facebook

Miris! Kena Jerat Pemburu Liar, Bayi Gajah Ini Kehilangan Separuh Belalai

Bangun Santoso
Miris! Kena Jerat Pemburu Liar, Bayi Gajah Ini Kehilangan Separuh Belalai
Tim Dokter hewan BKSDA Aceh melakukan proses perawatan dan pengobatan gajah liar yang terjerat di klinik pengobatan Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Gajah betina berusia satu tahun itu adalah salah satu dari 700 gajah liar di Pulau Sumatera

Suara.com - Nasib pilu menumpa seekor bayi gajah di Alue Meuraksa, Aceh Jaya, terpaksa diamputasi separuh belalainya setelah terjebak dalam perangkap yang menurut aparat berwenang dipasang oleh sekelompok pemburu liar yang memburu spesies yang terancam punah itu.

Gajah betina berusia satu tahun itu adalah salah satu dari 700 gajah liar di Pulau Sumatera. Ketika ditemukan pada hari Minggu (14/11/2021) kondisi gajah kecil ini sangat lemah, dengan jerat yang masih menancap di belalai yang hampir putus.

Melansir laman VOA Indonesia, Selasa (16/11/2021), Kepala Badan Konservasi Propinsi Aceh, Agus Arianto mengatakan gajah naas itu ditemukan di desa yang diselimuti hutan di Alue Meuraksa, di kabupaten Aceh Jaya.

“Jerat ini jelas untuk memburu hewan langka itu dengan tujuan untuk mendapatkan uang,” ujar Arianto dalam sebuah pernyataan. “Kami akan bekerjasama dengan lembaga penegak hukum dalam penyelidikan kasus ini,” tambahnya.

Baca Juga: Kasihan, Belalai Anak Gajah Hampir Putus Terkena Jerat di Aceh

Petugas memperlihatkan belalai anak gajah liar yang terkena jerat di klinik Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Petugas memperlihatkan belalai anak gajah liar yang terkena jerat di klinik Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Lebih jauh Arianto mengatakan anak gajah itu tampaknya tertinggal dari kawanannya setelah terjebak perangkap – diduga oleh para pemburu liar – dan kondisinya semakin memburuk. Para petugas satwa liar, tambahnya, terpaksa mengamputasi separuh belalai gajah malang itu pada hari Senin (15/11) guna menyelamatnya nyawanya.

Mereka yang memperjuangkan kelestarian alam mengatakan pandemi virus corona telah memicu peningkatan perburuan liar di Sumatera, ketika warga desa beralih pekerjaan menjadi pemburu karena alasan ekonomi.

Juli lalu seekor gajah ditemukan tanpa kepala di sebuah perkebunan kelapa sawit di Aceh Timur. Polisi telah menangkap tersangka pemburu liar bersama empat orang lainnya yang dituduh membeli gading gajah yang sudah mati itu. Sidang pengadilan mereka masih berlangsung. Jika terbukti bersalah mereka akan dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Menurut Arianto, sembilan tahun terakhir ini jumlah gajah Sumatra yang mati akibat dijerat dan diracun di kabupaten Aceh Timur saja mencapai 25 ekor.

Anak gajah liar betina yang terkena jerat berada di klinik pengobatan sebelum proses pengobatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Anak gajah liar betina yang terkena jerat berada di klinik pengobatan sebelum proses pengobatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Persatuan Internasional Untuk Konservasi Alam IUCN telah menaikkan status gajah Sumatra dari “terancam punah” menjadi “sangat terancam punah” dalam Daftar Merah 2012, sebagian besar karena penurunan populasi yang signifikan, yaitu hilangnya lebih dari 69% gajah dari populasinya dalam 25 tahun terakhir ini – atau berarti setara dengan satu generasi.

Baca Juga: BKPH Bersama Warga Jaga-jaga Usai Anak Gajah Terjerat di Aceh Jaya

Data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia menunjukkan populasi gajah Sumatra telah turun drastis dari 1.300 ekor pada tahun 2014, menjadi 693 ekor pada tahun 2021 ini – atau turun hampir 50% dalam tujuh tahun terakhir ini.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar