Anak-anak ISIS: Ini Bencana yang Tak Bisa Kita Tangani

Siswanto | BBC | Suara.com

Kamis, 14 Oktober 2021 | 11:24 WIB
Anak-anak ISIS: Ini Bencana yang Tak Bisa Kita Tangani
BBC

Suara.com - Kacau, penuh keputusasaan, dan berbahaya — seperti itulah Kamp al-Hol.

Ini adalah rumah bagi istri-istri dan anak-anak para pejuang asing kelompok ISIS — sebuah kota tenda, di mana mereka hidup saling berdesakan, dikelilingi oleh para penjaga bersenjata, menara pengawas, dan pagar kawat berduri.

Kamp di gurun yang luas ini berjarak empat jam perjalanan dari al-Malikyah, dekat perbatasan Suriah-Turki, di timur laut Suriah.

Di dalamnya, para perempuan berpakaian hitam dan mengenakan niqab. Beberapa lebih suka menyendiri, sementara yang lain nampak tidak bersahabat.

Di sudut, dekat sebuah pasar kecil yang terlindung dari terik matahari, ada sekelompok perempuan yang bersedia berbincang dengan BBC. Mereka berasal dari Eropa Timur.

Baca juga:

Saya bertanya kepada mereka bagaimana mereka bisa sampai di sini, tapi mereka tidak bercerita banyak, seraya menyalahkan suami mereka yang memutuskan menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk bergabung dengan ISIS — kemudian hidup di bawah rezim yang menyiksa, membunuh, dan memperbudak ribuan orang itu.

Satu-satunya kejahatan mereka, menurut mereka, adalah jatuh cinta pada pria yang salah.

Ini adalah kisah yang lazim diceritakan oleh istri-istri para militan ISIS. Bagaimanapun, mereka berusaha melepaskan diri dari rezim yang gamblang akan kebrutalan dan tujuannya.

Suami mereka entah sudah meninggal, dipenjara, atau hilang, dan mereka sekarang terjebak di sini bersama anak-anak mereka.

Sekitar 60.000 orang ditahan di sini, 2.500 orang di antaranya adalah keluarga pejuang asing ISIS. Banyak yang tinggal di sini sejak kekalahan kelompok itu di Baghuz, pada 2019.

Para perempuan ini berbicara dengan hati-hati, khawatir akan menarik perhatian yang bisa berakibat fatal - bahkan mematikan.

Bukan penjaga yang mereka khawatirkan, melainkan para perempuan lain - kelompok garis keras yang masih memberlakukan aturan ISIS di dalam kamp itu. Pada dini hari ketika kami berada di sana, seorang perempuan ditemukan terbunuh.

Pembunuhan setiap hari

Kekerasan dan radikalisasi di dalam kamp adalah masalah utama bagi pengelola kamp ini, Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin oleh pasukan Kurdi.

Dr Abdulkarim Omar, menteri luar negeri de facto dari pemerintahan pimpinan Kurdi di timur laut Suriah, mengakui bahwa di al-Hol, ISIS masih berkuasa. Dia mengatakan para perempuan dengan aliran garis keras bertanggung jawab atas banyaknya tindak kekerasan.

"Ada pembunuhan setiap hari, mereka membakar tenda orang-orang yang tidak mengikuti ideologi ISIS," katanya, "dan mereka meneruskan pandangan radikal itu kepada anak-anak mereka."

Tempat itu juga dipenuhi dengan anak-anak — mereka dibawa ke Suriah oleh orang tua mereka dari Asia, Afrika, dan Eropa untuk hidup di bawah ISIS.

Tidak banyak yang bisa dilakukan anak-anak di sini. Beberapa anak kecil mengarahkan batu ke arah kami saat kami melewati kamp. Mereka memecahkan jendela sebuah mobil dan para penjaga di dalamnya nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. Ini normal.

Sementara itu, anak-anak lain benar-benar pasif, menatap hampa saat mereka duduk di luar tenda mereka. Sebagian besar telah mengalami langsung kengerian yang tak terbayangkan, terus berpindah-pindah ketika ISIS mati-matian mempertahankan wilayahnya di Irak dan Suriah.

Banyak anak yang hanya tahu soal perang dan tidak pernah bersekolah.

Beberapa nampak memiliki luka. Saya melihat anak laki-laki dengan kaki yang diamputasi berjalan melintasi jalanan berdebu yang tidak rata. Semua telah mengalami trauma dan kehilangan, sebagian besar anak-anak kehilangan setidaknya satu orang tua.

Untuk mengatasi meningkatnya tindak kekerasan di kamp, ada penyisiran keamanan secara berkala.

Anak laki-laki yang lebih tua dianggap sebagai ancaman potensial. Begitu mereka mencapai usia remaja, mereka dipindahkan ke pusat tahanan yang aman, jauh dari keluarga mereka.

