Gempa Swarm: Pengertian dan Penyebabnya

Rifan Aditya

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:10 WIB
Gempa Swarm: Pengertian dan Penyebabnya
Gempa Swarm: Pengertian dan Penyebabnya - Ilustrasi gempa bumi. (Antara).

Suara.com - Istilah gempa swarm tengah santer diberitakan setelah muncul aktifitas kegempaan berkali-kali di wilayah Salatiga dan Ambarawa Jawa Tengah. Lalu apa itu gempa swarm?

Simak penjelasan pengertian dan penyebab gempa swarm dalam ulasan berikut.

Sebelumnya, Kepala Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono dalam cuitannya di akun Twitter pribadi @DaryonoBMKG, Minggu (24/10/2021) menyampaikan, bahwa guncangan gempa yang telah terjadi puluhan kali di Salatiga dan sekitarnya dikategorikan sebagai gempa swarm.

Hasil monitoring BMKG sejak hari Sabtu 23 Oktober 2021 pukul 00.00 WIB dinihari hingga hari Minggu 24 Oktober 2021 pukul 10.00 WIB, sudah tercatat sebanyak 32 kali aktivitas gempa yang terjadi di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga, dan sekitarnya.

Menurut Daryono, ciri-ciri gempa swarm adalah adanya serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian yang sangat tinggi. Biasanya, gempa berlangsung dalam waktu yang relatif lama di suatu kawasan, namun tidak disertai dengan gempa kuat sebagai gempa utama atau mainshock.

Supaya lebih jelas lagi, langsung saja simak ulasan tentang gempa swarm yang telah dirangkum berikut ini. 

Pengertian Gempa Swarm

Mengutip informasi di akun Twitter BMKG, gempa swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat sering dan relatif lama di suatu kawasan. Gempa swarm terjadi tanpa adanya gempa utama (mainshock).

Pada kejadian gempa yang biasa dipahami oleh masyarakat awam, umumnya gempa utama lebih besar kekuatannya dibandingkan gempa susulan. Karena aktivitasnya yang terus menerus, maka gempa swarm jarang menimbulkan kerusakan. Apabila gempa swarm ditemukan di wilayah pesisir pantai, maka efek guncangannya tak akan menimbulkan tsunami.

baca juga

Apa Beda Gempa Swarm dan Gempa Susulan?

Lantas, apa beda gempa swarm dengan gempa susulan?  Menurut situs badan Survei Geologi Amerika Serikat, USGS, gempa susulan merupakan rangkaian gempa yang terjadi setelah gempa utama yang lebih besar pada sebuah patahan.

Gempa susulan ini terjadi di dekat zona patahan di lokasi gempa utama terjadi, dan merupakan bagian dari "proses penyesuaian" setelah slip utama pada patahan. Kemudian gempa susulan menjadi lebih jarang seiring waktu, meskipun mereka dapat berlanjut selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk mainshock yang sangat besar. 

Di sisi lain, adalah urutan sebagian besar gempa bumi kecil tanpa adanya mainshock yang dapat diidentifikasi. Rangkaian gempa ini biasanya berumur pendek, tetapi dapat berlanjut selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau kadang-kadang bahkan hingga berbulan-bulan.

Gempa ini sering berulang terjadi di lokasi yang sama. Sebagian besar gempa yang dikenal sebagai gempa swarm atau gempa kawanan ini terkait dengan adanya aktivitas panas bumi.

Penyebab Gempa Swarm

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dampak Gempa Bumi 41 Ruangan di RSUD Ambarawa Retak

Dampak Gempa Bumi 41 Ruangan di RSUD Ambarawa Retak

Foto | Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:07 WIB

Gempa Berkekuatan Magnitudo 3,2 SR Goyang Bantul dan Sekitarnya

Gempa Berkekuatan Magnitudo 3,2 SR Goyang Bantul dan Sekitarnya

Jogja | Selasa, 26 Oktober 2021 | 07:17 WIB

Gempa Salatiga dan Ambarawa, Ganjar Pranowo Minta Masyarakat Tidak Usah Takut

Gempa Salatiga dan Ambarawa, Ganjar Pranowo Minta Masyarakat Tidak Usah Takut

Jawa Tengah | Senin, 25 Oktober 2021 | 17:46 WIB

Terkini

Sekuritas Terafiliasi Pandu Sjahrir Setop Transaksi, Nasabah Tak Bisa Jual-Beli Saham

Sekuritas Terafiliasi Pandu Sjahrir Setop Transaksi, Nasabah Tak Bisa Jual-Beli Saham

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 12:17 WIB

Pemutihan Pajak Kendaraan di Sumut Berlangsung Selama November 2026, Ini Kemudahan yang Diberikan

Pemutihan Pajak Kendaraan di Sumut Berlangsung Selama November 2026, Ini Kemudahan yang Diberikan

News | Rabu, 04 November 2026 | 12:15 WIB

Persija Gagal Kalahkan PSMS, Asisten Shin Tae-yong Akui Anak Asuhnya Kewalahan

Persija Gagal Kalahkan PSMS, Asisten Shin Tae-yong Akui Anak Asuhnya Kewalahan

Bola | Rabu, 04 November 2026 | 12:12 WIB

Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja

Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja

News | Rabu, 04 November 2026 | 12:10 WIB

Skandal Penyadapan Prabowo: Mendesak Penataan Ulang Kuasa Intelijen agar Tak Jadi Senjata Politik

Skandal Penyadapan Prabowo: Mendesak Penataan Ulang Kuasa Intelijen agar Tak Jadi Senjata Politik

News | Rabu, 04 November 2026 | 12:09 WIB

Bobby Nasution Percepat Pembangunan Kawasan Pertanian Langkat, Irigasi 7,5 Km Dibangun 2027

Bobby Nasution Percepat Pembangunan Kawasan Pertanian Langkat, Irigasi 7,5 Km Dibangun 2027

News | Rabu, 04 November 2026 | 12:08 WIB

Listyo Sigit Prabowo Siapanya Prabowo? Heboh Kasus Penyadapan Presiden

Listyo Sigit Prabowo Siapanya Prabowo? Heboh Kasus Penyadapan Presiden

News | Rabu, 04 November 2026 | 12:08 WIB

Biaya Trading Emas Diam-Diam Membengkak, Ini Biang Keroknya

Biaya Trading Emas Diam-Diam Membengkak, Ini Biang Keroknya

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 12:06 WIB

Suahasil Umumkan Pendapatan Negara Tembus Rp 2.341,5 T di Q3 2026, Belanja Negara Rp 2.660,5 T

Suahasil Umumkan Pendapatan Negara Tembus Rp 2.341,5 T di Q3 2026, Belanja Negara Rp 2.660,5 T

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 12:05 WIB

BYD Kalahkan Dominasi Merek Jepang di Kalangan Gen Z

BYD Kalahkan Dominasi Merek Jepang di Kalangan Gen Z

Otomotif | Rabu, 04 November 2026 | 12:05 WIB

×