Suku Awa di Brasil yang Paling Terancam: Mereka Membunuh Hutan Kami

Siswanto, BBC

Jum'at, 30 April 2021 | 08:41 WIB
Suku Awa di Brasil yang Paling Terancam: Mereka Membunuh Hutan Kami
BBC

Suara.com - Presiden Brasil Jair Bolsonaro telah meminta bantuan asing sebesar lebih dari Rp14,45 triliun ($1 miliar) setahun untuk mengurangi deforestasi ilegal di hutan hujan Amazon. Padahal, di bawah kepemimpinan Bolsonaro juga, penebangan hutan di Amazon Brasil terus melonjak yang membahayakan penghidupan beberapa komunitas adat paling rentan di dunia.

Kepala koresponden lingkungan kami, Justin Rowlatt, telah mencoba mencari tahu apa artinya hal ini bagi suku Amazon yang pertama kali dia temui pada tahun 2010.

Saya merasa seperti Mr Bean, tokoh TV berwajah karet yang diperankan oleh Rowan Atkinson, ketika pertama kali mengunjungi suku Awa lebih dari satu dekade lalu.

Saat itu, saya berharap jurang budaya yang menganga akan terhubung dengan mereka yang kesulitan. Meskipun, beberapa suku yang lebih tua telah dibesarkan di hutan hujan Amazon tanpa pernah berhubungan dengan dunia luar.

Tetapi dengan cepat menjadi jelas bahwa saya adalah pusat dari keingintahuan yang sebenarnya.

Suku Awa melihat, ketidaktahuan saya yang kikuk tentang cara-cara hidup di hutan. Seperti, saya menjerit ketika beristirahat di atas pohon yang runcing, lalu tersandung akar saat menyusuri jalan setapak hutan dan tersedak ketika ditawari seekor monyet yang sedikit hangus dan agak busuk untuk dimakan.

Setiap kemalangan saya memicu gelombang tawa dari tuan rumah. Jelaslah bahwa kunjungan saya merupakan sumber hiburan yang luar biasa bagi Suku Awa.

Suku Awa tetap baik hati meski menghadapi kesulitan dan ancaman. Lembaga amal konservasi Survival International menyebut Awa sebagai "suku paling terancam di dunia".

Ketika saya berkunjung pada tahun 2010, sahabat saya di komunitas tersebut, Pirai, memberi tahu bahwa mereka seringkali mendengar gergaji mesin di hutan dekat desa.

baca juga

Suku Awa adalah beberapa orang terakhir di Bumi yang masih mencoba untuk hidup sebagai pemburu-pengumpul tradisional tetapi kini cara itu menjadi semakin sulit.

Mereka tinggal di cagar hutan seluas 289.000 hektar di negara bagian Maranhão Amazon timur, yang dilanda kemiskinan. Selama beberapa dekade, penebang dan petani telah menyerang tanah leluhur mereka dan membuka hutan.

Dan dua tahun lalu ancaman terhadap Suku Awa semakin besar: seorang mantan perwira militer sayap kanan, Jair Bolsonaro, menjadi presiden Brasil.

Bolsonaro menegaskan, kemiskinan adalah ancaman terbesar bagi Amazon dan menyatakan bahwa Amazon perlu "dikembangkan" sebagai bagian dari modernisasi Brasil.

Presiden juga mengklaim bahwa masyarakat adat tidak ingin hidup seperti "manusia gua" dan telah mendorong pertambangan serta pertanian di hutan hujan terbesar di dunia.

Dan dampaknya dapat dilihat dalam angka terbaru tingkat deforestasi, kata para aktivis lingkungan.

Dari Agustus 2019 hingga Juli 2020 saja, 11.088 kilometer persegi (4.281 mil persegi) hutan hujan ditebangi, menurut badan antariksa Brasil (Inpe). Ini adalah laju deforestasi tertinggi di Amazon sejak 2008.

Pekan lalu, Bolsonaro mengatakan dia akan menghentikan deforestasi ilegal pada tahun 2030, tetapi dunia harus membayar Brasil sebesar Rp14,45 triliun ($1 miliar) melalui bantuan asing dalam setahun untuk mendanai upaya tersebut.

