Mohammed, kepala perwira kapal, sebagai wali sah MV Aman.

Mohammed, yang lahir di kota pelabuhan Tartus di Mediterania Suriah, mengatakan dia tidak diberi tahu apa maksud perintah itu dan baru mengetahuinya beberapa bulan kemudian, ketika anggota awak lainnya mulai pergi.

Selama empat tahun berlalu begitu saja. Mohammed menyaksikan kapal-kapal berlayar melewatinya, masuk dan keluar dari Terusan Suez di dekatnya.

Saat terjadi kapal kontainer raksasa Ever Given merintangi terusan itu baru-baru ini, dia menghitung ada puluhan kapal menunggu kemacetan mereda.

Dia bahkan sempat melihat kakaknya, sesama pelaut, berlayar melewatinya lebih dari sekali. Dua saudara itu berbicara di telepon tetapi posisi mereka terlalu jauh bahkan untuk saling melambai.

Pada Agustus 2018, dia mendapat kabar bahwa ibunya, seorang guru yang mengajarinya bahasa Inggris dengan sangat baik, meninggal dunia. Itu adalah titik terendah Mohammed.

"Saya serius mempertimbangkan untuk bunuh diri," katanya kepada saya.

Pada Agustus 2019, Mohammed sendirian - hanya ditemani penjaga yang datang sesekali - dan terperangkap di kapal tanpa diesel dan, akibatnya, tanpa listrik. Hukum Mesir mewajibkannya untuk tetap tinggal di atas kapal dan dia tidak dibayar, kehilangan semangat dan merasa semakin tidak sehat.

Dia berkata kapal itu seperti kuburan di malam hari.

"Anda tidak dapat melihat apa pun. Anda tidak dapat mendengar apa pun," katanya. "Anda seperti berada di peti mati."

Pada Maret 2020, badai melemparkan Aman dari tempat berlabuhnya. Kapal itu hanyut sejauh delapan kilometer, dan akhirnya kandas beberapa ratus meter dari garis pantai.

Mohammed sempat merasa takut, namun berpikir itu adalah tindakan Tuhan. Sekarang dia bisa berenang ke darat setiap beberapa hari, membeli makanan, dan mengisi ulang baterai teleponnya.

Betapapun mengagumkannya cerita Mohammed, apa yang dia alami tidaklah unik. Faktanya, semakin banyak kasus pelaut yang ditelantarkan.

Menurut Organisasi Perburuhan Internasional, ada lebih dari 250 kasus aktif di seluruh dunia di mana awak kapal ditelantarkan begitu saja. Organisasi itu mengatakan 85 kasus baru dilaporkan pada tahun 2020, dua kali lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, di pelabuhan Assaluyeh Iran, 19 awak kapal curah Ula yang sebagian besar warga India melakukan mogok makan setelah kapal mereka ditelantarkan oleh pemiliknya pada Juli 2019.

Seorang anggota awak baru-baru ini mengatakan kepada jurnal pengiriman Lloyd's List bahwa situasi di kapal "sangat kritis", dengan depresi yang meluas dan keluarga para pelaut kehabisan uang.

"Pertama kali saya menemukan salah satu kasus ini, saya sangat terkejut," kata Andy Bowerman, direktur Mission to Seafarers untuk Timur Tengah dan Asia Selatan.

Dari kantornya di Dubai, dia telah melihat ini terjadi berkali-kali, biasanya karena kombinasi alasan yang sama.

"Saat ini kami sedang menangani satu kasus, di mana perusahaan memiliki hipotek besar di kapal, tetapi utang mereka jauh melebihi itu. Jadi kadang-kadang lebih mudah untuk memberi tahu kru untuk membuang sauh dan hampir secara harfiah pergi begitu saja."

Pemilik Aman, Tylos Shipping and Marine Services, mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah mencoba membantu Mohammed tetapi mereka tidak punya pilihan.

"Saya tidak bisa memaksa hakim untuk mencabut perwalian yang sah," kata seorang perwakilan kepada kami. "Dan saya tidak dapat menemukan satu orang pun di planet ini - dan saya sudah mencoba - untuk menggantikannya."

Mohammed, kata mereka, seharusnya tidak pernah menandatangani perintah itu sejak awal.

Mohamed Arrachedi dari Federasi Pekerja Transportasi Internasional, yang menangani kasus Mohammed pada bulan Desember, mengatakan ini seharusnya menjadi momen refleksi bagi semua orang di industri perkapalan.

"Kasus Mohammed harus membuka perdebatan serius untuk mencegah penganiayaan seperti ini terhadap pelaut di kapal," katanya kepada saya.

Perdebatan tersebut, katanya, harus melibatkan pemilik kapal, otoritas pelabuhan dan maritim, serta negara asal kapal.

"Drama dan penderitaan Mohammed Aisha ini bisa dihindari jika pemilik dan pihak-pihak yang menanggung tanggung jawab dan kewajiban terhadap kapal memenuhi tanggung jawab mereka dan mengatur pemulangannya lebih awal."

Sementara itu, Mohammed mengatakan dia merasa terjebak dalam situasi yang bukan salahnya, dipojokkan oleh hukum Mesir, dan diabaikan oleh pemilik kapal. Dia mengatakan berbulan-bulan bisa berlalu tanpa komunikasi - membuatnya merasa kecewa dan terisolasi.

Bisa dibayangkan, itu dapat membuatnya berpikir dua kali untuk kembali ke laut.

Akan tetapi dia masih bertekad. Dia mengatakan bahwa dia piawai dalam pekerjaannya dan tidak menginginkan apa pun selain melanjutkan pekerjaan yang dia tinggalkan.

Setelah dia bertemu dengan keluarganya, tentu saja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Satu Kartu BCA-Blibli Tiket, Reward dari Belanja hingga Travel

Satu Kartu BCA-Blibli Tiket, Reward dari Belanja hingga Travel

Foto | Senin, 14 September 2026 | 05:00 WIB

Awal Sempurna Indonesia di AMNC 2026, Bangladesh Dilumat 8-1

Awal Sempurna Indonesia di AMNC 2026, Bangladesh Dilumat 8-1

Bola | Senin, 14 September 2026 | 04:00 WIB

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 02:22 WIB

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Bola | Senin, 14 September 2026 | 00:29 WIB

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

×