Dapat Tawaran via Facebook, Barista Kopi Jadi Korban Perbudakan di Oman

Reza Gunadha, BBC

Rabu, 25 Agustus 2021 | 18:48 WIB
Dapat Tawaran via Facebook, Barista Kopi Jadi Korban Perbudakan di Oman
Ilustrasi buat kopi ala barista d rumah. [Freepik]

Suara.com - Barista muda asal Afrika Selatan mengira bakal menemukan pekerjaan idaman seumur hidup di Oman, tapi dia malah jadi budak.

Dia ditipu dan dipaksa bekerja tanpa upah - hal ini memaksa keluarga dan teman-temannya mengumpulkan uang untuk membebaskannya.

Tawaran pekerjaan itu datang lewat Facebook, Athenkosi Dyonta, 30 tahun, masih bekerja di sebuah kafe di kota George. Resor liburan yang terkenal di provinsi Western Cape, Afrika Selatan.

"Tak ada yang salah dengan pekerjaan saya, tapi saya mencari kesempatan yang lebih baik, dan gaji yang lebih baik pula," katanya.

Athenkosi biasa membagikan gambar seni latte - pola dan disain dari susu di atas permukaan kopi seduh - dengan barista lainnya dari seluruh dunia di dalam sebuah grup online.

Di situlah seorang perempuan menawarkan sebuah lowongan padanya untuk bekerja di Oman.

Tawaran itu cukup menggoda:, selain gaji yang layak, dia juga akan memperoleh akomodasi, transportasi dan makanan gratis.

Perempuan itu mengatakan, visa Athenkosi akan diurus - yang harus dilakukan Athenkosi hanya membayar tiket pesawat, pemeriksaan kesehatan dan tes Covid.

"Saya kira ketika dia kembali setahun lagi atau lebih, kami akan bisa beli rumah sendiri," kenang Pheliswa Feni, 28 tahun, pasangan Athenkosi yang saat ini memiliki dua anak.

baca juga

"Kami tinggal di gubuk, jadi saya pikir mungkin sebuah rumah... lalu mungkin sebuah mobil, mungkin bisa membawa anak-anak kami ke sekolah yang lebih baik."

Dengan impian itu, pasangan ini meminjam uang untuk biaya perjalanan ke Oman pada Februari lalu.

Kesan pertamanya tentang negara Oman, positif. "Sangat Indah," katanya kepada Comb Podcast.

Dia melangsungkan perjalanan dari Ibu Kota Muscat ke kota kecil yang disebut Ibra, di mana ia menjalankan karantina di sebuah hotel selama tujuh hari.

"Saya berpikir: 'Semua mimpi-mimpi saya akan menjadi kenyataan."

Pada saat kedatangan, dia telah dipasangi gelang pelacak selama masa karantina.

Saat masa karantina berakhir, dan gelang pelacak dilepas dokter, ia pindah ke tempat barunya. Namun dari pandangan pertamanya sudah menimbulkan gelagat yang tidak beres.

"Tempat yang kotor - sebuah kamar kecil, yang hanya dilengkapi matras dan kotak penyimpanan," kata Athenkosi, yang berbagi ruangan dengan seorang pria dari Nepal.

Terancam dan tanpa bayaran

Ini adalah tanda bahwa masa paling menyedihkan bagi Athenkosi baru saja dimulai. Lalu dengan cepat ia ketahui bahwa kafe tempat kerja idaman yang dibayangkan sebelumnya ternyata tak pernah ada.

Alih-alih bekerja sebagai seniman kopi, Athenkosi justru bekerja selama 12 hingga 14 jam sebagai tukang bersih-bersih kafe.

Saat sedang tidak bekerja, dia dikunci di dalam ruangan - makanannya mengerikan, dan dia pun tidak mendapat bayaran.

"Saya menjadi kurus di sana. Saya dapat roti dan susu - kadang-kadang telur gulung - mungkin sekali atau dua kali sehari.

"Saya tak dapat upah, saya hanya disuruh bekerja."

Saat Athenkosi bertanya kepada majikannya mengenai bayaran, dia akan mendapat ancaman - suatu waktu, dia dibawa ke dalam hutan di mana sekelompok pria menghardiknya untuk berhenti membuat masalah.

