Pengakuan Tahanan yang Bocorkan 1.000 Video Penyiksaan di Penjara

Siswanto | BBC | Suara.com

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 09:44 WIB
Pengakuan Tahanan yang Bocorkan 1.000 Video Penyiksaan di Penjara
BBC

Suara.com - Sergey Savelyev tidak terlihat seperti seseorang yang menghabiskan delapan tahun di penjara Rusia dan diam-diam mengumpulkan video penyiksaan dan pemukulan terhadap para narapidana.

Warga Belarusia berusia 31 tahun itu bertubuh kurus. Dia mengaku untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia bisa tidur dengan sedikit lebih nyenyak.

Savelyev belakangan mencari suaka di Prancis, setelah melarikan diri dari Rusia karena mencemaskan keselamatannya.

Dia sekarang dengan bebas mengakui bahwa dia adalah pelapor yang menyerahkan lebih dari 1.000 video ke kelompok hak asasi manusia Rusia, Gulagu.net.

Berbagai video, yang diperolehnya saat bekerja di kantor penjara selama masa hukumannya, memicu kecaman publik Rusia awal bulan ini.

Namun otoritas Rusia sejak itu menyatakan telah memulai penyelidikan atas dugaan penyiksaan dan serangan seksual di penjara. Mereka juga mengklaim sudah memecat beberapa pejabat senior penjara.

Gulagu.net menyebut video-video tersebut tidak hanya mendokumentasikan pemukulan, pemerkosaan, dan penghinaan terhadap narapidana, tapi juga membuktikan pelecehan yang endemik di dalam sistem penjara.

BBC telah mengajukan konfirmasi kepada otoritas penjara Rusia, tapi belum mendapatkan jawaban.

Pilihan antara hidup dan mati

Savelyev mulai membagi video kepada aktivis hak asasi manusia setelah dia dibebaskan Februari lalu. Selama beberapa bulan, dia menyerahkan ratusan video kepada mereka.

September lalu, dia dihentikan di bandara St Petersburg saat hendak terbang ke Novosibirsk. Di pendaftaran penumpang, sekelompok laki-laki berpakaian sipil mengajukan beragam pertanyaan kepadanya.

Mereka mengatakan bahwa mereka tahu semua tentang korespondensinya dengan Vladimir Osechkin, kepala Gulagu.net.

"Mereka berkata kepada saya bahwa mereka telah mengawasi saya selama enam bulan," kata Savelyev.

"Mereka mengancam akan menyingkirkan saya karena pengkhianatan selama 20 tahun."

Savelyev menyebut orang-orang itu memperingatkannya bahwa dia akan "mati dengan sangat cepat" di penjara.

"Pertama, Anda akan mengakui semuanya dan kemudian Anda akan ditemukan tewas di sel," ujarnya mengulangi perkataan sekelompok orang tersebut.

Namun Savelyev juga diberitahu dia dapat bekerja sama untuk mengikuti penyelidikan dan mengakui bahwa dia disiapkan untuk mengumpulkan bukti "mendiskreditkan sistem penjara Rusia" oleh Gulagu.net "yang didanai asing".

Jika mengikuti opsi itu, Savelyev berkata dia hanya akan dipenjara selama empat tahun.

"Pilihan sebenarnya adalah antara hidup dan mati. Saya memilih hidup," kata Savelyev.

Savelyev menandatangani beberapa surat persetujuan untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dan diizinkan untuk pergi.

"Mereka mungkin mengira saya tidak akan berani melarikan diri," ujarnya. Tapi dia akhirnya kabur dari Rusia.

Dia naik minibus dari Rusia menuju Belarus dan kemudian melakukan perjalanan melalui Tunisia ke Prancis.

Begitu berada di zona transit bandara Charles de Gaulle di Paris, dia meminta bantuan polisi.

'Mereka hanya ingin menghancurkanmu'

Pada tahun 2013, Savelyev dihukum karena pelanggaran terkait narkoba dan dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara.

Savelyev menghindari berbicara hal detail kepada BBC. Dia hanya berkata bahwa kasusnya "sedih dan biasa".

Savelyev dikirim ke penjara di kota Saratov Rusia, terkenal karena tuduhan pelecehan tahanan.

Savelyev menuduh bahwa dia dipukuli habis-habisan begitu dia tiba di penjara. "Mereka menghancurkan Anda hanya untuk menunjukkan siapa bosnya," katanya.

Kemudian Savelyev beruntung karena mendapat tugas yang memungkinkannya menggunakan komputer. Dia dibawa ke kantor penjara untuk mengerjakan urusan administrasi.

"Itu jauh lebih baik daripada menunggu waktu di antara waktu makan dan mencoba untuk menundukkan kepala," katanya.

Salah satu tugasnya adalah melihat rekaman video dari kamera tubuh sipir penjara. Dia menyadari, walau sebagian rekaman tidak hanya mendokumentasikan putaran penjaga, beberapa video lainnya menunjukkan kekerasan terhadap narapidana.

Video itu, kata dia, memperlihatkan adegan kekerasan.

'Anda tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya'

Savelyev menuduh bahwa penyiksaan biasanya dilakukan oleh narapidana "terlatih khusus". Adegan itu direkam pada kamera yang dibagikan oleh para penjaga.

Sebagian tugas Savelyev adalah menghapus video. Namun dia menuding beberapa video kekerasan tadi diserahkan ke otoritas yang lebih tinggi.

Savelyev berkata, dia tidak pernah melihat pelecehan kekerasan semacam ini secara langsung, tapi video tersebut sangat mengejutkannya.

"Kita semua tahu bahwa ada pemukulan dan pemerkosaan di dalam penjara, tapi Anda tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya sampai Anda melihatnya dengan mata kepala sendiri," katanya.

Butuh beberapa waktu bagi Savelyev untuk memahami yang sedang terjadi dan mencari tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

"Saya melihat satu video, lalu satu lagi, lalu yang ketiga dan keempat, yang kelima. Kemudian saya memutuskan untuk mulai menyalinnya," kata Savelyev.

Awalnya, Savelyev tidak memiliki ide yang jelas terkait berbagai video itu. Namun dia tahu dia harus menyimpannya.

Pada tahun 2019 ia memutuskan untuk mengumpulkan video dan kemudian menyerahkannya ke organisasi hak asasi manusia.

Savelyev juga mengaku melihat banyak keluhan yang datang tentang penganiayaan tahanan. Hal itu, kata dia, membuatnya menyadari betapa luasnya skala pelecehan itu.

Pada awal 2021, Savelyev mengetahui Gulagu.net dan mendengar Vladimir Osechkin berbicara di YouTube tentang kekerasan penjara, termasuk di penjara Savely

Hal itu membuat Savelyev menyadari bahwa mungkin ada orang lain yang bekerja di dalam, membocorkan informasi ke LSM. Dia tahu bukti videonya akan berguna juga.

Bagaimanapun, Savelyev menilai otoritas Rusia semestinya tidak hanya memecat beberapa sipir atau memindahkan mereka ke penjara lain.

Savelyev ingin mereka "menjelaskan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan". "Hanya dengan begitu saya akan merasa lebih baik," katanya.ev.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Legislator Golkar Tagih Revisi UU Pemilu: Banyak Putusan MK Mendesak Segera Ditindaklanjuti

Legislator Golkar Tagih Revisi UU Pemilu: Banyak Putusan MK Mendesak Segera Ditindaklanjuti

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:09 WIB

Ketegangan di Yerusalem Meningkat usai Pemasangan Pintu Besi di Kawasan Bersejarah

Ketegangan di Yerusalem Meningkat usai Pemasangan Pintu Besi di Kawasan Bersejarah

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:07 WIB

Di Balik Layar OTT KPK: Membongkar Gurita Sindikasi 'Jatah Preman' Kepala Daerah Lewat Ajudan

Di Balik Layar OTT KPK: Membongkar Gurita Sindikasi 'Jatah Preman' Kepala Daerah Lewat Ajudan

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:06 WIB

Menteri PPPA: Hentikan Normalisasi Candaan Merendahkan Martabat Perempuan

Menteri PPPA: Hentikan Normalisasi Candaan Merendahkan Martabat Perempuan

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:03 WIB

Revisi UU Pemilu Masuk Tahap Awal, Anggota Komisi II DPR Beberkan 10 Isu yang Akan Dikaji

Revisi UU Pemilu Masuk Tahap Awal, Anggota Komisi II DPR Beberkan 10 Isu yang Akan Dikaji

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:50 WIB

22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa

22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:47 WIB

Menkes Budi Bongkar Jutaan Orang Kaya Nikmati Subsidi BPJS: Demi Keadilan Kita Hapus!

Menkes Budi Bongkar Jutaan Orang Kaya Nikmati Subsidi BPJS: Demi Keadilan Kita Hapus!

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:37 WIB

Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia

Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:29 WIB

Rekrutmen Nasional 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Resmi Dibuka, Ini Syaratnya

Rekrutmen Nasional 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Resmi Dibuka, Ini Syaratnya

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:29 WIB

Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal

Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal

News | Rabu, 15 April 2026 | 17:17 WIB