Polisi lingkungan

Pada tahun 2014, empat tahun setelah kunjungan pertama saya ke Suku Awa, saya mendapat undangan yang membuktikan bahwa hutan hujan dan masyarakat yang tinggal di dalamnya dapat dilindungi.

Saya diajak untuk menyaksikan puncak dari upaya pemerintah Brazil dalam menghentikan perusakan Amazon.

Saya tidak akan pernah lupa saat Pirai dan temannya Hamo dengan gugup masuk ke helikopter untuk pertama kalinya.

Mereka diterbangkan oleh polisi lingkungan untuk melihat hasil Operasi Awa, upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam membersihkan wilayah Awa dari para penjajah yang merusak hutan dan mendirikan pertanian.

Upaya tersebut menunjukkan bagaimana tentara Brazil, angkatan udara dan polisi militer bekerja sama dengan dinas perlindungan lingkungan dalam sebuah misi yang dikoordinasikan oleh badan masyarakat adat, Funai.

Kamp polisi lingkungan itu seperti pangkalan militer di Afghanistan - di dekat tepi cagar Awa- dilengkapi dengan tentara dan peralatan bersenjata lengkap.

Para petani diperingatkan untuk pergi dari hutan lindung dan ditawari tanah di tempat lain di negara bagian itu jika mereka mau.

Saya ingat satu keluarga petani memasukan semua yang mereka miliki ke dalam truk dan saya melihatnya seperti gemuruh yang menuju kehidupan baru mereka, meninggalkan awan debu Amazon merah di belakangnya.

Mereka bahkan telah melepaskan ubin dari atap pertanian tempat mereka tinggal selama 18 tahun.

Truk dengan tangan besi

Tetapi momen yang paling berkesan adalah ketika Pirai dan temannya Hamo mendarat di dekat tepi cagar Awa dan menyaksikan buldoser merobohkan rumah terakhir para petani.

"Mereka memiliki truk dengan tangan besi yang menghancurkan segalanya," kata Pirai dan Hamo kepada sesama Awa ketika kembali ke desa.

Operasi Awa terjadi di akhir dari beragam upaya untuk mengurangi deforestasi Amazon yang telah dimulai satu dekade sebelumnya.

Hal itu menunjukkan peran polisi lingkungan ditingkatkan.

Pasukan itu diberi armada kecil helikopter dan kendaraan baru dan pemerintah memerintahkan agar dilindungi oleh polisi dan tentara. Polisi lingkungan juga diberi otorisasi untuk menghancurkan peralatan siapa pun yang ditemukan sedang merobohkan hutan secara ilegal.

Dalam satu penggerebekan yang saya hadiri, petugas lingkungan menembaki tim penebang. Pada penggerebekan lainnya saya menyaksikan mereka menghancurkan pabrik penggergajian ilegal dan membakar reruntuhan.

Sebuah daftar hitam para petani dan penebang yang terlibat dalam kegiatan ilegal dibuat lalu disebarkan sehingga membuat mereka kesulitan untuk menjual produk atau mendapatkan pinjaman.

Dampak dari kebijakan ini sangat besar. Pada tahun 2012, deforestasi telah turun ke level terendah sejak pencatatan dimulai pada tahun 1988.


Berkaca dari upaya tersebut, saya menulis pada saat itu, "hal yang langka, sebuah pertempuran demi lingkungan yang berhasil dimenangkan".

It was, I wrote at the time, "that rare thing, an environmental battle that is actually being won".

Anarki di Amazon

Sayangnya, hal itu jauh dari kenyataan sekarang.

Pada 2019, badan pemantau satelit milik pemerintah Brasil melaporkan 74.000 kebakaran di Amazon, meningkat 84% dari tahun sebelumnya.

Saya tahu bahwa fokus pemerintah untuk menghentikan penggundulan hutan telah meleset, tetapi apa yang terjadi ini sangat luar biasa bahkan menurut standar Brasil.