Pheliswa tetap berhubungan dengan Athenkosi melalui sambungan telepon: "Saya sangat takut, karena saya pikir mungkin mereka akan membunuhnya."

Athenkosi juga mengatakan, bosnya mengancam akan membawanya ke polisi.

Mereka mengatakan "polisi akan menangkap saya, karena saya telah menandatangani sebuah kontrak," katanya.

Apa yang tidak disadari adalah Athenkosi telah menyepakati sistem kerja yang biasa digunakan di Timur Tengah yang disebut "kafala" - sistem yang memungkinkan warga dan perusahaan secara tertutup mengendalikan penuh status buruh migran.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan, sistem ini membuat para pekerja memiliki risiko tinggi terhadap kekerasan dan eksploitasi karena mereka tak diizinkan untuk pindah kerja, atau meninggalkan negara tanpa persetujuan majikannya.

Suatu hari dalam sebulan tinggal di sana, Athenkosi melihat pintu kamarnya dibiarkan terbuka, dan mencoba untuk melarikan diri, lalu menuju ke taman di mana dia meminta kepada orang asing di sana untuk membawanya ke kantor polisi.

Tapi ketika tiba di sana, tak ada satu pun petugas kepolisian yang bisa berbahasa Inggris - dan dia diberitahu harus menunggu tiga jam sampai seorang penerjemah tiba.

Namun, ia memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya. Ia takut akan membawa masalah karena telah pergi diam-diam.

Kembali ke tempat kerja, dengan jam kerja yang panjang, dan hanya ada satu hari libur yaitu hari Jumat. Athenkosi mulai putus asa: "Perasaan saya kalut, saya memutuskan lebih baik mati dari pada hidup seperti ini."

Dia berusaha mengakhiri hidupnya, dan akhirnya pulih di rumah sakit. Di saat itu ia menceritakan kisahnya pada seorang dokter, yang menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari pekerjaan itu adalah dengan membayar majikannya.

'Bawa pulang Athenkosi'

Dari situ, ia mencoba untuk membicarakan hal ini ke majikannya - mereka sepakat untuk melepaskan Athenkosi asalkan ia harus membayar apa yang yang disebut biaya "pelanggaran kontrak".

Pheliswa, yang masih punya utang untuk tiket pesawat, mulai bergerak untuk mengumpulkan uang: "Saya bercerita kepada semua orang tentang masalah ini. Saya mengirim cerita ini ke semua nomor WhatsApp yang saya miliki."

Saat cerita tentang situasi Athenkosi tersebar di komunitas George, lalu ditindaklanjuti dengan pembuatan halaman Facebook "Bawa Pulang Athenkosi", kaos-kaos mulai dicetak.

Kelompok lokal bernama Forum Komunitas George, turun tangan untuk membantu penggalangan dana. Sumbangan mengalir, dan keluarga Athenkosi juga menjual salah satu dari 10 sapi mereka dengan harga sekitar Rp11,8 juta (£600).

Tapi, sang majikan menaikkan angka biaya "pelanggaran kontrak", dengan mengatakan jumlah itu tidak cukup untuk menutupi makan dan penginapan.

Akhirnya, sekitar Rp23,7 juta (£1200) telah dibayarkan untuk pembebasan Athenkosi.

Saat Athenkosi melangkah di pintu kedatangan tempat komunitas George pada April lalu, dia disambuh oleh puluhan orang yang telah membantu untuk membebaskannya.

"Saya sangat gembira... bisa melihat keluarga, teman-teman," katanya.

Sekarang sudah hampir empat bulan sejak Athenkosi tiba ke kampung halamannya, dan dia kembali ke pekerjaan lamanya, sebagai barista.

Tapi dia juga masih berjuang untuk berdamai dengan pengalamannya.

"Saya trauma secara emosional. Saya tak akan pernah melupakannya."

