alexametrics

China Akan Bikin UU yang Menghukum Orangtua jika Anaknya Nakal

Reza Gunadha | Rima Suliastini
China Akan Bikin UU yang Menghukum Orangtua jika Anaknya Nakal
Ilustrasi anak-anak (shutterstock)

RUU ini juga mendesak orangtua agar mengatur waktu bagi anak-anak untuk istirahat, bermain dan olahraga.

Suara.com - Parlemen China mempertimbangkan untuk menghukum orangtua jika anak-anak mereka menunjukkan "perilaku yang sangat buruk" atau melakukan kejahatan.

Menyadur Channel News Asia Selasa (19/10/2021), pertimbangan ini akan dituangkan dalam rancangan undang-undang pendidikan keluarga.

Wali akan ditegur dan diperintahkan menjalani program pembinaan pendidikan keluarga jika jaksa menemukan perilaku yang sangat buruk atau kriminal pada anak di bawah asuhannya.

"Ada banyak alasan bagi remaja untuk berperilaku tidak baik seperti pendidikan keluarga yang tidak tepat," kata Zang Tiewei, juru bicara Komisi Urusan Legislatif di bawah Kongres Rakyat Nasional (NPC).

Baca Juga: Lembaga AS Unggah Utang Tersembunyi RI Pada China, Stafsus Menkeu: Tidak Disembunyikan

Rancangan undang-undang ini juga mendesak orangtua agar mengatur waktu bagi anak-anak untuk istirahat, bermain dan olahraga.

Ilustrasi anak-anak berkelahi (Shutterstock).
Ilustrasi anak-anak menunjukkan perilaku buruk. (Shutterstock).

Beijing telah menjalankan peran ayah yang lebih tegas tahun ini, mulai dari mengatasi kecanduan anak-anak hingga game online, yang dianggap sebagai bentuk candu spiritual.

Orangtua juga berperan penting untuk mengarahkan anak agar tak memuja selebritas Internet secara berlebihan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kementerian pendidikan telah membatasi jam bermain game untuk anak di bawah umur, di mana mereka bisa main game online selama satu jam pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu saja.

Sementara itu untuk mengurangi beban akademik pada anak-anak, mereka dilarang mengikuti les pelajaran utama selama libur akhir pekan.

Baca Juga: Lembaga AS Ungkap Utang Tersembunyi Indonesia ke China Rp488 Triliun, Ternyata Dari BUMN

Lalu dalam "Usulan untuk Mencegah Feminisasi Remaja Laki-Laki" yang dikeluarkan bulan Desember, kementerian pendidikan mendesak sekolah untuk mempromosikan olahraga di kampus seperti sepak bola.

Komentar