Indonesia Dulu Ajarkan Islam Moderat ke Taliban, Efeknya Tak Signifikan

Reza Gunadha, BBC

Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:34 WIB
Indonesia Dulu Ajarkan Islam Moderat ke Taliban, Efeknya Tak Signifikan
Jusuf Kalla saat menjadi Wakil Presiden, bertemu pemimpin Taliban dan mengajak makan Rumah Jabatan Wakil Presiden RI [SuaraSulsel.id / Tim Media JK]

Suara.com - Indonesia pernah berusaha memperkenalkan pendekatan Islam moderat kepada Taliban, sebelum kelompok fundamentalis tersebut kembali menguasai Afganistan serta memicu ketakutan terhadap represifitas pemerintah.

Karenanya, sejumlah analis menilai upaya 'ekspor' Islam moderat dari ormas-ormas Islam Indonesia kepada Taliban dinilai hanya memiliki keberhasilan yang tidak signifikan.

Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia melalui organisasi kemasyarakatan Islam dan Majelis Ulama Indonesia secara aktif terlibat dalam proses bina damai (peace-building) di Afghanistan, walaupun bukan sebagai aktor utama.

Salah satu bentuk upaya tersebut adalah mengundang perwakilan Taliban dan pemerintah Afghanistan ke Jakarta pada 2019.

Dalam pertemuan itu, perwakilan Taliban, Mullah Abdul Ghanis Baradar berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Ulama Indonesia tentang moderasi beragama.

Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini menceritakan bagaimana waktu itu ketua NU Said Aqil Siradj memaparkan Indonesia sebagai contoh masyarakat Muslim yang tidak menghadap-hadapkan agama dengan negara, agama dengan budaya.

"Nilai agama melebur menjadi spirit kebangsaan, kemudian terjadi akulturasi budaya antara agama dengan budaya lokal, melahirkan suatu tradisi dan kearifan-kearifan lokal," kata Helmy kepada BBC News Indonesia.

Helmy mengatakan bahwa NU, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, terus berusaha melakukan diplomasi politik luar negeri untuk mengajak semua pihak di Afghanistan membangun spirit moderasi dalam beragama.

Usaha diplomasi tersebut bertujuan mencegah kekerasan dalam praktik pemerintahan di Afghanistan serta memastikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, terutama pada perempuan dan anak-anak.

baca juga

"Itulah prinsip Islam wasathiyyah di mana menjadikan nilai agama sebagai sumber kebaikan untuk senantiasa, pertama membangun perdamaian, kedua membangun ta'awun atau kerja sama untuk tolong-menolong, dan ketiga membangun peradaban yang unggul."

Helmy menjelaskan bahwa terdapat organisasi NU di Afghanistan, yang didirikan oleh orang asli sana. Melalui jalur itulah para ulama NU akan menyampaikan pesan kepada tokoh-tokoh kunci Taliban bahwa mereka bisa menjadi musuh bersama dunia jika membangun pemerintahan yang otoriter dan brutal.

Kontribusi lain Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Afghanistan adalah menjadi tuan rumah konferensi trilateral ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan pada 2018.

Konferensi yang diadakan di Istana Kepresidenan Bogor itu menghasilkan "Deklarasi Bogor" yang berisi sejumlah poin penting untuk perdamaian dan resolusi konflik di Afghanistan dan negara-negara Islam lainnya. Namun, konferensi tersebut tidak dihadiri perwakilan Taliban.

Pemerintah Indonesia juga pernah mengundang puluhan anak muda Afghanistan untuk menetap di salah satu pesantren di Jawa Tengah.

Wachid Ridwan, pengurus Lembaga Luar Negeri Pengurus Pusat Muhamadiyyah, berpendapat bahwa walaupun berbagai upaya diplomasi tersebut patut diapresiasi, dampaknya tidak signifikan dalam mendorong Taliban untuk menjadi lebih moderat.

Ia mempertanyakan sejauh mana perwakilan Taliban dapat kembali ke Afghanistan dan menerapkan gagasan tentang Islam wasathiyah, toleransi, dan kebhinekaan.

"Dampaknya mungkin hanya pada satu-dua orang saja kali, dan itu mungkin tidak betul-betul mengakar ke sebuah sistem," kata Wachid kepada BBC News Indonesia.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Internasional Indonesia, Syafiq Hakim, juga pesimis bahwa Indonesia dapat memberikan sumbangan pada penyelesaian masalah Afghanistan terutama setelah negara itu kembali dikuasai oleh Taliban.

Menurut Syafiq, meskipun selama ini ormas Islam seperti NU menjalin kontak dengan Taliban, namun sokongan Indonesia lebih kepada pemerintahan Afghanistan yang berkuasa saat itu.

"Karena itu, ketika Taliban ini berkuasa kembali, apakah kita bisa berbicara dengan dia sementara kita dulu lebih mendukung kepada pemerintahan yang digantikan oleh Taliban ini. Ini persoalan yang krusial bagi kita," kata Syafiq.

Selain itu fakta bahwa pemerintah Indonesia mengevakuasi seluruh diplomatnya dari Afghanistan merupakan pertanda bahwa posisi Indonesia tidak dipertimbangkan, menurut Syafiq. "Kalau kita punya posisi kan seharusnya kita diminta pemerintah Taliban untuk tinggal di sana."

Syafiq berpendapat, hambatan lain dalam diplomasi dengan Taliban ialah perbedaan budaya dan tidak adanya tokoh ulama Indonesia yang dihormati oleh kelompok itu.

"Kelompok-kelompok yang bisa berperan adalah, selain di Pakistan, juga negara-negara kaya di Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi," kata Syafiq.