Kemudian, pada April tahun lalu, ketika virus corona menyebar ke seluruh Brasil, Menteri Lingkungan Brasil, Ricardo Salles, berpidato di rapat kabinet yang diselenggarakan oleh Presiden Bolsonaro.

"Kami memiliki kesempatan saat ini, ketika perhatian pers hampir secara eksklusif tertuju pada Covid-19 dan bukan di Amazon," kata Mr Salles. "Sementara semuanya tenang, mari kita lakukan ini sekaligus dan ubah semua aturan," lanjutnya.

Dia kemudian mengatakan bahwa dia sebenarnya bermaksud mengatakan "sederhanakan" aturan. Tetapi seorang perwira senior di kepolisian lingkungan Brasil mengatakan, perlindungan akan lingkungan terus mengalami pelemahan di Amazon di bawah pemerintahan Bolsonaro.

Pendanaan untuk polisi lingkungan telah dikurangi secara dramatis dan Presiden Bolsonaro juga mengatakan bahwa polisi lingkungan seharusnya tidak lagi menghancurkan peralatan yang digunakan untuk penggundulan hutan.

Seorang petugas mengatakan, timnya juga kini tidak bisa lagi mengandalkan dukungan dari polisi setempat.

Polisi diserang

Polisi lingkungan itu meyakini bahwa para petani, penebang dan penambang yang mendapat untung dari perusakan hutan menjadi berani sekarang karena merasa mendapat dukungan dari pemerintah.

"Pekerjaan itu semakin berisiko, ini telah menjadi perang gerilya," katanya kepada saya.

Rekaman yang dibagikan secara online menunjukkan petugas polisi lingkungan diserang oleh massa dan penebang yang membangun penghalang jalan agar mereka tidak masuk hutan.

"Di tempat-tempat di mana kami tidak mengalami insiden di masa lalu, sekarang para penebang, pencari emas, penghuni liar sedang melakukan kerusuhan," kata petugas itu sambil menggelengkan kepalanya dengan putus asa.

LSM lingkungan terkemuka Brazil, Observatório do Clima, berpendapat data statistik juga berbicara tentang itu.

Diperkirakan denda untuk pelaku deforestasi turun 42% antara 2019 dan 2020, lalu pendanaan untuk polisi lingkungan dipotong 27% tahun lalu, sementara deforestasi naik 34% pada periode yang sama.

Pemerintah Brasil menyangkal telah sengaja merusak perlindungan atas lingkungan dan menegaskan kepada BBC bahwa pemerintah melindungi Amazon dengan sangat serius.

Pemerintah mengakui bahwa pejabat lokal terkadang mencabut perlindungan polisi untuk petugas lingkungan tetapi menegaskan bahwa itu bukanlah kebijakan resmi.

Dan ditegaskan pula bahwa aturan tentang pembakaran peralatan penebang dan penggunaan petani tidak berubah.

Sebuah pesan dari Suku Awa

Saya sangat ingin tahu bagaimana keadaan Suku Awa itu sekarang. Setelah banyak menelepon, kami berhasil menyampaikan pesan kepada mereka.

Rasanya seperti selamanya sebelum akhirnya kami mendapat balasan di bulan Januari. Itu adalah pesan rekaman dari Pirai.

Saya bisa mendengar burung hutan di latar belakang tapi kata-katanya penuh firasat. "Gergaji mesin masih berdengung seperti hari-hari Anda datang ke sini", katanya pada saya. "Para penebang akan kembali".


Beberapa foto komunitas berhasil dia kirimkan. Saya mengenali banyak wajah. Mereka tidak lagi tampak bahagia seperti saat saya berjumpa dengan mereka satu dekade sebelumnya. Ekspresi mereka kini terlihat serius.

seperti orang-orang bahagia sama seperti yang pernah saya habiskan bersama satu dekade sebelumnya. Ekspresi mereka serius.

"Penebang, petani, pemburu, penjajah ... mereka semua kembali," lanjut Pirai. "Mereka membunuh semua hutan kita."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:34 WIB

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Foto | Senin, 17 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Bikin Pengusaha Bingung, Purbaya Minta BKPM Siapkan Aturan Pemanfaatan Hutan Produksi di Aceh

Bikin Pengusaha Bingung, Purbaya Minta BKPM Siapkan Aturan Pemanfaatan Hutan Produksi di Aceh

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 15:16 WIB

Kabut Asap Karhutla: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Menghirupnya?