"Ketika mereka mencapai usia tertentu, mereka membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain, jadi kami tidak punya pilihan selain membangun pusat rehabilitasi untuk anak-anak ini," kata Dr Omar.

Dia mengatakan mereka tetap berhubungan dengan ibu mereka melalui Palang Merah Internasional (ICRC).

'Setiap hari putra saya bertambah dewasa'

Di sebelah utara al-Hol, terletak Roj, sebuah kamp yang lebih kecil yang juga menampung istri dan anak-anak ISIS. Kekerasan di sini lebih jarang terjadi. Di sanalah banyak perempuan asal Inggris, termasuk Shamima Begum, Nicole Jack dan putrinya, tinggal.

Kamp itu dipisahkan oleh pagar kawat. Saya bertemu sekelompok perempuan dari Trinidad dan Tobago, Amerika Selatan, salah satu negara dengan tingkat perekrutan tertinggi untuk ISIS di belahan bumi barat.

Salah satu di antara mereka memiliki seorang putra berusia 10 tahun. Dia membawa anak-anaknya untuk hidup di bawah ISIS dan setelah suaminya terbunuh, mereka tetap berada di bawah rezim sampai akhir. Dia mendengar bahwa anak laki-laki remaja akan dipisahkan dan dia takut itu terjadi pada anaknya.

Semakin dewasa putranya, semakin ibunya khawatir. "Saya duduk di sini dan setiap hari dia bertambah dewasa, setiap hari berlalu. Mungkin suatu hari mereka akan datang dan membawanya," katanya.

Di dekatnya, sang putra sedang bermain sepak bola dengan adik laki-laki dan perempuannya. Ayahnya tewas dalam serangan udara. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia akan merindukan ibunya jika dia dibawa pergi.

Baca juga:

Fasilitas sanitasi di sini sangat terbatas. Ada toilet dan bilik mandi yang terletak di luar, dan tangki air minum yang digunakan bersama — sesuatu yang dikeluhkan semua anak.

Ada pasar kecil di kamp yang menjual mainan, makanan, dan pakaian.

Setiap bulan, keluarga menerima paket makanan, sementara pakaian disediakan untuk anak-anak mereka. Beberapa keluarga tinggal bercampur.

Di bawah ISIS, beberapa perempuan berbagi satu suami. Para perempuan ini berhubungan baik karena mereka mengurus anak dan rumah tangga bersama-sama.

Kehancuran, bom, perang

Banyak anak bersekolah di sekolah darurat yang dikelola oleh Save the Children.

"Kami mendengar banyak cerita dan sayangnya tidak satu pun dari cerita ini yang positif. Tapi harapan kami adalah mereka bisa pulang dan menjalani masa kanak-kanak yang normal, sehat, dan aman," kata Sara Rashdan, dari Syria Response Office.

"Kami telah melihat banyak perubahan perilaku. Dulu, kami sering melihat mereka menggambar kehancuran, pemboman, dan perang... tapi sekarang kami melihat mereka menggambar lebih banyak citra positif tentang kebahagiaan, bunga, dan rumah."

Namun, tidak jelas bagaimana anak-anak ini bisa keluar dari kamp, atau bagaimana masa depan mereka.

Beberapa negara Barat memandang istri pejuang asing ISIS sebagai ancaman keamanan.

Banyak perempuan menyangkal bahwa mereka adalah ancaman keamanan. Namun mereka juga enggan untuk membahas korban ISIS — ribuan perempuan Yazidi yang diperbudak oleh kelompok tersebut, atau yang dianggap sebagai musuh ISIS, juga mereka yang dianggap sesat, atau dibunuh saat melawan kelompok tersebut.

Umumnya para perempuan ini berkata bahwa mereka tidak melihat tindak kekerasan dalam propaganda ISIS.

Meskipun tinggal di "kekhalifahan", banyak yang mengaku tidak menyadari adanya pemenggalan kepala, pembantaian, dan genosida yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Ini adalah lagu lama dari mereka yang bergabung dengan ISIS dan sebagian besar argumen tersebut tidak bisa diperiksa kebenarannya.

Mereka terputus dari dunia luar dan hanya sedikit yang mengerti bagaimana mereka dipandang di negara asal mereka.

Beberapa negara Eropa seperti Swedia, Jerman, dan Belgia memulangkan sejumlah ibu dan anak mereka.

Tetapi dengan situasi yang memburuk di kamp-kamp, pihak berwenang Kurdi mendesak lebih banyak negara untuk memulangkan warganya.

"Ini adalah masalah internasional tetapi komunitas internasional tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka," kata Dr Omar. "Jika terus seperti ini, kita akan menghadapi bencana yang tak bisa kita tangani."


