Pengakuan Perawat dan Guru Memilih Hilang Pekerjaan Ketimbang Divaksinasi

Siswanto, BBC

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:13 WIB
Pengakuan Perawat dan Guru Memilih Hilang Pekerjaan Ketimbang Divaksinasi
BBC

Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mendesak pengusaha AS mengeluarkan ultimatum kepada staf mereka: divaksinasi atau kehilangan pekerjaan.

Biden mengatakan ia akan segera mengeluarkan mandat yang mengharuskan semua petugas kesehatan divaksinasi, dan telah mendesak negara bagian untuk melakukan hal yang sama terhadap para guru.

Di Concord, New Hampshire, beberapa dari mereka yang turut dalam demonstrasi besar menentang kewajiban vaksinasi mengenakan seragam rumah sakit.

Baca juga:

'Pencipta saya memberi saya sistem kekebalan yang melindungi saya'

Leah Cushaman rela kehilangan pekerjaannya sebagai perawat ketimbang harus divaksinasi.

"Keyakinan saya berdasar pada [keyakinan] agama. Saya meyakini pencipta saya memberi saya sistem kekebalan yang melindungi saya, dan jika saya sakit, itu adalah tindakan Tuhan.

"Saya tidak akan minum obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh," kata Cushman.

Ia menyangkal ada konflik antara keyakinan ini dan tanggung jawab pekerjaannya.

Cushman berpendapat bahwa vaksin Covid tetap "eksperimental", meskipun vaksin Pfizer mendapat persetujuan penuh dari Food and Drug Administration (FDA) di AS - yang berarti FDA menganggap bahwa vaksin itu aman dan efektif.

Namun Cushman menegaskan bahwa ia tak menghendaki vaksin apapun.

Manajer yang memutuskan untuk memberlakukan mandat vaksinasi di rumah sakit mengatakan kebijakan tersebut bertujuan untuk membuat pasien merasa aman.

Tetapi Scott Colby, CEO Rumah Sakit Upper Connecticut Valley, mengakui bahwa ia telah kehilangan beberapa staf medis karena masalah mandat vaksin, di tengah periode lonjakan kasus akibat varian delta dan tumpukan prosedur kesehatan non-Covid.

Betapapun, manajer rumah sakit itu mengatakan kewajiban vaksinasi bagi staf rumah sakit masih merupakan keputusan yang tepat.

Sebagian karena penyakit serius terkait virus corona di antara staf - lebih mungkin terjadi bagi mereka yang tidak divaksinasi - adalah pengurasan sumber daya yang dapat dihindari.

Baca juga:

Tapi Colby juga mengatakan ia menemukan beberapa staf yang menentang kewajiban vaksinasi tampaknya tidak memiliki dasar medis atau agama yang murni.

"Bukan hanya Covid. Ada vaksin lain yang harus diberikan pada karyawan, seperti vaksin MMR atau hepatitis. Jadi, mengatakan ini tidak politis akan menjadi tidak jujur," kata Colby.

Kembali pada unjuk rasa menentang kewajiban vaksinasi, Leah Cushman, yang selain menjadi perawat juga menjadi perwakilan Partai Republik di New Hampshire, menegaskan bahwa pendiriannya juga tentang kebebasan.

"Pemerintahan Biden menyasar hak kedaulatan kami. Kami profesional medis, tetapi kami masih membutuhkan kemampuan untuk memilih apa yang terjadi pada tubuh kami," katanya.

Beberapa perawat dalam demonstrasi merasa bahwa rumah sakit bermain politik, dan mengatakan jika kewajiban vaksinasi benar-benar demi kepercayaan pasien, tanggung jawab akan berada pada pengetesan mingguan daripada mewajibkan vaksinasi, mengingat bahwa mereka yang telah divaksin tetap dapat terpapar virus.

'Bertentangan dengan cara saya menjalani hidup'

Namun, bahkan pilihan pengetesan Covid secara reguler tidak dapat diterima oleh banyak orang Amerika yang menolak untuk divaksinasi.

Kahseim Outlaw baru saja kehilangan pekerjaannya di Wallingford, Connecticut, karena alasan itu.

Ia dinobatkan sebagai 'Guru Tahun Ini' di sekolah menengahnya tahun lalu, tetapi merasa kewajiban vaksinasi yang diperkenalkan oleh otoritas negara bagian adalah sesuatu yang tidak dapat ia patuhi.

"Saya tidak menggunakan bahan sintetis apa pun dalam hidup saya, apakah itu untuk tujuan pengobatan, suplemen atau makanan. Jadi ide untuk disuntik adalah sesuatu yang bertentangan dengan cara saya menjalani hidup saya," katanya.

