Melihat Hidup Warga Myanmar yang Melarikan Diri ke Desa Perbatasan India

Siswanto, Deutsche Welle

Jum'at, 01 Oktober 2021 | 14:14 WIB
Melihat Hidup Warga Myanmar yang Melarikan Diri ke Desa Perbatasan India
DW

Suara.com - Pertempuran antara junta militer Myanmar dan pasukan oposisi dalam beberapa pekan terakhir membuat jumlah pengungsi yang melarikan diri meningkat. DW berkesempatan bertemu dengan beberapa dari mereka yang lari ke India.

Pada pertengahan September lalu, ratusan orang yang menentang kekuasaan militer di Myanmar mengungsi ke negara bagian Mizoram, India.

Pertempuran sengit antara junta militer dan pasukan oposisi memaksa mereka untuk minggat ke negara tetangga. India dan Myanmar diketahui berbagi perbatasan sepanjang 1.600 kilometer.

Dan negara bagian Mizoram mencakup hampir sepertiga perbatasan tersebut.

DW berkesempatan bertemu langsung dengan para pengungsi di salah satu desa di distrik Hnahthial yang terletak di negara bagian Mizoram.

Mereka yang melarikan diri dari kekerasan militer ditampung di sana. Kemana warga melarikan diri?

Warga Myanmar melarikan diri ke desa-desa terdekat di India. Salah satunya adalah Desa Thingsai di negara bagian Mizoram, tidak jauh dari perbatasan.

Untuk sampai ke wilayah perbatasan India, warga Myanmar harus menyeberangi Sungai Tiau – yang menjadi bagian dari perbatasan internasional kedua negara.

Pawan Singh, seorang anggota paramiliter Assam Rifles yang bertugas menjaga sisi perbatasan India yang ditemui DW mengatakan, ada sekitar 20-25 orang yang melintasi perbatasan setiap harinya sejak kekerasan di Myanmar pecah pada pertengahan September lalu.

baca juga

Menurut Singh, dalam beberapa hari terakhir ada sekitar 1.000 orang yang telah melarikan diri ke Desa Thingsai.

Bagaimana mereka hidup di pengungsian?

Agar bisa sampai ke kamp pengungsian di Thingsai, para perempuan dari Myanmar biasanya memakai sepeda motor untuk menyeberang sungai.

Para perempuan pergi bersama anak-anak, sementara para pria tinggal di belakang untuk berjaga-jaga melawan junta militer.

Mereka yang berhasil mencapai desa-desa di India, diberikan bahan makanan pokok seperti kentang, nasi, dan sup lentil.

Bantuan ini diberikan oleh sukarelawan dari Asosiasi Pemuda Mizo (YMA), sebuah organisasi lokal yang sebagian besar tugasnya adalah untuk membantu pengungsi dari Myanmar.

Para penjaga di perbatasan mengatakan bahwa pengungsi yang datang dari Myanmar mendapat banyak dukungan dari warga setempat.

Menurut mereka, kehidupan para pengungsi di sisi perbatasan India lebih baik dibandingkan di Myanmar, karena di sana mereka tidak mendapatkan makanan.

Hidup di kamp darurat tak selalu mudah

Seorang perempuan yang ditemui DW mengaku bahwa suaminya adalah salah satu pemimpin milisi pertahanan lokal di Myanmar.

Saat ditemui, ia tengah mengunjungi keluarganya di salah satu kamp pengungsi di desa India.

Ia berencana kembali melintasi perbatasan untuk membawa makanan untuk suaminya. Ketika saatnya tiba, ia memuat semua barang-barangnya ke sebuah truk dan kemudian membawanya ke perbatasan.

Dari sana, tasnya dibawa oleh orang-orang dari perbatasan di sisi India menuju Myanmar.

Saat itu, ia sedang hamil empat bulan. Setidaknya ada tiga perempuan hamil lainnya yang DW temui di kamp-kamp desa.

Tial Hnin, seorang pengungsi yang juga merupakan profesor hukum di Universitas Hakha, mengatakan kepada DW bahwa hidupnya lebih baik saat berada di kamp pengungsian.

Ia melarikan diri bersama anak perempuan dan istrinya. Sayangnya, anak laki-lakinya masih berada di Myanmar.

Seperti kebanyakan profesional lainnya, Tial Hnin telah bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil untuk menentang pengambilalihan militer.