Dengarkan wawancara lengkapnya dengan Athenkosi melalui The Comb podcast.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Robot Barista Akan Gantikan Manusia Siapkan Kopi di Stasiun MRT Singapura

Robot Barista Akan Gantikan Manusia Siapkan Kopi di Stasiun MRT Singapura

Batam | Kamis, 19 Agustus 2021 | 15:44 WIB

5 Cara Buat Kopi Ala Barista yang Bisa Diikuti di Rumah

5 Cara Buat Kopi Ala Barista yang Bisa Diikuti di Rumah

Kaltim | Kamis, 29 Juli 2021 | 06:45 WIB

Perlakukan Lansia Layaknya Budak, Pasangan Ini Dihukum 8 Tahun Penjara

Perlakukan Lansia Layaknya Budak, Pasangan Ini Dihukum 8 Tahun Penjara

News | Rabu, 28 Juli 2021 | 10:57 WIB

Afsel Cabut Pembatasan Usai Gelombang Ketiga Covid-19 Menurun

Afsel Cabut Pembatasan Usai Gelombang Ketiga Covid-19 Menurun

News | Senin, 26 Juli 2021 | 11:39 WIB

Olimpiade Tokyo: Timnas Prancis Menang Dramatis 4-3 atas Afrika Selatan

Olimpiade Tokyo: Timnas Prancis Menang Dramatis 4-3 atas Afrika Selatan

Bola | Minggu, 25 Juli 2021 | 18:49 WIB

Viral Video Pria Emosi Minta Saf Dirapatkan, Profesor UIN: Tidak Berkaitan Kesahihan Salat

Viral Video Pria Emosi Minta Saf Dirapatkan, Profesor UIN: Tidak Berkaitan Kesahihan Salat

News | Jum'at, 23 Juli 2021 | 17:38 WIB

Olimpiade Tokyo: Lionel Messi dari Jepang Girang Bisa Kalahkan Afrika Selatan

Olimpiade Tokyo: Lionel Messi dari Jepang Girang Bisa Kalahkan Afrika Selatan

Bola | Jum'at, 23 Juli 2021 | 09:10 WIB

Babak Belur Akibat PPKM Darurat, Barista di Medan Turun ke Jalan

Babak Belur Akibat PPKM Darurat, Barista di Medan Turun ke Jalan

Sumut | Sabtu, 17 Juli 2021 | 14:56 WIB

Terkini

Nasabah Mendapatkan Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Nasabah Mendapatkan Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Sulsel | Rabu, 30 September 2026 | 16:46 WIB

Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha

Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha

Lampung | Rabu, 30 September 2026 | 16:46 WIB

Spesifikasi Lengkap dan Harga Infinix XBOOK 14 Neo, Laptop untuk Produktivitas Mahasiswa

Spesifikasi Lengkap dan Harga Infinix XBOOK 14 Neo, Laptop untuk Produktivitas Mahasiswa

Tekno | Rabu, 30 September 2026 | 16:45 WIB

BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas Berikan Nasabah Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles

BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas Berikan Nasabah Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles

Malang | Rabu, 30 September 2026 | 16:43 WIB

Travel Reward untuk Frequent Traveler, Ada Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI

Travel Reward untuk Frequent Traveler, Ada Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI

Jatim | Rabu, 30 September 2026 | 16:35 WIB

Target 48 Juta Keluarga Terdaftar Perlinsos Digital, Pemerintah Butuh 2,4 Juta Agen

Target 48 Juta Keluarga Terdaftar Perlinsos Digital, Pemerintah Butuh 2,4 Juta Agen

News | Rabu, 30 September 2026 | 16:35 WIB

Bunga Es Bisa Bikin Kulkas Tidak Dingin? Ini Dampak dan Cara Membersihkannya

Bunga Es Bisa Bikin Kulkas Tidak Dingin? Ini Dampak dan Cara Membersihkannya

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 16:35 WIB

Cara Membersihkan Botol Susu Bayi yang Benar, Jangan Cuma Dibilas

Cara Membersihkan Botol Susu Bayi yang Benar, Jangan Cuma Dibilas

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 16:35 WIB

Modus Baru! Pura-pura Jogging Pagi, Residivis di Bandar Lampung Gasak Motor yang Lagi Dipanaskan

Modus Baru! Pura-pura Jogging Pagi, Residivis di Bandar Lampung Gasak Motor yang Lagi Dipanaskan

Lampung | Rabu, 30 September 2026 | 16:34 WIB

Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Jogja | Rabu, 30 September 2026 | 16:33 WIB

×