Tunjukkan sisi lain Islam

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Katolik Parahyangan, Kishino Bawono, saat ini jalur yang bisa ditempuh Indonesia untuk membantu menyelesaikan konflik di Afghanistan ialah berupaya menjembatani perdamaian antara Taliban dengan kelompok-kelompok non-Taliban.

Namun, hal itu bergantung pada sejauh mana keinginan pemerintah Indonesia saat ini maupun yang akan datang. Menurut Kishino, pemerintah Indonesia masih punya PR yang cukup banyak terkait proses deradikalisasi kelompok-kelompok fundamentalis di Indonesia.

Ketika usaha dialog dengan Taliban menemui keberhasilan terbatas, hal yang dapat dilakukan Indonesia adalah menunjukkan "wajah Islam yang lain" kepada dunia, kata pakar hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Kishino Bawono.

"Jika Taliban dianggap sebagai gerakan radikal, fundamentalis di dalam Islam, maka Indonesia dapat menunjukkan sisi Islam yang lebih moderat dan progresif sehingga tidak ada dominasi narasi bahwa Islam sama dengan Taliban," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Taliban Kembali Berkuasa, Akankah Afganistan Jadi Ladang Teroris?

Taliban Kembali Berkuasa, Akankah Afganistan Jadi Ladang Teroris?

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:15 WIB

Viral Video Diduga Gadis Afghanistan Sesenggukan Meminta Tolong ke Tentara Amerika

Viral Video Diduga Gadis Afghanistan Sesenggukan Meminta Tolong ke Tentara Amerika

Your Say | Selasa, 24 Agustus 2021 | 12:41 WIB

Demo Imigran Afghanistan di Jakarta Dibubarkan Polisi, 10 Anak Diamankan

Demo Imigran Afghanistan di Jakarta Dibubarkan Polisi, 10 Anak Diamankan

Jabar | Selasa, 24 Agustus 2021 | 12:26 WIB

Demo di UNHCR Dibubarkan Paksa, 3 Imigran Afghanistan Diseret ke Mobil Polisi

Demo di UNHCR Dibubarkan Paksa, 3 Imigran Afghanistan Diseret ke Mobil Polisi

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 11:31 WIB

Fadli Zon Puji Wawancara Petinggi Taliban: Intelek, Sangat Terukur dan Beradab

Fadli Zon Puji Wawancara Petinggi Taliban: Intelek, Sangat Terukur dan Beradab

Riau | Selasa, 24 Agustus 2021 | 10:08 WIB

Bendera Afghanistan Diganti, Bendera Lama Kini jadi Simbol Pembangkangan

Bendera Afghanistan Diganti, Bendera Lama Kini jadi Simbol Pembangkangan

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 08:46 WIB

Polri Diminta Tumpas Gerakan Pendukung Taliban di Indonesia, Ini Alasannya

Polri Diminta Tumpas Gerakan Pendukung Taliban di Indonesia, Ini Alasannya

Riau | Senin, 23 Agustus 2021 | 21:59 WIB

Taliban Kuasai Afghanistan, WHO Kesulitan Kirim Bantuan Medis

Taliban Kuasai Afghanistan, WHO Kesulitan Kirim Bantuan Medis

Health | Senin, 23 Agustus 2021 | 21:32 WIB

Terkini

Tarik-tarikan HP dengan Tentara di Kejagung, Wartawan Tempo Alami Intimidasi dan Trauma

Tarik-tarikan HP dengan Tentara di Kejagung, Wartawan Tempo Alami Intimidasi dan Trauma

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:35 WIB

Mendagri Tegaskan Komitmen Integrasikan Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia

Mendagri Tegaskan Komitmen Integrasikan Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:30 WIB

Sempat Dijaga Ketat Brimob, Situasi Mabes Polri Kamis Malam Kini Terpantau Normal

Sempat Dijaga Ketat Brimob, Situasi Mabes Polri Kamis Malam Kini Terpantau Normal

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Gugurnya Tiga Polisi di Katingan

Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Gugurnya Tiga Polisi di Katingan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Prabowo Ungkap Temuan Harta Karun Baru dari BRIN dan TNI: Cadangan Emas Raksasa di Papua

Prabowo Ungkap Temuan Harta Karun Baru dari BRIN dan TNI: Cadangan Emas Raksasa di Papua

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Percepatan Program Sekolah Rakyat, Wamensos: Tahapan Tetap Sesuai Aturan

Percepatan Program Sekolah Rakyat, Wamensos: Tahapan Tetap Sesuai Aturan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:18 WIB

Kejagung Respons Penggeledahan Cafe De'Klan dan Rumah di Sentul, Tunggu Hasil Penyidikan Polri

Kejagung Respons Penggeledahan Cafe De'Klan dan Rumah di Sentul, Tunggu Hasil Penyidikan Polri

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:56 WIB

Misteri Brankas Rp476 Miliar di Rumah Sentul City, Benarkah Milik Jampidsus Febrie Adriansyah?

Misteri Brankas Rp476 Miliar di Rumah Sentul City, Benarkah Milik Jampidsus Febrie Adriansyah?

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:52 WIB

Aktivis Anti-Korupsi Kritik Penjagaan Rumah Jampidsus Oleh TNI: Tugas Militer Jaga Kedaulatan

Aktivis Anti-Korupsi Kritik Penjagaan Rumah Jampidsus Oleh TNI: Tugas Militer Jaga Kedaulatan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:40 WIB

Eks Sekjen MPR Diduga Gunakan Duit Gratifikasi Rp30 M untuk Renovasi Rumah hingga Nikahan Anak

Eks Sekjen MPR Diduga Gunakan Duit Gratifikasi Rp30 M untuk Renovasi Rumah hingga Nikahan Anak

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 18:20 WIB

×