Seperti semua guru di negara bagian, Outlaw ditawari alternatif tes mingguan tetapi mengatakan dia memandang itu sebagai "prosedur medis yang tidak perlu" yang tidak nyaman.

"Cara jiwa kita berbicara kepada kita, suara kecil yang memberi tahu kita ketika ada sesuatu yang sejalan atau tidak, suara itu memberi tahu saya bahwa saya perlu membuat keputusan khusus ini sekarang."

Satu hal yang ia katakan siap lakukan adalah tes antibodi untuk menunjukkan bahwa ia telah tertular Covid di masa lalu, seperti yang ia yakini, dan begitu juga kekebalan alami tubuh terhadap virus.

Ia mengaku bahwa tidak ada yang tahu berapa lama respon imun alami akan bertahan.

Tapi ini bukan pilihan yang ditawarkan kepadanya oleh atasannya.

Di kelas, Kahseim Outlaw tentu akan berkontak erat dengan siswanya, namun bagaimana dengan karyawan yang bekerja sepenuhnya dalam isolasi di rumah? Apakah atasan mereka memiliki hak untuk meminta mereka divaksinasi?

Kewajiban vaksin sebagai 'serangan pribadi'

Rob Segrin tinggal di dekat Gunung Monadnock di daerah terpencil di pedesaan New Hampshire.

Ia diberitahu bahwa ia akan kehilangan pekerjaanya di bidang teknologi informasi jika ia belum mendapatkan suntikan Covid pertamanya pada akhir bulan ini.

"Pekerjaan saya adalah 100% jarak jauh, jenis pekerjaan dari rumah untuk kontraktor federal. Saya tidak pernah pergi ke kantor, saya tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang."

"Saya keberatan dengan vaksin karena menurut saya belum cukup waktu untuk mempelajarinya, tetapi saya melindungi keluarga saya dengan cara yang saya bisa," kata Segrin.

"Rasanya perintah 'lakukan ini atau Anda akan kehilangan pekerjaan' adalah serangan pribadi terhadap saya dan keluarga saya. Seperti mereka mengejar mata pencaharian saya," lanjutnya.

Segrin mengatakan bahwa diskusinya dengan atasan sejauh ini tidak membuahkan hasil dan seperti yang terjadi, ia akan kehilangan pekerjaannya, dan akibatnya asuransi kesehatan dan tunjangan kesehatan keluarganya juga.

Di seluruh AS, ada inkonsistensi besar dalam kebijakan publik yang berkaitan dengan vaksin, seperti halnya inkonsistensi di setiap kesempatan selama pandemi ini, dan negara bagian yang didominasi Partai Republik terus melawan mandat vaksin.

Tetapi ketika AS bergulat dengan argumen tentang kebebasan pribadi dan kesehatan masyarakat, angka-angka menunjukkan virus itu masih merenggut hampir 1.500 nyawa orang Amerika dalam sehari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

WHO Perbarui Strategi Vaksin Covid-19 Global, Singgung 27 Negara yang Belum Mulai Program Booster

WHO Perbarui Strategi Vaksin Covid-19 Global, Singgung 27 Negara yang Belum Mulai Program Booster

Health | Sabtu, 23 Juli 2022 | 17:30 WIB

Divaksin atau Tidak, Covid-19 Dapat Menginfeksi Ulang Semua Orang

Divaksin atau Tidak, Covid-19 Dapat Menginfeksi Ulang Semua Orang

Health | Selasa, 19 Juli 2022 | 08:30 WIB

Infeksi Covid-19 BA.4 dan BA.5 Pada Orang yang Belum Divaksinasi Berisiko Lahirkan Varian Baru Virus Corona

Infeksi Covid-19 BA.4 dan BA.5 Pada Orang yang Belum Divaksinasi Berisiko Lahirkan Varian Baru Virus Corona

Health | Selasa, 21 Juni 2022 | 08:24 WIB

Kini, Masuk AS Tak Perlu Lagi Tes COVID-19

Kini, Masuk AS Tak Perlu Lagi Tes COVID-19

Video | Kamis, 16 Juni 2022 | 10:30 WIB

Terkini

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:20 WIB

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:17 WIB

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:14 WIB

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:02 WIB

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:55 WIB

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:44 WIB

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Kasatgas Tito: Pemulihan Pasca Bencana di Provinsi Aceh Terus Menunjukkan Kemajuan

Kasatgas Tito: Pemulihan Pasca Bencana di Provinsi Aceh Terus Menunjukkan Kemajuan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:32 WIB

1.200 Aparat Amankan GBK, Kawal Ketat Duel Timnas Indonesia vs Mozambik

1.200 Aparat Amankan GBK, Kawal Ketat Duel Timnas Indonesia vs Mozambik

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:19 WIB