Kabut Asap Karhutla: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Menghirupnya?

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:26 WIB

Bahaya Maut Di Balik Karhutla, Ketika Asap Bisa Jadi Mesin Pembunuh Diam-diam

Bahaya Maut Di Balik Karhutla, Ketika Asap Bisa Jadi Mesin Pembunuh Diam-diam

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:07 WIB

Lebih dari Satu Dekade Menjaga Hutan, Masyarakat Adat Long Isun Menanti Kepastian Hak

Lebih dari Satu Dekade Menjaga Hutan, Masyarakat Adat Long Isun Menanti Kepastian Hak

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 15:55 WIB

Tragedi Karhutla Kubu Raya, Kasim Meninggal Saat Bantu Petugas Jinakkan Api

Tragedi Karhutla Kubu Raya, Kasim Meninggal Saat Bantu Petugas Jinakkan Api

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:51 WIB

Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Palembang Sangat Tidak Sehat

Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Palembang Sangat Tidak Sehat

Foto | Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:33 WIB

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:33 WIB

Bagaimana AI Dapat Membantu dalam Memetakan Hutan Dunia?

Bagaimana AI Dapat Membantu dalam Memetakan Hutan Dunia?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:13 WIB

Terkini

Galaxy S26 FE Jadi yang Pertama Bawa One UI 9, Samsung Genjot Kamera dan Galaxy AI

Galaxy S26 FE Jadi yang Pertama Bawa One UI 9, Samsung Genjot Kamera dan Galaxy AI

Tekno | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:31 WIB

KPK Geledah Kantor Disdik Kabupaten Bogor Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa!

KPK Geledah Kantor Disdik Kabupaten Bogor Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa!

News | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:29 WIB

Kabar Baik dari Halimun Salak! 51 Macan Tutul Jawa Buktikan Alam dan Manusia Bisa Berbagi Ruang

Kabar Baik dari Halimun Salak! 51 Macan Tutul Jawa Buktikan Alam dan Manusia Bisa Berbagi Ruang

Lifestyle | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:19 WIB

Kuansing Status Siaga Darurat Bencana Akibat Kabut Asap Karhutla

Kuansing Status Siaga Darurat Bencana Akibat Kabut Asap Karhutla

Riau | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:17 WIB

Aragon Menanti Marc Marquez: Mampukah Sang Raja Kembali Berjaya?

Aragon Menanti Marc Marquez: Mampukah Sang Raja Kembali Berjaya?

Your Say | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:15 WIB

Heboh Harga Yamaha R2 40 Jutaan, Mesin DOHC Garang yang Bikin R15 Minder

Heboh Harga Yamaha R2 40 Jutaan, Mesin DOHC Garang yang Bikin R15 Minder

Otomotif | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:11 WIB

Menkomdigi Ubah Aturan Kuota Internet, Operator Wajib Lindungi Sisa Kuota dan Beri Pilihan Pelanggan

Menkomdigi Ubah Aturan Kuota Internet, Operator Wajib Lindungi Sisa Kuota dan Beri Pilihan Pelanggan

Tekno | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:10 WIB

Rektor Diberhentikan, 9 Dosen Di-PTDH, Ada Apa di Universitas PGRI Palembang?

Rektor Diberhentikan, 9 Dosen Di-PTDH, Ada Apa di Universitas PGRI Palembang?

Sumsel | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:00 WIB

5 Cara Pakai Air Mawar Viva untuk Bikin Wajah Glowing Maksimal

5 Cara Pakai Air Mawar Viva untuk Bikin Wajah Glowing Maksimal

Lifestyle | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:54 WIB

Tidak Semua Bentuk Tubuh Cocok dengan Celana Cutbray, Mitos atau Fakta?

Tidak Semua Bentuk Tubuh Cocok dengan Celana Cutbray, Mitos atau Fakta?

Your Say | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:54 WIB

×