Ia mengaku bahwa hampir tidak mungkin orang-orang seperti dirinya dapat bertahan hidup di Myanmar.

Kebanyakan orang yang ia kenal juga menentang aturan militer. "Orang-orang sangat takut,” ujarnya.

Sebuah hidup baru

Beberapa pengungsi yang sudah lebih dulu tiba di kamp-kamp pengungsian sejak militer mengambil alih negara kini telah memulai hidup baru dengan anggota keluarganya.

Salah satu pengungsi mengaku rela menutup toko jahitnya di Myanmar dan memutuskan hidup bersama kakak dan ibunya di India.

Berbeda dengan orang dewasa yang tetap khawatir dengan situasi yang mereka hadapi, kaum muda justru tampak masih memiliki harapan bahwa kebebasan akan kembali ke negara mereka.

Di kamp, mereka sering terlihat bermain satu sama lain atau sekadar menonton video di YouTube bersama.

Salah satu anak bernama Ian Len Sui yang diwawancara DW mengatakan bahwa yang ia inginkan ketika dewasa hanyalah kebebasan untuk tinggal di negaranya.

Kini sekitar 300 anak pengungsi telah mulai bersekolah di sekolah umum di Mizoram.

Rasa keterikatan yang kuat di antara warga lokal

Jauh sebelum kudeta militer terjadi di Myanmar, penyeberangan oleh warga melintasi perbatasan adalah hal biasa. Dua kelompok etnis di kedua sisi perbatasan – Mizos di India dan Chins di Myanmar- dianggap termasuk dalam kelompok etnis yang sama.

"Ada rasa saling pengertian,” kata seorang petugas YMA. PC Lalremkunga, ketua dewan desa, mengatakan bahwa sebagian besar warga lokal Mizo akan tetap mendukung "saudara” mereka bahkan jika pemerintah India menentang kedatangan mereka.

Seorang warga desa mengatakan bahwa mereka akan membangun rumah untuk para pengungsi baru, meski hal itu bukan merupakan tugas yang mudah.

Meski begitu, bagaimana nasib para pengungsi yang tinggal di desa-desa perbatasan India ini ke depan hingga kini masih belum jelas. (gtp/ha)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

MPSI Dorong Pembentukan Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

MPSI Dorong Pembentukan Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 11:05 WIB

Sebulan Lebih Pascagempa, 23.578 Warga NTT Masih Mengungsi

Sebulan Lebih Pascagempa, 23.578 Warga NTT Masih Mengungsi

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 07:00 WIB

Pakai Cara Mirip di Indonesia, Malaysia Diguncang Ujaran Kebencian kepada Etnis Rohingya

Pakai Cara Mirip di Indonesia, Malaysia Diguncang Ujaran Kebencian kepada Etnis Rohingya

News | Selasa, 08 September 2026 | 14:14 WIB

Anak Pengungsi Gempa NTT Jadi Korban Kekerasan Seksual di Tenda Pengungsian

Anak Pengungsi Gempa NTT Jadi Korban Kekerasan Seksual di Tenda Pengungsian

News | Rabu, 02 September 2026 | 14:10 WIB

Kebakaran Hebat Landa Kampung Nelayan di Jayapura, Ratusan Rumah Hangus

Kebakaran Hebat Landa Kampung Nelayan di Jayapura, Ratusan Rumah Hangus

Foto | Selasa, 01 September 2026 | 19:54 WIB

Napi Narkoba Asal Bekasi Ditangkap di Myanmar Usai Kabur ke 3 Negara

Napi Narkoba Asal Bekasi Ditangkap di Myanmar Usai Kabur ke 3 Negara

News | Selasa, 01 September 2026 | 17:57 WIB

Makan Aman! Balita dan Lansia Korban Kebakaran Gambir Butuh Obat serta Selimut

Makan Aman! Balita dan Lansia Korban Kebakaran Gambir Butuh Obat serta Selimut

News | Selasa, 01 September 2026 | 15:07 WIB

Pengungsi Gempa NTT Menyusut 4.142 Orang, Ribuan Rumah Masih Rusak Berat

Pengungsi Gempa NTT Menyusut 4.142 Orang, Ribuan Rumah Masih Rusak Berat

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:58 WIB

Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

Anak-anak Pemikul Air di Gaza, Tinggalkan Sekolah Hingga Alami Kerusakan Tulang Belakang

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:21 WIB

Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis

Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:06 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×