Anda mungkin tertarik menonton video ini:

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow

Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow

Your Say | Minggu, 01 Maret 2026 | 17:00 WIB

Harapan Kecil untuk Tetap Hidup dalam Novel As Long as the Lemon Trees Grow

Harapan Kecil untuk Tetap Hidup dalam Novel As Long as the Lemon Trees Grow

Your Say | Jum'at, 17 Oktober 2025 | 09:54 WIB

Di Bawah Presiden Baru, Suriah Ingin Belajar Islam Moderat dan Pancasila dari Indonesia

Di Bawah Presiden Baru, Suriah Ingin Belajar Islam Moderat dan Pancasila dari Indonesia

News | Kamis, 09 Oktober 2025 | 22:46 WIB

Kuwait Batal Hadapi Timnas Indonesia Malah Lawan Suriah, Erick Thohir Geleng-geleng

Kuwait Batal Hadapi Timnas Indonesia Malah Lawan Suriah, Erick Thohir Geleng-geleng

Bola | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 16:30 WIB

Akhir Era Assad: Gelombang Kepulangan Pengungsi Suriah Dimulai

Akhir Era Assad: Gelombang Kepulangan Pengungsi Suriah Dimulai

Video | Sabtu, 16 Agustus 2025 | 12:05 WIB

Israel Serang Ibu Kota Suriah, Sempat Kirim Peringatan ke Pemerintah

Israel Serang Ibu Kota Suriah, Sempat Kirim Peringatan ke Pemerintah

News | Kamis, 17 Juli 2025 | 08:09 WIB

Timur Tengah Memanas: Isreal Serang Kementerian Pertahanan Suriah

Timur Tengah Memanas: Isreal Serang Kementerian Pertahanan Suriah

News | Rabu, 16 Juli 2025 | 21:45 WIB

Israel Ancam Suriah: Campur Tangan Turki Jadi Alasan Utama?

Israel Ancam Suriah: Campur Tangan Turki Jadi Alasan Utama?

News | Jum'at, 04 April 2025 | 18:35 WIB

Israel Invasi Suriah! 9 Tewas, Dunia Diminta Bertindak

Israel Invasi Suriah! 9 Tewas, Dunia Diminta Bertindak

News | Kamis, 03 April 2025 | 18:02 WIB

Suriah Terjebak Krisis Paling Serius di Dunia: 16,5 Juta Orang Butuh Bantuan Mendesak

Suriah Terjebak Krisis Paling Serius di Dunia: 16,5 Juta Orang Butuh Bantuan Mendesak

News | Sabtu, 22 Maret 2025 | 13:43 WIB

Terkini

Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang karena Dukung Iran

Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang karena Dukung Iran

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:31 WIB

Kecelakaan KRL Bekasi, Media Asing Sorot RI Banyak Pakai Armada Transportasi Umum Kurang Terawat

Kecelakaan KRL Bekasi, Media Asing Sorot RI Banyak Pakai Armada Transportasi Umum Kurang Terawat

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:30 WIB

KAI Pastikan Tanggung Biaya Pengobatan hingga Pemakaman Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

KAI Pastikan Tanggung Biaya Pengobatan hingga Pemakaman Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:29 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz, Jutaan Nyawa di Afrika dan Asia Terancam Kelaparan

Blokade AS di Selat Hormuz, Jutaan Nyawa di Afrika dan Asia Terancam Kelaparan

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:17 WIB

Tabrakan Maut Bekasi Timur Disorot MTI: Efek Domino hingga Dugaan Kelalaian Masinis

Tabrakan Maut Bekasi Timur Disorot MTI: Efek Domino hingga Dugaan Kelalaian Masinis

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:15 WIB

Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Datangi RSUD Pagi Ini

Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Datangi RSUD Pagi Ini

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:08 WIB

Pojokkan AS, Iran Tawarkan Barter Selat Hormuz demi Akhiri Perang

Pojokkan AS, Iran Tawarkan Barter Selat Hormuz demi Akhiri Perang

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:06 WIB

Kasus Andrie Yunus Disebut Terorisme Negara, Rakyat Tolak 'Sandiwara' Peradilan Militer

Kasus Andrie Yunus Disebut Terorisme Negara, Rakyat Tolak 'Sandiwara' Peradilan Militer

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:00 WIB

Dirut KAI Pastikan Tak Ada Pegawai Jadi Korban dalam Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Dirut KAI Pastikan Tak Ada Pegawai Jadi Korban dalam Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 08:51 WIB

Saksi Mata Kecelakaan KRL Bekasi ke Media Asing: Semua Terjadi Sekejap Mata

Saksi Mata Kecelakaan KRL Bekasi ke Media Asing: Semua Terjadi Sekejap Mata

News | Selasa, 28 April 2026 | 08:50 WIB