Suara.com - Politisi PDIP, Arteria Dahlan geram melihat kritikan yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM KM Unnes) yang menyebut Ketua DPR RI Puan Maharani The Queen of Ghosting.
Arteria mengaku sedih dengan stigma yang dilontarkan BEM KM Unnes terhadap Puan Maharani. Ia mempertanyakan terkait dasar kritikan yang disampaikan tersebut.
"Saya menanyakan paham gak sih apa yang disampaikan? Kok dangkal sekali ya, hanya dengan mendasarkan pada beberapa fakta atau bahkan kepingan suatu fakta yang tidak utuh," kata Arteria kepada wartawan, Rabu (7/7/2021).
Arteria menuding kalau kritikan yang disampaikan BEM KM Unnes hanya berdasarkan prasangka tanpa adanya penelitian yang jelas. Bahkan, ia menyebutkan kritikan tersebut cenderung menista dan berisi fitnah.
"Yang bahkan cenderung menista, memfitnah dan menyerang kehormatan seseorang, apalagi orang tersebut Kepala Lembaga Tinggi Negara dan kepala lembaga kepresidenan," tuturnya.
Anggota Komisi III DPR RI ini lantas membandingkan dirinya ketika menjadi mahasiswa. Menurutnya kritikan yang disampaikan teman-teman BEM KM Unnes jauh berbeda nilainya.
"Saya pertanyakan BEM KM Unnes kalian hidup dimana? Apa ada baca berita koran, media sosial dan lain-lain. Apa ndak terbiasa menggunakan akal sehat sedikitlah sebelum melontarkan hal-hal yang demikian? Dangkal sekali logika berpikirnya," tuturnya.
Lebih lanjut, Arteria meminta BEM KM Unnes untuk mempelajari proses pembentukan Undang-Undang sebelum melontarkan kritikan.
"Nah saya sedih nih dengernya, kalau dipersoalkan UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker kok dibahas, ya memang harus dibahas segera. Kenapa? Ya kalian harus paham prosedur pembentukan peraturan perundang-undangan. Apalagi sudah disepakati sebagai RUU prioritas untuk dibahas. Jadi belajar dulu sebelum bicara," tandasnya.
Kritikan Unnes
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM KM Unnes) ikut menyuarakan kritik terhadap pejabat negeri via media sosial seperti BEM UI dan BEM UGM sebelumnya.
Dalam unggahannya di instagram @bemkmunnes, mereka membuat meme dan menjuluki Presiden Joko Widodo atau Jokowi: "The King of Lip Service", Wapres Ma'ruf Amin: The King of Silent", dan Ketua DPR RI Puan Maharani: The Queen of Ghosting.
BEM Unnes menilai kinerja Ma'ruf Amin sebagai wapres tidak terlihat di masa pandemi Covid-19, seharusnya juga turut mengisi kekosongan peran yang tidak mampu ditunaikan oleh presiden.
Puan Maharani dijuluki The Queen of Ghosting, karena produk legislasi yang dihasilkan DPR saat ini dinilai tidak memihak rakyat.
"UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker dan seterusnya, serta tidak kunjung disahkannya RUU PKS yang sebetulnya cukup mendesak dan dibutuhkan pengesahannya," ungkap BEM Unnes.