Seperti Apa Acara Jamasan Slambu Penutup Makam Pangeran Samodro di Tengah Pandemi?

Siswanto | Suara.com

Selasa, 10 Agustus 2021 | 12:01 WIB
Seperti Apa Acara Jamasan Slambu Penutup Makam Pangeran Samodro di Tengah Pandemi?
Pemandangan di sekitar Gunung Kemukus terlihat dari Jembatan Barong, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Kamis (28/11/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Suara.com - Tradisi jamasan slambu (tirai) penutup makam Pangeran Samodro tetap diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19. Tradisi turun temurun yang disebut Nglarap Slambu dilaksanakan di kompleks wisata Gunung Kemuskus, Pendem, Sumberlawang.

Penyelenggara acara tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. 

Dalam laporan Solopos dijelaskan, air bekas jamasan atau cucian slambu biasanya menjadi rebutan masyarakat yang mengharapkan datangnya keberhakahn.  Namun, pada ritual 1 Sura pada Selasa (10/8/2021) tak ada orang yang berebut air.

Prosesi Nglarap Slambu dilaksanakan hanya sekitar 45 menit dan diikuti sekitar 20 orang.

Penonton hanya warga sekitar, kurang lebih 10 orang. Proses pelepasan slambu dimulai pukul 07.00 WIB dan selesai pada pukul 07.45 WIB.

Acara Nglarap Slambu sudah menjadi agenda wisata dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sragen. Penyelenggaraan tradisi turun temurun ini sebelum masa pandemi, menjadi magnet bagi warga luar Sragen untuk datang ngalap (mencari) berkah.

Mereka tak sekadar mencari air bekas cucian slmabu, tetapi slambu bekas yang sudah dicuci pun mereka buru karena dipercaya mendatangkan keberkahan. Slambu bekas yang sudah dicuci sebagian dipasang kembali dan sebagian yang rusak diganti dengan yang baru.

“Proses ritual Nglarap Slambu tahun ini sangat sederhana dan waktunya memang dipercepat. Prosesinya, slambu yang dicopot kemudian dikirap menuruni bukit untuk dicuci di perairan Waduk Kedung Ombo. Kalau dulu kirabnya sampai waduk jalan kaki, sekarang dinaikkan mobil Polsek sehingga cepat. Setelah dicuci di waduk kemudian dibawa ke tempat jamasan untuk dibilas,” ujar Kepala Dispora Sragen I. Yusep Wahyudi kepada Solopos.com.

Yusep menambahkan pembilasan slambu di Gunung Kemukus dilakukan oleh sejumlah tokoh.

Yusep memulai awal pembilasan kemudian diikuti camat Sumberlawang, kapolsek Sumberlawang, danramil Sumberlawang, dan juru kunci Makam Pangeran Samodro.

Setelah pembilasan ritual selesai. “Setelah ritual kami sarapan nasi tumpeng bersama. Bagi warga yang membutuhkan air bekas bilasan slambu itu sudah disediakan sebanyak 200 botol bekas air mineral berkapasitas 600 ml. Warga yang membutuhkan air itu mendaftar ke panitia. Biasanya warga yang mengambil itu sudah mendapat pesanan dari luar Sragen,” kata Yusep.

Bayan Gunungsari, Desa Pendem, Sumberlawang, Ariyadi, mengatakan acara kali ini tak ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tidak ada yang berebut air bilasan slambu. Bagi yang membutuhkan air itu bisa minta kepada pihak panitia karena air sudah ditampung di botol-botol yang disediakan. Ya, beginilah situasi PPKM [pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat],” ujarnya.

Ariyadi menyampaikan pada malam jelang 1 Sura pun tak ramai. Ariyadi menyampaikan selama 1,5 tahun masa pandemi, Gunung Kemukus Sragen sepi.

“Bahkan sebelum Covid-19 pun sudah sepi. Warga hanya bisa berdoa semoga pandemi segera berakhir dan virusnya segera musnah,” ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan

KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan

News | Jum'at, 10 April 2026 | 21:42 WIB

Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL

Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL

News | Jum'at, 10 April 2026 | 21:28 WIB

Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak

Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak

News | Jum'at, 10 April 2026 | 21:24 WIB

Kantor Kementerian PU Digeledah Kejati, Seskab Teddy: Silakan, Pemerintah Terbuka untuk Proses Hukum

Kantor Kementerian PU Digeledah Kejati, Seskab Teddy: Silakan, Pemerintah Terbuka untuk Proses Hukum

News | Jum'at, 10 April 2026 | 21:21 WIB

Seskab Teddy: Presiden Prabowo Bakal ke Rusia Dalam Waktu Dekat

Seskab Teddy: Presiden Prabowo Bakal ke Rusia Dalam Waktu Dekat

News | Jum'at, 10 April 2026 | 20:53 WIB

Pastikan Program Unggulan Presiden Berjalan, Mendagri Tinjau Program Perumahan Rakyat di Tomohon

Pastikan Program Unggulan Presiden Berjalan, Mendagri Tinjau Program Perumahan Rakyat di Tomohon

News | Jum'at, 10 April 2026 | 20:47 WIB

Seskab Teddy Bantah Isu Indonesia Bakal 'Chaos': Itu Narasi Keliru!

Seskab Teddy Bantah Isu Indonesia Bakal 'Chaos': Itu Narasi Keliru!

News | Jum'at, 10 April 2026 | 20:27 WIB

Diversifikasi Pasar Belum Optimal, Indonesia Rentan Terseret Dampak Konflik Timur Tengah

Diversifikasi Pasar Belum Optimal, Indonesia Rentan Terseret Dampak Konflik Timur Tengah

News | Jum'at, 10 April 2026 | 20:15 WIB

Seskab Teddy Sebut Ada Fenomena Inflasi Pengamat: Beri Data Keliru, Picu Kecemasan

Seskab Teddy Sebut Ada Fenomena Inflasi Pengamat: Beri Data Keliru, Picu Kecemasan

News | Jum'at, 10 April 2026 | 20:14 WIB

Kritik Wacana War Tiket Haji, Pakar UGM: Negara Seharusnya Beri Kesetaraan Bukan Ruang Kompetisi

Kritik Wacana War Tiket Haji, Pakar UGM: Negara Seharusnya Beri Kesetaraan Bukan Ruang Kompetisi

News | Jum'at, 10 April 2026 | 19:29 WIB